Diputar di Singapura, film tentang Wiji Tukul ditonton 100 akademisi

Selasa, 11 Oktober 2016 01:30 Reporter : Rimba
Diputar di Singapura, film tentang Wiji Tukul ditonton 100 akademisi Wiji Tukul. ©istimewa

Merdeka.com - Film pendek berdurasi 16 menit yang menceritakan sisi lain keluarga penyair Wiji Thukul sukses diputar di Malay Heritage Center Singapura, 8 Oktober, pekan lalu. Para pembuat film ini diundang oleh National University Singapore (NUS) dalam forum bertajuk, Bahasa Thukul dan Wiji Melawan.

"Ini film pendek fiksi yang berjudul Bunga dan Tembok. Bercerita tentang sisi lain keluarga Wiji Thukul," ujar sutradara film tersebut, Eden Junjung, Senin, (10/10), di Yogyakarta.

Eden Junjung mengaku mendapat ide film karyanya berawal dari sebuah tweet milik anak dari Wiji Thukul yakni Fajar Merah. Isi Tweet putra semata wayang Wiji Thukul itu menyatakan bahwa, sesungguhnya yang membunuh Wiji Thukul adalah ibunya sendiri.

"Fajar pernah ngetweet bahwa yang membunuh ayahnya adalah ibunya. Tweet ini cukup mengagetkan dunia medsos," ujarnya.

Penyair sekaligus aktivis, Wiji Thukul diketahui hilang pada 1996. Hilangnya sang penyair menambah panjangnya deretan nama orang hilang dalam hiruk pikuk peristiwa reformasi 1998 di Indonesia.

Eden Junjung menjelaskan lebih lanjut, tweet kontroversi dari putra Wiji Thukul ternyata dimaksudkan saat si Pon (istri Wiji Thukul) terpaksa membuat surat kematian atas suaminya. Surat kematian tersebut menjadi syarat pinjaman uang demi menyambung hidup keluarga si Pon yang harus menghidupi anak-anaknya.

"Istri Wiji Thukul terpaksa membuat surat kematian karena menjadi persyaratan pinjaman uang. Padahal pada waktu itu keluarga masih meyakini bahwa Wiji Thukul belum meninggal," jelas Eden Junjung.

Sepenggal kisah pembuatan surat kematian Wiji Thukul yang difilmkan tersebut mendapat apresiasi masyarakat Singapura. Eden Junjung menerangkan, sekitar 100 akademisi dan sastrawan hadir dalam pemutaran perdana film ini.

"Yang datang dalam pemutaran film adalah akademisi dan sastrawan. Mereka sangat mengenal riwayat hidup Wiji Thukul," cerita Eden Junjung.

Film Bunga dan Tembok ini nantinya juga akan diputar di Indonesia pada November di Kine forum, Jakarta. Ia juga berharap dengan hadirnya film pendek tersebut dapat mengingatkan kembali akan tanggung jawab negara dalam menuntaskan kasus orang hilang pada massa reformasi 1998.

"Negara ini tidak menganggap mereka (korban dan keluarga korban orang hilang) itu ada dan tidak mau menindaklanjuti secara serius," imbuh Eden Junjung. [tyo]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini