Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) memberikan apresiasi kepada para pegiat sosial, komunitas, dan lembaga yang berkontribusi nyata dalam memperkuat daya dan martabat bangsa melalui ajang Mandaya Awards 2025.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, mengatakan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan negara atas kerja-kerja pemberdayaan masyarakat di berbagai sektor.
“Mandaya Awards wujud pengakuan negara terhadap kontribusi nyata masyarakat dalam membangun daya dan martabat bangsa,” ujar Cak Imin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (17/10).
Tahun ini, Mandaya Awards mencatat 789 pendaftar dari 26 provinsi yang terdiri dari 28 kota, 60 kabupaten, 44 desa, 11 badan usaha, 52 LSM, 32 perguruan tinggi, 463 individu, dan 79 tokoh berkontribusi sepanjang hayat.
Dari jumlah tersebut, 50 inisiatif terbaik terpilih karena dinilai memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
Cak Imin menyebut, arah pembangunan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini memasuki fase baru — fase pemberdayaan masyarakat.
“Fase pemberdayaan, di mana keberhasilan diukur bukan hanya dari bantuan sosial, tetapi dari tumbuhnya kemandirian masyarakat,” ucapnya.
Advertisement
Tantangan Masih Besar, Pemberdayaan Jadi Kunci
Cak Imin mengakui tantangan bangsa masih kompleks, terutama di sektor ekonomi dan ketenagakerjaan.
Berdasarkan data BPS 2025, angka kemiskinan nasional masih berada di level 8,47%, dengan lebih dari 50% penduduk miskin tinggal di desa.
Sementara itu, ketimpangan sosial (Gini Ratio) tercatat di angka 0,375, dan 4,85 juta dari 7,28 juta pengangguran merupakan lulusan berpendidikan tinggi.
“Cara cepat menghadapi tantangan tersebut tidak lain adalah dengan pemberdayaan. Kita membutuhkan lebih banyak champion of empowerment, orang-orang yang bergerak karena nurani untuk memberdayakan sesama,” tegasnya.
Cak Imin menekankan pentingnya pendekatan “the whole of community” atau kolaborasi lintas elemen bangsa dalam mendorong pemberdayaan.
Ia menjelaskan, pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan komunitas lokal harus berperan aktif sesuai kapasitasnya.
“Pemerintah menyiapkan kebijakan inklusif; dunia usaha menciptakan nilai tambah melalui kemitraan. Akademisi memberi inovasi, media menyebarkan inspirasi, dan masyarakat menjadi pelaku utama yang menumbuhkan kemandirian dari dalam,” tuturnya.
Cak Imin juga memberikan apresiasi kepada seluruh penerima Mandaya Awards yang disebutnya sebagai “agent of change” karena mampu mengubah ide menjadi dampak nyata di lapangan.