Di pesantren, Menhan tegaskan tak mau RI kalah di persaingan modernisasi
Merdeka.com - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mendatangi Pondok Pesantren Al Hikam di Beji Depok. Kehadiran Ryamizard dalam rangka acara Halaqah Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara.
Sebelum berbicara di depan peserta, Menhan menyempatkan ziarah ke makam pendiri Ponpes Al Hikam, KH Hasyim Muzadi. Di makam yang ada di area ponpes itu, Menhan sempat berdoa. Setelah itu Menhan bergabung dengan peserta dan pembicara lainnya.
Dalam sambutannya Menhan mengatakan, bangsa Indonesia memerlukan semangat dan kesadaran bela negara dalam menghadapi derasnya fenomena persaingan mempertahankan eksistensi suatu bangsa dalam era globalisasi baru. Era globalisasi baru yang dimaksud merupakan konsekuensi logis dari pola perubahan akibat proses modernisasi yang sarat dengan pola persaingan Ekonomi antar bangsa serta saling ketergantungan satu dengan yang lain.
"Di mana bentuk persaingan yang dinamis ini dapat berdampak terhadap perubahan sistem politik, hukum, mental dan budaya, serta penghayatan terhadap ideologi suatu bangsa," katanya, Selasa (30/10).
Menhan melanjutkan, dirinya tidak ingin Indonesia kalah dan gagal dalam persaingan modernisasi. Karena hal itu dapat mengancam eksistensi dan keutuhan negara karena dalam persaingan globalisasi yang kuat keluar sebagai pemenang serta menjadi pemimpin serta pasti akan menjajah.
"Sementara yang lemah akan kalah dan menjadi pecundang dan akan terus terjajah. Sehingga dalam hal ini, saya memandang sangat perlu untuk selalu mengingatkan dan menyampaikan tentang pentingnya penanaman nilai-nilai kesadaran Bela Negara sebagai modalitas kekuatan dan pengikat jati diri bangsa agar kita bersatu dan berhasil dalam menghadapi setiap tantangan dalam dinamika globalisasi," ujarnya.
Menhan berpandangan, saat ini kondisi global diwarnai pada fenomena kembalinya semangat nasionalisme akibat mulai timbulnya kesadaran kolektif akan pentingnya kemurnian jati diri sebagai fondasi ketahanan nasional suatu bangs. Tujuannya agar di dalam menghadapi berbagai potensi ancaman dan tantangan yang dapat merintangi pencapaian tujuan nasionalnya.
Sementara itu, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis menuturkan, ancaman bagi bangsa saat ini tengah banyak terjadi di daerah-daerah terpencil. Alasannya masyarakat di daerah belum mendapatkan sosialisasi secara utuh tentang pemahaman cinta tanah air, Pancasila, dan pemahaman ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
"Karena itu amat diperlukan orang-orang yang sudah mendalam ilmunya itu disebar ke tiga T, Terdepan, Terluar, dan Terdalam itu. Karena perbatasan-perbatasan itu yang rawan. Ini perlu kita sosialisasikan," katanya.
Berbagai ancaman pemahaman keagamaan di daerah juga menjadi keresahan para ulama pesantren dan cendikiawan yang hadir dalam halaqah tersebut, seperti ulama dari Papua, NTT, Manado, Gorontalo, dan dari Palu.
"Jadi mereka merasakan di daerah-daerah itu tak terjangkau seperti di Palu, di Gorontalo. Misalnya dari satu kecamatan ada 13 desa, yang disiapkan dengan dai Aswaja hanya tiga desa dari 13 desa, jadi ada delapan yang belum terkena sentuhan Aswaja dan bela negara," tutupnya. (mdk/eko)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya