Semenjak dilantik menjadi Gubernur Jawa Barat, sejumlah gebrakan telah dilakukan oleh Dedi Mulyadi. Tak jarang, dari kebijakan tersebut menuai pro dan kontra di masyarakat.
Di antaranya, Dedi Mulyadi sangat konsen terhadap sejumlah persoalan yang membuat risau kaum emak-emak. Khususnya, yang menyangkut tentang pendidikan anak sekolah.
Pemikirannya sederhana, Dedi Mulyadi tak ingin kebijakan di luar kurikulum pendidikan yang tidak ada manfaatnya bagi pembangunan SDM, dilakukan. Terlebih, program tersebut hanya membuang uang orangtua siswa.
Sebab, tidak semua orangtua siswa memiliki kondisi ekonomi yang baik. Apa saja kebijakan Dedi Mulyadi tersebut?
Advertisement
Dedi Mulyadi tak ingin anak-anak membawa handphone dan motor ke sekolah. Baik itu untuk tingkat SD, SMP maupun SMA.
"Untuk anak SD dan SMP, per hari ini anak SD dan SMP tidak boleh bawa motor dan HP," kata Dedi, di Rindam III Siliwangi, Jalan Manado, Kota Bandung, kemarin (2/5).
Namun aturan itu berlaku bagi pelajar yang belum cukup umur untuk membawa kendaraan.
"Untuk anak SMA, itu yang belum cukup umur itu tidak boleh bahwa kendaraan bermotor. Kan itu undang-undang lalu lintas," katanya.
Advertisement
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan alasannya mengirim siswa nakal ke barak militer. Ketidakmampuan orang tua untuk mendidik anaknya menjadi salah satu pertimbangan.
"Maka, saya mengubah paradigma itu dengan cara apa, banyak orang tua yang hari ini tidak punya kesanggupan lagi menghadapi anaknya. Banyak guru yang tidak punya kesanggupan untuk menghadapi murid-muridnya," kata Dedi.
Per hari ini, Jumat (2/5), sebanyak 69 siswa terlibat sudah mengikuti program pembinaan di barak militer. Rinciannya,39 siswa SMP di Kabupaten Purwakarta dan 30 siswa SMP dan SMA di Kota Bandung.
Menurut dia, para siswa yang ikut pembinaan tersebut mengaku senang. Semua kebutuhan para siswa diklaim tetap terpenuhi selama pembinaan.
Advertisement
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang melarang sekolah se-Jabar tingkat TK, SD, SMP dan SMA menggelar acara wisuda. Dedi menilai hal itu tidak ada relevansinya dengan tumbuh kembang anak.
"Masih ada kegiatan TK-TK yang tidak ada relevansinya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, kegiatannya menjadi aneh-aneh," kata Dedi.
Dedi mengatakan, beberapa orang tua mengaku keberatan lantaran acara wisuda butuh biaya tak sedikit.
"Sudah kenaikan kelas, kenaikan kelas, kelulusan, kelulusan. Perpisahan selenggarakan secara sederhana di sekolah," kata Dedi.
Dedi mencontohkan ada baiknya acara perpisahan diarahkan untuk bermain teater, bermain musik, mengingat juga ada pendidikan seni di sekolahnya dan bisa ditonton serta menghibur para siswa lainnya di sekolah tersebut.
"(Jadi) Tidak usah lagi panggil band yang Rp200 juta ke sekolah. Nanti korbannya orang tua, termasuk pinjam bank emok (rentenir). Itu kan yang terjadi," ujar Dedi.
Advertisement
Dedi Mulyadi juga melarang sekolah mengadakan kegiatan yang memungut biaya. Termasuk kegiatan seperti study tour dan renang. Dalam sebuah unggahan di akun Instagramnya @dedimulyadi71 pada Jumat, 7 Februari 2025, Dedi menyatakan, sekolah tidak boleh menyelenggarakan kegiatan study tour yang di dalamnya ada pungutan, termasuk kegiatan seperti renang dan sejenisnya yang di dalamnya ada pungutan pada siswa.
Menurut Dedi, sekolah bukanlah tempat transaksi perdagangan. Praktik tersebut dapat menimbulkan kecurigaan yang berujung pada tekanan psikologis bagi para guru.
"Sekolah jangan jadi ladang untuk melakukan proses transaksi perdagangan. Sekolah tidak boleh jual buku, sekolah tidak boleh lagi jual LKS, sekolah tidak boleh lagi jual seragam," tegasnya.
Dedi ingin menekankan pentingnya menjaga integritas dan fokus pendidikan di sekolah.
Advertisement
Dedi Mulyadi mengimbau kepada para pelajar di Jawa Barat agar jalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Imbauan itu disampaikan Dedi Mulyadi bagi mereka yang memang memungkinkan jalan kaki dibanding naik kendaraan bermotor.
"Imbauan untuk jalan kaki ke sekolah atau naik sepeda bagi mereka yang jaraknya masih bisa ditempuh dengan jalan kaki dan bersepeda," ujar Dedi Mulyadi saat bertemu para siswa SMP Negeri 1 Panawangan, Kabupaten Ciamis.
Namun, jika jaraknya tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki atau bersepeda maka, kata Dedi, boleh saja diantar atau menumpang kendaraan bermotor. Jalan kaki, menurutnya, bisa dilakukan pagi hari saat akan berangkat ke sekolah karena udara pagi yang menyegarkan.