KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Cegah karhutla, Sumsel tempatkan 8 water logger & kamera pantau

Jumat, 24 Februari 2017 18:01 Reporter : Irwanto
Ilustrasi Kebakaran Hutan. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Tak ingin kebakaran hutan dan lahan (karhutla) parah seperti tahun 2015 lalu kembali terjadi, Provinsi Sumsel menempatkan water logger (pengukur debit air) di daerah rawan. Pembuatan kanal-kanal di lahan gambut juga dibangun untuk memudahkan pemadaman.

Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Perubahan Iklim, Najib Asmani mengungkapkan, water logger itu ditempatkan di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin masing-masing terdapat empat titik. Dua kabupaten ini menjadi daerah terbanyak terjadi kebakaran.

"Sudah terpasang, kemudian bisa ditambah lagi sesuai kebutuhan," ungkap Najib saat Focus group discussion (FGD) Manajemen Terpadu Lahan Gambut melalui pendekatan 3R (Restorasi Hidrologi, Revegetasi, Revitalisasi Penghidupan Masyarakat) di Palembang, Jumat (24/2).

Selain itu, kata dia, pihaknya juga telah memasang kamera pemantau tahan api dan air. Water logger dan kamera pemantau ini terkoneksi satelit sehingga cepat diketahui jika terjadi kebakaran di suatu tempat.

"Pihak swasta akan diajak kerjasama untuk memasang kamera pemantau. Dari sana kebakaran bisa cepat terlacak dan ditangani," kata dia.

Upaya pemerintah, kata dia, tidak cukup tanpa peran perusahaan perkebunan dan kehutanan. Perusahan itu harus membangun kanal-kanal untuk menampung akhir di lahan gambut.

"Tahun ini ditargetkan ada 1.500 kanal yang dibangun. Kita prioritaskan di sejumlah daerah rawan karhutla," kata dia.

Sementara itu, Ketua Forum DAS Sumsel, Syafrul Yunardi mengatakan, kebakaran lahan gambut yang terjadi sejak belasan tahun terakhir disebabkan tidak memperhatikan tata hidrologisnya. Hal ini diperlukan komunikasi pemerintah, NGO, penegak hukum, dan perusahaan dalam memperbaiki lahan gambut secara optimal.

"Pada dasarnya, pengelolaan lahan gambut yang terbakar di masa lalu harus seimbang yang bermuara pada budidaya, konservasi, dan sosial ekonomi masyarakat setempat," pungkasnya.

[did]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.