Buntut Panjang Polemik 'Berdamai dengan Corona'

Rabu, 20 Mei 2020 06:37 Reporter : Bachtiarudin Alam
Buntut Panjang Polemik 'Berdamai dengan Corona' Jokowi Ikut KTT Gerakan Non-Blok Secara Virtual. ©2020 Kris/Biro Pers Sekretariat Presiden

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo saat ini belum berencana melonggarkan kebijakan PSBB yang berlaku di sejumlah daerah di Tanah Air. Tetapi harus menyesuaikan dan hidup berdampingan dengan Covid-19.

"Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan," jelas Jokowi.

Namun, Jusuf Kalla (JK) tak setuju dengan pernyataan tersebut. JK menegaskan bahwa virus Covid-19 ini termasuk ganas, sehingga tak bisa diajak berdamai.

"Ini kan virus ganas dan tidak pilih-pilih siapa. Tidak bisa diajak berdamai, kalau namanya berdamai itu, kalau dua-duanya berdamai. Kalau kita hanya ingin berdamai tapi virusnya enggak, bagaimana," kata JK pada webinar yang Universitas Indonesia: 'Segitiga Virus Corona', Selasa (19/5).

Pada diskusi tersebut, JK menuturkan, jika penggunaan kata berdamai bila ditunjukan terhadap virus Covid-19 dirasa tidak tepat.

"Kurang pas sebenarnya. Karena damai itu harus kedua belah pihak. Tidak ada perdamaian bagi mereka. Bahwa you bisa kena, bisa mati," ungkap JK.

"Mungkin kebiasaan kita yang harus berubah. Itu mungkin dianggap hidup berbarengan, pakai masker terus, cuci tangan terus. Tapi tidak berarti kita berdamai, tidak ada. Karena risikonya mati," tukasnya.

Fokus Perang Panjang Lawan Covid-19

Kritik atas seruan pemerintah untuk berdamai dengan Covid-19 pun datang dari Ahli racun dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Suroso, dr. Tri Maharani menyarankan pemerintah siapkan protokol kesehatan ketat.

Tri mengibaratkan, perang melawan Covid-19 sebagai perang yang berkepanjangan. Sebabnya tidak diketahui kapan pandemi ini akan berakhir karena vaksin yang belum ada.

"Lebih baik fokus menyiapkan diri dalam peperangan yang panjang," kata Tri ketika sesi diskusi daring, Minggu (17/5).

Perang yang panjang, lanjut Tri, adalah mempersiapkan kebutuhan kesehatan dan sanksi yang tegas bagi para pelanggar protokol kesehatan. Karena tidak ada yang kapan pandemi ini akan berakhir.

Maksud Jokowi Berdamai Dengan Corona

Atas ungkapan 'berdamai dengan corona' tersebut, Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin menjelaskan maksud Jokowi.

"Ya artinya jangan kita menyerah, hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan. Ke sananya yang disebut the new normal tatanan kehidupan baru," ucap Bey Machmudin, Jumat (8/5)

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga menjelaskan pernyataan berdamai dengan corona oleh Presiden Jokowi. Artinya, tetap menjaga protokol kesehatan, menjaga sistem imunitas tubuh, melakukan pencegahan, setelah mengenali karakteristik virus tersebut.

"Ke depan kalau belum selesai Covid-19, kita memang terpaksa harus berdamai, bersahabat, artinya kita me-manage. Pabrik-pabrik yang ada ke depan boleh buka, tapi harus membuat protokol yang kuat, protokol kesehatan, masuk semua harus diperiksa dengan thermal gun, tempat cuci tangan disiapkan di mana-mana, hand sanitizer di mana-mana, semua wajib pakai masker, kemudian di tempat kerja ada jaraknya, moda transportasi juga begitu, restoran, hotel, memperlakukan hal yang sama," ujar Tito.

"Mereka tidak mungkin akan tutup terus-menerus, PHK akan berguguran, akan makin banyak, tapi itu ke depan. Kita sekarang maksimalkan dulu melaksanakan PSBB ini,” sambungnya. [ded]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini