Boneka Edukasi Seksual Anak Dini Sentasi: Inovasi Ubaya untuk Cegah Kekerasan Seksual
Mahasiswa Ubaya ciptakan Boneka Edukasi Seksual Anak Dini interaktif bernama Sentasi, solusi inovatif cegah kekerasan seksual pada buah hati sejak dini dan berikan pemahaman penting.
Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) telah meluncurkan inovasi penting dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak usia dini. Amelia Margaretha Suprapto, seorang mahasiswa Program Studi Desain dan Manajemen Produk, Fakultas Industri Kreatif, menciptakan boneka edukasi seksual interaktif bernama Sentasi. Boneka ini dirancang khusus sebagai media pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi anak-anak.
Peluncuran Sentasi berlangsung dalam kegiatan sosialisasi di Sanggar Kreativitas Ubaya, Surabaya, belum lama ini. Inovasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar tentang sentuhan aman dan tidak aman kepada anak-anak. Dengan demikian, diharapkan anak-anak dapat lebih terlindungi dari potensi kekerasan seksual yang mengancam.
Sentasi, akronim dari Sentuhan Aman dan Tidak Aman Edukasi Dini, dilengkapi dengan teknologi sensor sentuh dan respons suara. Fitur ini memungkinkan anak-anak untuk belajar secara interaktif mengenai batasan tubuh mereka secara mandiri. Boneka ini menjadi alat bantu vital bagi orang tua dan guru dalam menyampaikan edukasi seksual yang sering dianggap tabu di masyarakat.
Mengenal Lebih Dekat Boneka Sentasi: Fitur dan Manfaatnya
Sentasi hadir dalam dua karakter yang menarik, yaitu boneka anak laki-laki bernama Luca dan boneka anak perempuan bernama Luna. Boneka ini secara spesifik dirancang sebagai media pembelajaran yang ideal untuk anak-anak usia tiga hingga enam tahun.
Fitur utama boneka ini adalah sensor sentuh yang ditempatkan pada area-area terlarang tubuh, meliputi wajah, dada, alat kelamin, dan pantat. Ketika area-area tersebut disentuh, boneka akan secara otomatis memicu respons suara peringatan, seperti “Jangan sentuh!” untuk mengajarkan anak tentang batasan tubuh mereka.
Selain sensor sentuh, boneka Sentasi juga dilengkapi dengan pakaian yang dapat dilepas-pasang, memungkinkan anak untuk memahami konsep privasi. Tiga ekspresi wajah magnetik—senang, sedih, dan marah—turut disertakan untuk membantu anak mengenali dan mengekspresikan emosi mereka secara lebih baik.
Produk inovatif ini juga disertai dengan buku panduan guru yang komprehensif. Buku tersebut memuat petunjuk penggunaan boneka, materi edukasi seksual yang relevan, serta contoh skenario bermain peran yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran.
Pentingnya Edukasi Seksual Dini dan Proses Penciptaan Sentasi
Amelia Margaretha Suprapto menegaskan bahwa edukasi seksual sangat penting diberikan sejak usia dini sebagai upaya pencegahan dan perlindungan anak. Ia menciptakan boneka ini sebagai media untuk memudahkan penyampaian edukasi seksual dari orang dewasa, khususnya guru, kepada anak usia dini.
Inovasi Sentasi dilatarbelakangi oleh data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) yang menunjukkan bahwa anak-anak menjadi kelompok korban terbanyak dalam kasus kekerasan seksual secara nasional. Hingga Juni 2025, tercatat 13.845 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan kekerasan seksual menjadi kasus terbanyak. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 juga menunjukkan bahwa 1 dari 2 anak usia 13-17 tahun di Indonesia mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Hal ini menunjukkan urgensi edukasi seksual, meskipun masih dianggap tabu di sebagian masyarakat.
Proses penciptaan Sentasi membutuhkan waktu sekitar satu tahun, dimulai dari studi pustaka dan visual yang mendalam. Amelia juga melakukan wawancara dengan orang tua, psikolog anak, serta guru taman kanak-kanak untuk mendapatkan perspektif yang komprehensif, sebelum akhirnya membuat prototipe dan melakukan evaluasi.
“Edukasi menggunakan Boneka Sentasi ini menjadikan anak punya pengetahuan untuk memproteksi dirinya sejak dini. Dengan begitu, kasus kekerasan seksual di Indonesia dapat dicegah dan dikurangi,” ujar Amel. Salah satu orang tua peserta, Bunga Lia, juga menyambut positif inovasi ini, menyatakan bahwa pendidikan seksual sejak dini sangat penting, apalagi di zaman sekarang, dan menjadi lebih menarik karena dilakukan sambil bermain.
Sumber: AntaraNews