Bripda Agustina Untari, Santriwati Gontor Pertama yang Lolos Jadi Polwan

Minggu, 18 April 2021 09:05 Reporter : Muhammad Permana
Bripda Agustina Untari, Santriwati Gontor Pertama yang Lolos Jadi Polwan Bripda Agustina Untari. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Terlahir sebagai anak prajurit TNI, membuat Agustina Untari bercita-cita menjadi Korps Wanita TNI AD atau Kowad. Namun upaya itu kandas karena terkendala legalitas ijazah.

"Tahun 2014, setelah lulus dari Pondok Modern Gontor Putri 1 di Mantingan, saya mencoba mendaftar tes masuk Kowad. Cuma waktu itu saya gagal di verifikasi ijazah. Sehingga saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliah saja," tutur Tari, sapaan akrabnya.

Tari gagal diterima karena ijazah kelulusannya dari Gontor adalah dalam bentuk lembaga pendidikan Kulliyatul Muallimat al-Islamiyah (KMI). Model pendidikan menengah di Gontor ini menggunakan kurikulum tersendiri yang berbeda dengan kurikulum pendidikan formal.

"Ijazah saya full menggunakan bahasa Arab, sehingga saya harus menterjemahkannya lebih dulu," ujar perempuan asli Jember ini.

Sempat kuliah hampir dua semester di Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tari kemudian mendengar informasi pendaftaran polisi. Saat itu, peluangnya besar karena ada program khusus.

"Saat itu dibuka rekrutmen Polwan dalam jumlah besar, yakni 7.000 polwan untuk program 1 polsek 1 polwan. Sehingga kuotanya lebih besar daripada biasanya," papar Tari.

Rekrutmen Polwan tahun 2015 itu berdasarkan gagasan ibu negara Ani Yudhoyono, istri Presiden SBY. Ibu Ani menginginkan agar di setiap Polsek terdapat minimal 1 polwan yang bertugas. Khusus untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan perempuan.

Syarat pendaftaran juga tidak terlalu berat. Tinggi badan minimal dari sebelumnya 165 cm, diturunkan menjadi 155 cm. Juga syarat batas maksimal usia, dinaikkan menjadi di bawah 22 tahun.

"Saat itu usia saya kurang sebulan lagi sudah 22 tahun. Jadi itu kesempatan terakhir saya, cukup dramatis," tutur perempuan kelahiran 2 Agustus 1992 ini.

Bekal legalitas ijazah pesantren yang dimiliki Tari tidak dipermasalahkan saat mendaftar di kepolisian. Namun, tetap saja Tari harus berjuang lebih dibandingkan pendaftar lain.

"Selain saya harus menerjemahkan ijazah saya yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, saya juga memisahkan nilai mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama dalam ijazah tersebut. Karena yang dinilai untuk seleksi hanya mata pelajaran yang umum saja," papar putri pasangan Serma (Purn) Tono dan Yayuk Tri ini.

Setelah melalui proses seleksi ketat, Tari berhasil lolos menjadi anggota Korps Bhayangkara. Proses itu membuatnya terharu.

"Sempat tidak percaya saat akan mendaftar. Karena saya adalah alumni Pondok Gontor Putri pertama yang mengikuti pendaftaran Polwan," tutur istri dari Bripka Meldy Ance Almendo ini.

bripda agustina untari
©2021 Merdeka.com

Sang ibu senantiasa memotivasi Tari untuk tetap bersemangat dalam berjuang agar lolos ke Sekolah Polisi Negara (SPN). Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Lulusan MTs (setara SMP).

"Tetapi beliau selalu bilang, kalau kamu punya keinginan, ya harus berjuang untuk menggapainya," kenang Tari.

Diterima pada 2015, Tari bersama rekan-rekannya mengikuti pendidikan Bintara Polri selama 7 bulan. Hingga akhirnya dilantik pada awal tahun 2016. Bekal pendidikan selama lima tahun sebagai santriwati di Gontor membuat Tari tidak kesulitan beradaptasi mengikuti model pendidikan di kepolisian.

"Karena di pesantren kita sudah diajarkan kemandirian. Selain itu, kita juga sudah terbiasa dari bangun tidur hingga akan tidur lagi, semuanya pendidikan," papar Tari.

Setelah berdinas hampir setahun, pada tahun 2017 muncul kebijakan baru di tubuh institusi Polri yang membolehkan Polwan untuk memakai hijab. Saat itu pula Tari langsung kembali mengenakan jilbab.

"Saat itu, Kapolrinya adalah Jenderal Pol Badrodin Haiti yang juga alumni pesantren," kenang Tari.

Badrodin Haiti merupakan jenderal polisi yang berasal dari keluarga pengasuh Pondok Pesantren Baitul Arqom, Jember.

Awal bertugas, Tari ditempatkan sebagai penyidik pembantu di salah satu polsek yang ada di Jember. Lalu dia dipindahkan ke Satbinmas Polres Jember sampai saat ini.

Selama enam tahun bertugas menjadi polwan, banyak suka-duka yang dialami Tari. Salah satunya ketika membantu menangani kasus bayi yang dibuang oleh ibunya.

"Saat itu di wilayah Polsek Patrang, ditemukan bayi yang baru berumur sekitar 24 jam dibuang dalam kondisi hidup. Beruntung, nyawanya masih bisa diselamatkan," tutur Tari.

Nalurinya sebagai seorang perempuan, membuat Tari cukup trenyuh dalam menangani kasus ini. Terlebih, pelakunya adalah seorang pelajar kelas 2 MTs yang membuang bayi tersebut karena sang kekasih enggan bertanggungjawab.

"Setelah proses hukum selesai, bayi kemudian di kembalikan kepada keluarga perempuan tersebut. Ibunya tidak dihukum, karena mau menerima kembali bayinya dan juga masih harus meneruskan pendidikan. Bayi itu akhirnya diasuh oleh seorang pengacara yang masih kerabat dengan si remaja tersebut," papar ibu satu anak ini.

Pada peringatan Hari Kartini 21 April 2021 ini, Tari mengajak para perempuan di Indonesia untuk senantiasa semangat dalam berkarya.

"Kalau kita punya cita-cita, kita harus memperkuat niat agar bisa sungguh-sungguh meraihnya," tutupnya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini