Budayawan Banyumas Bambang Widodo bersama antropolog asal Amerika Serikat, Prof. Rene TA Lysloff, secara lantang menyerukan penguatan budaya Banyumas. Seruan ini berfokus pada tiga pilar utama: pelestarian bahasa lokal, dokumentasi seni tradisi yang komprehensif, serta penyediaan ruang inovasi yang luas bagi generasi muda. Mereka menegaskan bahwa langkah-langkah ini krusial untuk menjaga kelangsungan dan identitas budaya Banyumas di tengah dinamika globalisasi.
Pernyataan ini disampaikan dalam Dialog "Harmonisasi Budaya-Merawat Kebhinekaan dengan Fondasi Empat Pilar Kebangsaan" yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari". Acara tersebut berlangsung di Pendopo Adipati Marapat, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Sabtu sore. Dialog ini menjadi platform penting untuk mendiskusikan strategi konkret dalam merawat warisan budaya.
Bambang Widodo, dalam kesempatan tersebut, secara khusus menyoroti peran vital bahasa daerah sebagai fondasi utama dalam pewarisan budaya tradisi. Menurutnya, jika bahasa lokal tidak lagi diajarkan dalam sistem pendidikan, maka rasa cinta terhadap budaya tradisi akan semakin menjauh. Pandangan ini menggarisbawahi urgensi revitalisasi bahasa daerah sebagai bagian integral dari pendidikan nasional.
Advertisement
Advertisement
Bambang Widodo menekankan bahwa bahasa daerah adalah fondasi utama pewarisan budaya tradisi. Apabila bahasa lokal tidak lagi diajarkan dalam sistem pendidikan, maka rasa cinta terhadap budaya tradisi pasti akan memudar dan terancam punah. Ini menunjukkan keterkaitan erat antara bahasa dan keberlangsungan identitas budaya sebuah komunitas.
Berbagai kesenian tradisional Banyumasan, seperti lengger, calung, wayang, hingga seni tutur daerah, akan semakin sulit dipahami oleh generasi muda jika bahasa lokal semakin ditinggalkan. Oleh karena itu, pelestarian bahasa bukan hanya tentang komunikasi, tetapi juga tentang menjaga akses terhadap kekayaan seni dan kearifan lokal. Budaya Banyumasan sendiri merupakan bagian dari subkultur Jawa yang memiliki identitas khas, mudah dikenali melalui sejumlah unsur.
Identitas khas Banyumasan dapat dilihat dari kesenian, kuliner, pakaian adat, dialek, adat istiadat, hingga senjata tradisional. Sebagai contoh, begitu mendengar kata "mendhoan" atau "dialek ngapak", orang akan langsung mengenali identitas Banyumas. Wilayah kultur Banyumasan tidak hanya mencakup Kabupaten Banyumas, melainkan juga Purbalingga, Banjarnegara, sebagian wilayah Cilacap, serta daerah lain yang memiliki kesamaan karakter budaya.
Advertisement
Bambang juga menyoroti pengaruh budaya global yang mendorong pergeseran orientasi masyarakat terhadap budaya lokal. Oleh karena itu, dukungan kebijakan pendidikan yang memberi ruang lebih besar bagi bahasa daerah sangat diperlukan. Ia mendorong pemerintah untuk kembali memberi porsi lebih besar terhadap penggunaan bahasa daerah dalam pendidikan dasar sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Advertisement
Profesor Rene TA Lysloff mengungkapkan bahwa seni rakyat memiliki perjalanan sejarah yang kompleks karena sebagian besar berkembang melalui tradisi lisan dan minim dokumentasi tertulis. Kesulitan dalam menelusuri sejarahnya ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian dan pemahaman mendalam. Kesenian rakyat seperti lengger berkembang melalui proses pewarisan langsung dari para empu seni kepada generasi berikutnya, sehingga keberlangsungannya sangat bergantung pada regenerasi dan keterlibatan masyarakat.
Prof. Rene juga menyoroti perubahan bentuk pertunjukan seni Banyumasan yang terus beradaptasi seiring waktu. Dari pertunjukan sederhana di ruang terbuka, kini seni tersebut memanfaatkan tata panggung, pencahayaan, dan teknologi audio modern. Perubahan ini menunjukkan kemampuan seni tradisi untuk berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitas dasarnya, sebuah bukti vitalitas budaya.
Dalam presentasinya, Prof. Rene menayangkan video sejumlah pertunjukan Lengger Banyumasan hasil penelitian yang dilakukannya sejak tahun 1980-an. Video-video tersebut secara jelas memperlihatkan berbagai perubahan, seperti gaya tarian dan bentuk panggung. Hal ini menegaskan bahwa seni itu harus hidup dan terus berinovasi.
Advertisement
Menurutnya, jika seni hanya diam pada masa lalu dan tidak berubah, seni bisa mati. Ia mengibaratkan keberlangsungan seni tradisi seperti bahasa yang akan punah apabila tidak lagi digunakan dan diwariskan secara aktif. Adaptasi dan inovasi adalah kunci agar seni tradisi tetap relevan dan diminati oleh generasi mendatang.
Advertisement
Kegiatan "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari" menjadi salah satu platform penting untuk pelestarian dan inovasi budaya Banyumas. Acara ini diselenggarakan di kawasan Banyumas Kota Lama pada tanggal 2-3 Mei 2026, menawarkan berbagai aktivitas budaya yang menarik. Inisiatif ini menunjukkan komitmen untuk menghidupkan kembali dan merayakan kekayaan budaya daerah.
Dalam rangkaian kegiatan ini, disajikan pertunjukan tari, dialog budaya, mural, serta berbagai aktivitas seni yang melibatkan komunitas budaya dari Banyumas, daerah lain, hingga mancanegara. Kehadiran berbagai pihak ini menciptakan ruang kolaborasi dan pertukaran budaya yang dinamis. Hal ini juga menjadi kesempatan bagi seniman lokal untuk berinteraksi dengan komunitas yang lebih luas.
Inisiatif semacam ini tidak hanya merayakan kekayaan budaya Banyumas, tetapi juga secara aktif mendorong generasi muda untuk terlibat dan berkontribusi. Dengan demikian, tradisi dapat terus diwariskan dan beradaptasi dengan konteks zaman yang terus berubah. Kegiatan ini merupakan contoh nyata bagaimana budaya dapat tetap relevan dan menarik bagi audiens modern.
Advertisement
Penguatan budaya Banyumas melalui event seperti "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari" adalah langkah konkret untuk menjaga identitas lokal di tengah arus globalisasi. Ini sejalan dengan seruan para budayawan dan antropolog untuk terus menghidupkan seni dan bahasa daerah. Melalui partisipasi aktif dan inovasi, budaya Banyumas diharapkan akan terus berkembang dan menjadi kebanggaan.
Sumber: AntaraNews