Bocah 10 tahun anggota Jakmania asal Bali sedih atas kebrutalan fans Persib

Seorang fans Persija Jakarta alias Jakmania, Haringga Sirila tewas dikeroyok di areal Stadion Gelora Bandung Lautan Api, sesaat sebelum pertandingan big match Persib Bandung kontra Persija Jakara dimulai, Minggu (23/9) kemarin.

Moh. Kadafi
Oleh Moh. Kadafi - Reporter
Bocah 10 tahun anggota Jakmania asal Bali sedih atas kebrutalan fans Persib
Bocah 10 tahun anggota Jakmania asal Bali. ©2018 Merdeka.com

Seorang fans Persija Jakarta alias Jakmania, Haringga Sirila tewas dikeroyok di areal Stadion Gelora Bandung Lautan Api, sesaat sebelum pertandingan big match Persib Bandung kontra Persija Jakara dimulai, Minggu (23/9) kemarin.

Duka mendalam ditunjukkan oleh insan sepak bola nasional atas kepergian pemuda 23 tahun tersebut. Salah satunya datang dari seorang bocah di Bali.

Bocah 10 tahun itu amat berduka mengetahui ada korban jiwa yang jatuh lagi akibat rivalitas kelewat batas.

"Tahu dari Bunda ada Jakmania yang meninggal di GBLA," kata bocah bernama Cikal Genre Socialista itu polos saat ditemui di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, Senin (24/9) malam.

Meski masih belia, Cikal merupakan The Jakmania tulen. Di usianya yang dini, dia sudah menjadi pecinta klub asal Ibu Kota tersebut. Bahkan, bocah yang masih duduk di bangku kelas 5 SD Muhammadiyah 2 Denpasar itu memiliki KTA (Kartu Tanda Anggota) The Jakmania.

"Suka diajak Bunda sama Papa nonton Persija. Pernah nonton di Malang dan beberapa kota lain. Di Jakarta (GBK) juga pernah," imbuhnya.

Cikal membawa poster yang cukup pedas. Poster berwarna merah muda itu bertuliskan "Jika sepak bola lebih berharga daripada nyawa, maka aku rela Indonesia tanpa sepak bola," katanya.

"Posternya Bunda yang buat. Ini aku bawa biar enggak ada korban lagi di sepak bola Indonesia. Aku sempat lihat video waktu Kak Haringga Sirila dikeroyok, takut, seram," kata bocah yang bercita-cita menjadi pemain Timnas Indonesia itu.

Kritik menghujam pada poster yang dibawa bocah yang sekolah bola di SSB Guntur itu patut direnungi. Sebab, hampir saban tahun ada saja nyawa melayang di sepak bola Indonesia.

Sepak bola yang semestinya menjadi hiburan seakan berubah wajah menjadi 'ladang pembantaian'. Suporter yang semestinya berteriak lantang dengan kreasi untuk mendukung klub kebanggaannya seakan berubah menjadi 'malaikat pencabut nyawa'.

Haringga Sirila adalah korban terakhir yang harus kehilangan nyawa karena sepak bola di Indonesia. Selamat jalan Haringga Sirila.

Rekomendasi