COP30 Sepakati Peningkatan Bahan Bakar Berkelanjutan Empat Kali Lipat pada 2035

Para pemimpin dunia di COP30 menyepakati peningkatan signifikan penggunaan Bahan Bakar Berkelanjutan hingga empat kali lipat pada 2035, demi mengurangi emisi gas rumah kaca.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
COP30 Sepakati Peningkatan Bahan Bakar Berkelanjutan Empat Kali Lipat pada 2035
Partisipasi Indonesia dalam Tropical Forest Forever Facility (TFFF) Brasil menunjukkan keseriusan Presiden Prabowo Subianto dalam upaya ambisius menurunkan emisi gas rumah kaca. (AntaraNews)

Para pemimpin dunia telah mencapai kesepakatan penting dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim PBB (COP30) yang baru saja berakhir di Tokyo. Kesepakatan ini berfokus pada peningkatan penggunaan bahan bakar berkelanjutan secara drastis.

Mereka berjanji untuk melipatgandakan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan ini setidaknya empat kali lipat pada tahun 2035. Inisiatif ambisius ini diusulkan oleh Brasil, Jepang, dan Italia sebagai langkah progresif global.

Tujuan utama dari komitmen ini adalah untuk mempercepat transisi energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Ini merupakan upaya kolektif untuk mengatasi tantangan perubahan iklim.

Sekitar 20 negara, termasuk India yang dikenal sebagai salah satu penghasil emisi karbon terbesar di dunia, turut mendukung komitmen ini. Dukungan tersebut didasarkan pada tingkat pengurangan emisi dari posisi tahun 2024.

Kesepakatan ini secara spesifik menargetkan peningkatan penggunaan bahan bakar berkelanjutan seperti biogas, biofuel, dan hidrogen rendah karbon. Jenis bahan bakar ini dianggap krusial untuk masa depan energi global.

Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan tersebut diyakini memiliki potensi besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Ini dilakukan dengan menggantikan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang merusak lingkungan.

Deklarasi dukungan terhadap perluasan penggunaan bahan bakar berkelanjutan ini diumumkan secara resmi. Pengumuman tersebut terjadi dalam pertemuan para pemimpin pada sesi ke-30 Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP30).

Deklarasi COP30 secara tegas menekankan perlunya aksi politik tingkat tinggi dari setiap negara anggota. Kerja kolektif juga dianggap esensial untuk mempercepat peningkatan penggunaan bahan bakar berkelanjutan.

Peningkatan ini diharapkan terjadi di berbagai sektor kunci, termasuk penerbangan, pelayaran, transportasi darat, dan industri. Sektor-sektor ini merupakan penyumbang emisi terbesar saat ini.

Para pemimpin berkomitmen untuk menetapkan kebijakan nasional yang konkret terkait bahan bakar berkelanjutan di negara masing-masing. Kebijakan ini akan dimasukkan ke dalam Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) setiap negara.

Langkah ini sejalan dengan standar internasional yang telah diatur dalam Perjanjian Paris tahun 2015. Kepatuhan terhadap perjanjian ini menjadi fondasi penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim global.

Deklarasi tersebut juga secara khusus menyerukan kolaborasi yang lebih erat dalam penelitian dan pengembangan. Tujuannya adalah untuk mendorong inovasi teknologi bahan bakar berkelanjutan.

Upaya ini diharapkan dapat menekan biaya teknologi baru, sehingga lebih mudah diakses dan diterapkan secara luas. Penurunan biaya menjadi kunci adopsi massal di berbagai negara.

Selain itu, penting juga untuk memperkuat rantai nilai bahan bakar berkelanjutan dari hulu ke hilir. Ini termasuk produksi, distribusi, hingga penggunaan akhir oleh konsumen.

Peningkatan perdagangan internasional di sektor ini juga menjadi fokus utama dalam deklarasi. Brasil dan Jepang, sebagai pemimpin dalam produksi biofuel, telah menetapkan target serupa sebelumnya.

Brasil, yang merupakan salah satu pemimpin dalam produksi biofuel, bersama Jepang, telah menunjukkan komitmen kuat. Kedua negara ini menjadi inisiator utama dalam upaya peningkatan bahan bakar berkelanjutan.

Target peningkatan penggunaan bahan bakar berkelanjutan sedikitnya empat kali lipat ini pertama kali diumumkan pada bulan September lalu. Pengumuman tersebut terjadi ketika kedua negara memimpin pertemuan tingkat menteri di Osaka, Jepang.

Meskipun ada beberapa absen penting seperti Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden AS Donald Trump, kesepakatan ini tetap berjalan. Ini menunjukkan urgensi dan dukungan luas terhadap agenda iklim.

Kehadiran dan dukungan dari negara-negara besar seperti India menegaskan bahwa isu ini adalah prioritas global. Inisiatif ini diharapkan dapat membawa dampak positif yang signifikan bagi lingkungan dan ekonomi hijau.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi