DLH Mataram Uji Coba 'Tempah Dedoro', Solusi Inovatif Pengolahan Sampah Organik Mataram

Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram menguji coba sistem 'tempah dedoro' untuk Pengolahan Sampah Organik Mataram, berhasil mengurangi volume sampah secara signifikan dan berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
DLH Mataram Uji Coba 'Tempah Dedoro', Solusi Inovatif Pengolahan Sampah Organik Mataram
Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram menguji coba sistem 'tempah dedoro' untuk Pengolahan Sampah Organik Mataram, berhasil mengurangi volume sampah secara signifikan dan berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan. (AntaraNews)

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, telah memulai uji coba inovatif dalam upaya penanganan sampah organik. Sistem yang diberi nama "tempah dedoro" ini merupakan tempat khusus untuk sampah organik, dirancang untuk mendorong masyarakat mengelola sampahnya secara mandiri di lingkungan masing-masing.

Uji coba sistem "tempah dedoro" ini pertama kali diterapkan di Lingkungan Marong Karang Tatah, Mataram, dan telah berjalan sekitar dua bulan terakhir. Inisiatif ini dipimpin langsung oleh Kepala DLH Kota Mataram, H Nizar Denny Cahyadi, sebagai bagian dari strategi kota untuk mengatasi permasalahan sampah.

Tujuan utama dari program ini adalah mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan keberhasilan awal, "tempah dedoro" diharapkan dapat menjadi solusi penanganan sampah perkotaan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi Kota Mataram.

Pelaksanaan uji coba "tempah dedoro" di Lingkungan Marong Karang Tatah menunjukkan hasil yang sangat positif. Evaluasi menunjukkan adanya pengurangan signifikan pada volume sampah organik yang dibuang oleh masyarakat.

Sebelumnya, volume sampah harian yang dibuang mencapai 180 kilogram, namun setelah adanya "tempah dedoro", jumlah tersebut berkurang drastis menjadi hanya 80 kilogram yang masuk ke TPS. Ini berarti 100 kilogram sampah organik warga di lingkungan tersebut kini langsung diolah di dalam "tempah dedoro".

Sampah organik yang diolah ini kemudian diubah menjadi pupuk organik yang bermanfaat. Pupuk hasil olahan tersebut dapat dimanfaatkan oleh warga untuk menutrisi tanaman di pekarangan rumah mereka, menciptakan siklus pengelolaan limbah yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah.

Sistem "tempah dedoro" dirancang sederhana namun efektif, menggunakan buis beton dengan penutup dan lubang khusus untuk membuang sampah organik. Desain ini memungkinkan masyarakat untuk mengolah sampah organik secara mandiri di rumah atau lingkungan masing-masing.

Untuk mengatasi aroma tidak sedap dari sampah organik dan sisa makanan, masyarakat dapat menyemprotkan cairan EM4. Cairan ini juga berfungsi untuk mempercepat proses penguraian sampah. Alternatif lain yang lebih mudah didapatkan adalah menggunakan air bekas cucian beras.

Setelah proses penguraian selesai, masyarakat bisa memanen kompos yang dihasilkan. Kompos ini menjadi pupuk alami yang kaya nutrisi, sangat baik untuk kesuburan tanaman. Dengan demikian, "tempah dedoro" tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga mendukung praktik pertanian urban.

Melihat keberhasilan uji coba ini, DLH Kota Mataram kini tengah menyiapkan program serupa untuk dikembangkan di 50 kelurahan lainnya di Kota Mataram. Tahap awal akan fokus pada pengembangan satu "tempah dedoro" di setiap lingkungan, dengan target akhir sebanyak 325 lingkungan di seluruh Kota Mataram.

Program ini diharapkan menjadi solusi signifikan dalam penanganan sampah kota, mengingat volume sampah harian di Kota Mataram mencapai 220-230 ton, dengan sebagian besar atau sekitar 60 persen di antaranya merupakan sampah organik. Sementara itu, 40 persen sampah anorganik juga telah diolah menjadi batako di TPST modern Sandubaya dan Mataram Maggot Center.

DLH akan segera berkoordinasi dengan aparat kelurahan dan lingkungan untuk pengembangan lebih lanjut. Bahkan, untuk lingkungan yang padat, "tempah dedoro" dapat ditempatkan di jalan dan berfungsi ganda sebagai resapan air, menambah manfaat ekologisnya. Harapannya, program ini dapat menjadi model penanganan sampah perkotaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi