Dragon Ball, Kamehame belasan tahun lalu
Merdeka.com - "Kaamee Haa..." Seketika cahaya putih keluar dari kedua pangkal telapak tangan yang membentuk seperti mulut singa sedang meraung. Dengan kuda-kuda sempurna, gerakan lamban tangan ke kiri dan kanan, membuat cahaya putih membesar hingga seukuran bola kaki. "Meee" teriakan yang secepat kilat diikuti muntahan aji pamungkas melaju cepat menghantam tubuh musuh. "Duaarr" bunyi pertanda musuh kalah, hancur berkeping-keping.
Begitulah penggalan cerita detik-detik pertarungan yang dimenangkan Son Goku dalam manga dan anime Jepang Dragon Ball. Kisah dan pertarungannya selalu menarik dan mendebarkan.
Komik fiksi karangan Akira Toriyama ini dibuat sekitar tahun 1984 sampai 1995, terdiri dari 42 buku dengan dua penerbit, Rajawali Grafiti dan dilanjut oleh Elex Media Komputindo. Dragon Ball sukses besar di Indonesia, terutama saat film kartunnya ditayangkan secara berkala oleh salah satu TV swasta sekitar tahun 1996.
Durasinya yang hanya setengah jam, padahal di awal penayangan satu jam, membuat Dragon Ball menjadi salah satu kartun lintas generasi, karena masih ditayangkan hingga hari ini.
Tak ada perdebatan memang kalau soal alur cerita. Justru yang menarik dari kartun ini adalah kenangan perjuangan mereka yang hidup di era 1990-an, agar bisa stay tune tiap hari Minggu, mengikuti tiap episode Dragon Ball.
Mawar, salah satu karyawan swasta di Jakarta ini menceritakan hal itu. Dia tak pernah melewatkan satu episode pun kisah petualang Son Goku dan teman-temannya dalam mengumpulkan tujuh bola naga.
"Selalu nonton, ngikuti semua episodenya," kata Mawar saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (5/12).
Paling seru, lanjutnya, nonton Dragon Ball bersama teman-teman. Selain rame, seru, juga terkadang ada yang spontan ikut mempraktikkan jurus Son Goku. Alhasil, aksi tersebut pernah berujung kelahi.
"Ada yang sampai kelahi gara-gara praktikkin jurusnya Goku," terangnya.
Tak cuma mengikuti di TV, Mawar juga mengoleksi komik serial Dragon Ball. Hingga kini koleksinya masih tersimpan rapi di rumah.
Jika Mawar menceritakan kenangannya nonton Dragon Ball yang notabene dia libur sekolah hari Minggu, beda dengan temannya yang masih satu kantor.
"Dulu saya butuh perjuangan banget buat nonton Dragon Ball," ujar teman Mawar yang enggan disebut nama.
Dia menceritakan, buat nonton film kartun di hari Minggu, dia harus berjuang ekstra keras. Maklum semasa kecil, dia sekolah di swasta yang liburnya hari Jumat.
Agar bisa terus mengikuti serial Dragon Ball, jelang istirahat pukul 09.00 WIB, tak jarang dia berlari ke rumah warga paling dekat dengan sekolahan, alasan izin ke toilet. Meski usahanya sering berbuah pahit, karena sampai ke tujuan disambut dengan lagu closing Dragon Ball, tanda berakhirnya film.
"Beruntung walau cuma bisa lihat satu segmen," tutupnya.
Serial Dragon Ball memang memberi warna sendiri di kehidupan generasi 1990-an. Mereka memiliki banyak cara untuk menggugah lagi kenangan masa kecil soal keseruan menonton Dragon Ball. Di antaranya dengan membentuk komunitas, koleksi tokoh-tokoh, komik dan tentu saya videonya.
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya