Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dampak parah tumpahan minyak di teluk Balikpapan

Dampak parah tumpahan minyak di teluk Balikpapan Pencemaran minyak di Balikpapan. ©2018 Merdeka.com/Saud Rosadi

Merdeka.com - Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur kini dalam kondisi bahaya. Tumpahan minyak merusak habitat, hingga tercemarnya udara di sekitar pantai. Polisi masih mendalami kasus ini, termasuk juga peristiwa terbakarnya kapal batubara MV Eker Judger di lokasi sama.

Minggu kemarin, satwa endemik Balikpapan, ikan Pesut ditemukan mati dengan kondisi mengenaskan di pantai. Kulitnya terkelupas dan usunya terburai. Diduga mamalia mamalia laut tersebut mati akibat pencemaran minyak.

"Dilihat dari kondisi fisik pesut ini, dugaan kuat kita mati karena terpapar minyak di laut Balikpapan," kata Koordinator Koalisi Masyarakat Peduli Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan, Husain, dikonfirmasi merdeka.com.

Temuan satwa mamalia mati di tengah paparan minyak sampai hari ini di laut Balikpapan, menguatkan argumen pegiat satwa bahwa laut benar-benar tercemar.

Dijelaskan Husain, ada empat jenis mamalia yang hidup di teluk Balikpapan. Di antaranya Dugong, pesut, lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba tanpa sirip belakang.

"Sampai sekarang limbah minyak masih sangat pekat. Paparannya semakin luas. Seharusnya Pemkot membuat statement Balikpapan darurat lingkungan supaya cepat tanggap. Dikhawatirkan mamalia bawah laut semakin banyak mati," katanya.

pencemaran minyak di balikpapan

Sedangkan hingga Senin kemarin, area pencemaran minyak semakin meluas hingga pesisir Balikpapan Barat, tepatnya di kawasan pelabuhan Semayang hingga sepanjang pantai Klandasan. Kondisi permukaan air laut berwarna kehitaman.

Tidak hanya di kawasan Balikpapan Barat, ceceran minyak juga terlihat di kawasan sekitar pantai Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (SAMS) Balikpapan.

"Daerah pantai pasti. Seperti di pesisir Balikpapan Barat ya. Mulai dari Semayang sampai Klandasan. Termasuk daerah permukiman di Kampung Baru juga di Balikpapan Barat," kata Petugas BPBD Kota Balikpapan, Hendro.

Hendro menerangkan, pencemaran laut tidak separah dan sepakat Minggu (1/4) kemarin, di mana minyak hitam pekat begitu nampak di pantai Balikpapan. "Tapi hari ini tetap masih ada (paparan minyak)," ujar Hendro.

Pemerintah kota bersama dengan Pertamina, berusaha untuk membersihkan tumpahan minyak itu. "Ya tadi saya monitor, memang ceceran minyak sampai ke sekitaran bandara," tambah Hendro.

Aktivitas nelayan belum kembali normal lantaran laut yang terpapar minyak. "Saya juga pantau aktivitas nelayan tidak seramai hari normal ya. Karena masih ada minyak itu. Cuma, kemarin benar-benar pekat. Hari ini tidak separah kemarin," terang Hendro.

ikan pesut teluk balikpapan yang mati

Petugas dari banyak instansi, sejak sebelum tengah hari tadi, terus bergerak membersihkan paparan minyak di pantai. Kondisi itu benar-benar mengotori kawasan pantai Balikpapan.

"Ya kotor minyak. Ramai tadi banyak orang dari banyak petugas, bersih-bersih pantai. Karena memang pinggir pantai itu, terlihat minyak kehitaman," kata warga Kampung Baru, Balikpapan, Samsudin, kepada merdeka.com.

Selain air laut, udara di Kota Balikpapan juga ikut tercemar aroma minyak. BPBD setempat membagikan masker gratis kepada warga.

Aroma minyak tercium cukup mengganggu warga yang sedang joging di kawasan Lapangan Merdeka Jalan Jenderal Sudirman, yang berada tidak begitu jauh dari bibir pantai, yang masuk kawasan Car Free Day (CFD).

"Dari pagi waktu saya pergi ke gereja di daerah Gunung Malang dengan istri saya, aromanya bau bensin. Meski bau sekarang tidak sekuat kemarin, tapi udara masih saja bau minyak," kata Louis.

Sementara warga Balikpapan lainnya, Sophie, warga Jalan Pangeran Antasari Gunung Kawi juga mencium aroma serupa di udara sekitar rumahnya. Padahal, rumahnya berada cukup jauh dari laut. "Balikpapan masih parah polusinya. Ini masih keciuman bau minyak tanah. Padahal rumah saya radiusnya lumayan jauh (dari pantai)," kata Sophie.

air laut tercemar minyak di balikpapan

Menurut Sophie, udara yang tercemar saat ini, mirip aroma minyak di bengkel sepeda motor. "Baunya sepertinya sama saja dengan bau di bengkel. Entah itu jenis minyak apa ya," sebut Sophie.

Kasus tumpahan minyak ini masih dalam penyelidikan Polda Kalimantan Timur. Hingga kini sudah lima saksi diperiksa polisi.

"Jadi masih berproses, dan untuk investigasi diambil oleh Ditreskrimsus. Saksi sementara lima yang dilakukan Polres Balikpapan," kata Kabid Humas Polda Kalimantan Timur Kombes Pol Ade Yaya Suryana.

Diterangkan Ade, pengambilalihan penanganan kasus oleh Ditreskrimsus, bakal ditindaklanjuti kembali dengan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). "Ada juga agenda pemanggilan saksi lain, dan merasa perlu untuk ke TKP, buat olah TKP lagi," ujar Ade.

Ditanya lebih jauh, apakah kelima saksi itu termasuk dari BUMN Pertamina di Balikpapan, Ade tidak merinci asal saksi-saksi itu. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan, polisi memanggil Pertamina.

pesut mati akibat laut tercemar minyak

"Semua saksi, adalah para pihak yang dimungkinkan mengetahui, menyimpan informasi, sehingga perlu kepolisian melakukan pemanggilan. Ya, semua dipanggil. Tidak terkecuali ya, siapa saja ya. Tidak menutup kemungkinan juga berasal dari Pertamina," terang Ade.

Sejauh ini juga, belum diketahui persis jenis dan penyebab tumpahan minyak, serta penyebab munculnya kobaran api. Rencananya, Mabes Polri turun tangan melakukan penyelidikan.

"Ya, dari Mabes, agendanya Puslabfor turun. Karena ini terkait dengan bahan-bahan berbahaya, bahan kimia dan kebakaran dan korban jiwa. Diambil alihnya kasus ini oleh Polda, menunjukkan polisi serius ya mengusutnya," jelas Ade.

Keseriusan polisi, menurut Ade juga bagian dari perintah Kapolda Kaltim Irjen Pol Priyo Widyanto. "Pak Kapolda perintahkan untuk bentuk tim. Dengan ini, juga atensi Pak Kapolda. Kalau di Polres, juga mungkin ada keterbatasan waktu dan personel," tutup Ade.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP