Cerita Korban Kecelakaan Bus di Subang, Sempat Ingatkan Sopir Jangan Ngebut
Merdeka.com - Korban selamat kecelakaan maut Bus Purnama Sari di Subang saat ini masih syok dan trauma. Seperti yang dialami Tati Ro hayati, warga RW07 Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung.
Pasca kejadian yang merenggut delapan nyawa rekannya itu, Tari trauma naik kendaraan. Saat dibawa naik mobil dari Subang ke Depok pun Tati meminta pada sopir untuk berjalan pelan. Saat kecelakaan terjadi, dia merasakan betul goncangan bus.
"Masih trauma saya trauma. Pas dibawa pakai ambulance ke Depok saya bilang ke sopir jangan ngebut-ngebut pak. Untuk saat ini masih trauma, karena saya merasakan waktu oleng bus ya," katanya, Minggu (19/1).
Tari masih ingat selama dalam perjalanan dia duduk di sisi kiri bus. Saat itu rombongan hendak pulang ke Depok. Namun tiba-tiba di tengah jalan, bus berhenti.
"Waktu jalan dari lokasi tempat wisata santai jalanya. Tahu-tahu berhenti di jalan tanjakan, saya kira macet. Nah pas itu, teman saya naya ke kernet. Katanya enggak ada apa-apa," ceritanya.
Bus kemudian melaju lagi. Sekitar 10 menit berjalan, dia sudah merasakan Bus mulai oleng dan melaju kencang. Penumpang pun banyak yang berteriak agar sopir tidak melaju kencang.
"Istighfar pak sopir, istighfar pak sopir. Jangan ngebut-ngebut," cerita Tati mengenang peristiwa maut itu.
Munirah, korban selamat lainnya menceritakan, sebelum bus terguling, sopir dan kernet bus sempat berhenti selama dua menit untuk mengecek kondisi seluruh ban dengan cara memukul-mukul ban. Dia duduk di belakang sopir.
"Sopirnya ngecek ban kanan, kernet memeriksa ban kiri," katanya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya