Buzzer Diminta Setop Sebarkan Info Sesat Ganggu Perdamaian

Minggu, 13 Oktober 2019 22:00 Reporter : Didi Syafirdi
Buzzer Diminta Setop Sebarkan Info Sesat Ganggu Perdamaian Ilustrasi Media Sosial. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Aktivis Media Sosial, Enda Nasution mengingatkan agar buzzer atau pendengung mampu mengelola dan menyebarkan informasi positif dalam upaya menjaga perdamaian. Jangan sampai cap yang melekat buzzer dianggap kerap menyebarkan informasi berbau hoaks.

"Perlu diingat bahwa menyebarkan informasi yang bisa menyesatkan dan memecah persatuan bukan saja melanggar hukum, tapi juga jahat dan melanggar hukum agama. Sudah seharusnya mereka berhenti melakukan itu dan menggunakan kemampuan menyebarkan informasi positif demi menjaga perdamaian," kata Enda dalam keterangannya, Minggu (13/10).

Menurut Enda, masyarakat pengguna media sosial yang cerdas dan rajin bisa membuat buzzer penyebar fitnah tidak ada lagi di Indonesia. Karena dengan kecerdasan yang dimiliki masyarakat maka tidak ada lagi ruang untuk mereka bisa memanipulasi informasi atau memprovokasi masyarakat dengan informasinya.

"Sehingga perilaku kita yang menggunakan media sosial secara bijaklah yang utama jangan mau diprovokasi, jangan menjadi user yang malas. Harus rajin dan sadar bahwa ini ada perang opini di dunia maya," tuturnya.

Enda menjelaskan bahwa selama ini ada semacam kesalahan persepsi tentang buzzer. Definisi buzzer itu sebenarnya adalah akun-akun tanpa identitas yang jelas, tapi punya misi, tugas ataupun kesukarelaan untuk menginfokan tentang informasi-informasi yang dimiliki.

"Latar belakang motivasinya bisa memotivasi ekonomi, dibayar atau juga bisa motivasi ideologis atau prereferensi untuk atau relawan mendukung sebuah isu atau kampanye tertentu. Ini yang saya katakan sebagai buzzer. Karena memang istilahnya itu nge-buzz yang tidak jelas di mana kita hanya ramai, tapi kemudian tidak ada informasi yang yang kredibel, sumbernya dari mana, kita tidak bisa tahu," jelasnya.

Namun demikian, lanjut Enda, para masyarakat yang misalnya mendukung atau melakukan hal menyebarkan informasi yang sama, tentunya akan mempertaruhkan reputasi dan kredibilitasnya kalau menggunakan nama yang benar atau valid.

"Tapi ada reputasi atau kredibilitas yang dipertaruhkan di situ. Jadi tidak bisa seenaknya. Karenanya informasinya mau tidak mau tetap harus dicek atau minimal dia harus dapat informasi yang bisa dipertanggung jawabkan. Nah itu pembedaan yang utama, karena sekarang ini semua orang yang menyebarkan tentang informasi sesuatu disebut sebagai buzzer. Menurut saya di situ ada yang salah persepsi," kata pria yang juga Koordinator Gerakan #BijakBersosmed.

Dikatakan alumni Teknik Sipil ITB ini, karena munculnya ruang informasi publik yang baru ini maka konsumsi informasi akhirnya terpaksa harus ada supply-nya. Hal ini yang membuat masyarakat Indonesia dan juga para profesional komunikasi akhirnya belajar bagaimana caranya meraih para konsumen informasi yang ada di media sosial. Dan salah satu metodenya adalah menggunakan para influencer dan buzzer ini.

Namun yang menjadi masalah, menurutnya, buzzer ini bisa dengan mudah dan tanpa konsekuensi dalam menyebarkan informasi yang salah atau memang sengaja dibuat salah, disinformasi. Untuk itu salah satu cara untuk melawannya adalah masyarakatnya harus makin cerdas dan makin pintar.

"Ini hubungannya dengan literasi digital. Yang utama memang masyarakat Indonesia harus lebih rajin mencari sumber informasi yang benar, jangan mau gampang terpercaya dengan informasi yang beredar di media sosial," tuturnya.

Untuk itu ketika mendapat informasi masyarakat juga diminta tidak mudah emosi, terkejut, heran, gampang terpancing, terprovokasi yang berakibat lalu ikut menyebarkan lagi informasi itu ke sekelilingnya. Karena hal tersebut yang diinginkan oleh para buzzer atau pembuat hoax ini.

"Dengan cara begitu kita bisa melawan informasi yang salah dengan efektif dan kemudian ke depan makin menurun aktivitasnya, tidak bisa lagi hanya sekedar menyebaran informasi atau fitnah yang tidak jelas, apalagi cara-caranya kasar," tuturnya.

Dirinya juga meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas terhadap para penyebar fitnah atau hoaks. "Penegakkan hukum menjadi salah satu faktor yang penting agar ada efek jera, sehingga tidak lagi terus menerus masyarakat dibombardir oleh hoaks dan disinformasi," tandasnya. [did]

Topik berita Terkait:
  1. Fenomena Buzzer
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini