Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bonbon, Anak Orang Utan Diselundupkan Warga Rusia Dikembalikan ke Habitat di Sumatera

Bonbon, Anak Orang Utan Diselundupkan Warga Rusia Dikembalikan ke Habitat di Sumatera Anak orang utan bernama Bonbon. ©2019 Merdeka.com/Moh Kadafi

Merdeka.com - Setelah delapan bulanan menjalani perawatan di Taman Safari, Kabupaten Gianyar, Bali, anak orang utan bernama Bonbon ditranslokasi ke Sumatera Orang Utan Conservation Programme (SOCP), Sibolangit, Sumatera Utara.

Bonbon yang berkelamin jantan ini akan diterbangkan ke Sumatera Utara menumpang pesawat Sriwijaya Airlines, Selasa (17/12) esok pukul 00.15 WITA. Orang utan yang berusia sekitar 2,5 hingga 3 tahun ini akan didampingi oleh tim dokter dan tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali.

Kepala BKSDA Bali Agus Budi Santosa menerangkan, translokasi ini dilaksanakan karena Bonbon sudah dalam keadaan sehat. Selain itu, dia dikembalikan ke kampung halamannya di Sumatera untuk menjaga habitatnya dan dari uji DNA Bonbon adalah jenis orang utan Sumatera.

"Di Indonesia ada orang utan Sumatera, Kalimantan dan jenis Tapanuli. Ada tiga jenis orang utan di Indonesia saat ini, dan Bonbon, jenis Sumatera," kata Budi, di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Senin (16/12).

Bonbon adalah korban kasus penyelundupan yang dilakukan warga Rusia bernama Andrei Zhestkov (28), akan diseludupkan ke negaranya dan dapat digagalkan petugas Avsec Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Jumat (22/3) lalu. Kemudian, atas perbuatannya itu, Majelis Hakim PN Denpasar menjatuhkan vonis 1 tahun penjara dan denda Rp 10 juta kepada Andrei Zhestkov.

Budi juga menyampaikan, bahwa saat dikembalikan ke Sumatera, Bonbon akan mengikuti sejumlah latihan di SCOP untuk bertahan hidup di alam liar atau latihan habiatus. Karena menurutnya, Bonbon selama menjalani perawatan di Bali intensitas berinteraksi dengan manusia tinggi. Sehingga orang utan kalau langsung kemudian kita lepas liarkan.

"Dia tidak bisa bertahan di alam liar. Sehingga dia harus lolos untuk sekolah untuk menjadi liar," imbuhnya.

Dalam pelatihannya di SPOC nantinya Bonbon akan mengikuti dua kelas yang mengajari bertahan di alam liar dan juga mengurangi interaksi dengan manusia.

"Jadi nanti kan diajari agar bisa hidup di alam liar, perlahan-lahan mengurangi interaksi kepada manusia sebanyak mungkin. Saat Nanti tim di Sibolangit mengatakan sudah layak untuk dilepasliarkan dia akan dilepas liarkan. Proses ini disebut dengan habituasi," jelasnya.

Sementara Yohana Kusumatia Nuri Handayani selaku dokter hewan senior di Taman Bali Safari menyampaikan, bahwa selama melakukan perawatan dengan ceks kesehatan kondisinya semakin membaik.

"Hasilnya kami tidak temukan penyakit di Bonbon dan selama ini selama 8 bulan dalam pemeliharaan kami, perawatan kami sudah cukup banyak perkembangan," ujarnya.

"Untuk berat badan pertama kali Bonbon datang itu 5 kilogram sekarang sudah 11 kilogram, sudah cukup naik. Aktivitas ditempat kami juga baik karena ada dua baby orang rutan dan mereka ada waktu untuk main di plat ground, jadi Bonbon sehat untuk ditranslokasi ke Sumatera," ujarnya.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP