Dendam Polri ke Novel Baswedan tak pernah padam

Jumat, 4 Desember 2015 07:17 Reporter : Henny Rachma Sari
novel baswedan. ©REUTERS

Merdeka.com - nama Novel Baswedan sempat paling dicari-cari Korps Bhayangkara beberapa tahun silam. Bukan prestasi yang diukir, namun anggota polisi berpangkat melati satu atau Kompol ini dianggap sangat berani membongkar aksi culas pimpinannya yang notabene berpangkat jauh lebih tinggi di atasnya yakni Jenderal Bintang Dua atau Inspektur Jenderal Polisi, yakni Djoko Susilo.

Di tahun 2012 silam, Novel yang saat itu menjadi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut kasus korupsi simulator SIM di tubuh Korps Bhayangkara. Korupsi terjadi ketika Irjen Djoko Susilo menjabat sebagai Kepala Korlantas Polri.

Akhirnya, dengan dipimpin oleh Novel bersama sekitar 30 penyidik KPK melakukan penggeledahan di gedung Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri JL MT Haryono, Jakarta Selatan pada 30 Juli 2012 silam. Penggeledahan dilakukan selama kurang lebih 24 jam.

Namun, tak butuh waktu lama bagi Korps Bhayangkara untuk 'membalas' perbuatan Novel yang telah mencoreng nama baik institusi. Tiga bulan setelah penggeledahan yang dilakukan Novel Baswedan di Kantor Korlantas Polri, kini giliran penyidik Polri yang menggeruduk gdeung KPK, pada Jumat 5 Oktober 2012.

Saat itu, gedung KPK didatangi puluhan penyidik Kepolisian mulai dari provost, intel, shabara hingga serse. Kedatangan mereka untuk menjemput paksa Novel Baswedan yang dituduh melakukan penganiayaan berat terhadap tersangka kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu pada 2004. Alhasil, semenjak aksi saling geruduk itu, muncul kembali istilah cicak vs buaya jilid II. [rhm] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini