Disdik Mataram Belum Terima Laporan Sekolah Banjir di Puncak Musim Hujan

Dinas Pendidikan Kota Mataram menyatakan belum menerima laporan sekolah banjir hingga puncak musim hujan tahun ini, menunjukkan keberhasilan upaya pencegahan dan perbaikan infrastruktur.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Disdik Mataram Belum Terima Laporan Sekolah Banjir di Puncak Musim Hujan
Hingga puncak musim hujan tahun ini, Dinas Pendidikan Kota Mataram belum menerima laporan sekolah banjir Mataram. Kondisi ini berkat upaya penataan infrastruktur dan antisipasi yang telah dilakukan secara proaktif. (AntaraNews)

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengumumkan bahwa hingga puncak musim hujan tahun ini, belum ada laporan mengenai sekolah yang terdampak banjir. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Disdik Kota Mataram, Yusuf, pada Sabtu (17/1). Situasi positif ini menandakan adanya perbaikan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang seringkali dilanda banjir.

Yusuf mengungkapkan rasa syukurnya atas kondisi tersebut, mengingat intensitas hujan yang tinggi dan terjadi secara terus-menerus seringkali menyebabkan Disdik menerima banyak laporan. Biasanya, beberapa fasilitas pendidikan tergenang bahkan hingga mengalami banjir parah. Keberhasilan ini tidak lepas dari berbagai upaya penataan yang telah dilakukan secara berkelanjutan.

Pihak Disdik Kota Mataram optimistis bahwa perbaikan infrastruktur yang telah dilaksanakan sebelumnya cukup efektif dalam menjaga keamanan fasilitas pendidikan. Penataan ini dilakukan setelah setiap kejadian banjir, dengan asesmen mendalam untuk perbaikan infrastruktur sekolah yang terdampak. Hal ini menunjukkan komitmen Disdik dalam melindungi aset pendidikan.

Kondisi saat ini, di mana tidak ada laporan sekolah banjir, kemungkinan besar terjadi karena berbagai upaya penataan yang komprehensif. Setiap kali ada sekolah yang terdampak banjir, Disdik segera melakukan asesmen. Proses ini bertujuan untuk merencanakan penataan dan perbaikan infrastruktur sekolah secara tepat sasaran.

Beberapa sekolah yang sebelumnya menjadi langganan banjir, seperti SDN 45 dan sekolah di kawasan Karang Buaya, kini sudah mulai membaik. Tidak ada lagi laporan signifikan mengenai dampak banjir di lokasi-lokasi tersebut. Pencapaian ini menjadi indikator keberhasilan intervensi yang telah dilakukan.

Kendati demikian, sebagai langkah antisipasi bencana banjir di sekolah, Disdik tetap mengimbau. Sekolah-sekolah yang berada di area rawan banjir, terutama yang berlokasi di dekat bantaran sungai, diminta untuk aktif melakukan gotong royong. Budaya gotong royong ini sangat penting untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Kepala Disdik menekankan pentingnya memastikan tidak ada got-got yang tersumbat di lingkungan sekolah. Terutama bagi sekolah yang dekat dengan bantaran sungai, kebersihan saluran air harus selalu terjaga. Hal ini menjadi kunci utama dalam mencegah genangan air dan banjir.

Selain imbauan gotong royong, beberapa upaya fisik juga telah dilakukan oleh pihak sekolah untuk meminimalkan dampak luapan air hujan. Salah satu inovasi penting adalah pembuatan sumur resapan. Dengan adanya sistem peresapan air yang lebih baik, sekolah-sekolah yang rawan banjir kini memiliki mekanisme penanganan air yang efektif.

Upaya lain yang terbukti efektif adalah peninggian halaman sekolah. Contoh nyata terlihat di SDN 45 Ampenan dan sekolah di kawasan Karang Buaya. Halaman sekolah-sekolah tersebut telah ditinggikan secara signifikan. Ini dilakukan untuk mencegah air masuk ke area aktivitas siswa saat terjadi hujan lebat.

Yusuf menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama sekolah-sekolah tersebut menjadi langganan banjir sebelumnya adalah karena halaman sekolah lebih rendah dari jalan. Dengan peninggian ini, masalah elevasi yang menjadi pemicu banjir dapat diatasi. Solusi ini bersifat jangka panjang dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, upaya pembangunan gedung baru juga disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Gedung-gedung baru dibangun dengan posisi yang lebih tinggi, mengikuti level halaman dan jalan yang baru. Pendekatan ini memastikan bahwa infrastruktur baru sudah tahan terhadap potensi genangan air.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi