Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Selatan mengeluarkan peringatan serius terkait tingginya tingkat kerawanan peredaran narkoba di wilayahnya. Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi sorotan utama sebagai daerah paling rawan. Kepala BNNP Kalsel, Brigjen Pol. Wisnu Andayana, menegaskan bahwa seluruh pihak harus memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Brigjen Pol. Wisnu Andayana di Banjarmasin pada Selasa, menyoroti hasil pemetaan BNNP yang menunjukkan hampir seluruh kabupaten/kota di Kalsel masih memiliki tingkat kerawanan tinggi. Namun, aktivitas jaringan narkotika di HST dinilai paling mengkhawatirkan dan memerlukan penanganan segera. Kondisi ini memerlukan sinergi dari berbagai elemen masyarakat dan aparat penegak hukum.
Meskipun tidak merinci data spesifik penangkapan dan barang bukti, Wisnu Andayana menyoroti beberapa kasus penindakan belakangan ini yang melibatkan oknum anggota Polri di wilayah tersebut. Situasi ini mengindikasikan bahwa peredaran narkoba di HST telah mencapai level yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi dari semua pihak terkait. Upaya pencegahan dan pemberantasan harus terus ditingkatkan.
Advertisement
Advertisement
Hasil pemetaan yang dilakukan oleh BNNP Kalimantan Selatan secara konsisten menunjukkan bahwa Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) memiliki tingkat kerawanan tertinggi dalam peredaran narkoba. Hampir seluruh wilayah di Kalimantan Selatan memang menghadapi ancaman peredaran gelap narkotika. Namun, jaringan di HST menunjukkan aktivitas yang paling mengkhawatirkan dan sulit dikendalikan.
Kepala BNNP Kalsel, Brigjen Pol. Wisnu Andayana, menekankan bahwa kondisi ini bukan hanya sekadar data statistik. Ini adalah cerminan dari realitas lapangan yang membutuhkan tindakan konkret. Pemetaan ini menjadi dasar bagi BNNP untuk merancang strategi penanganan yang lebih efektif dan terarah. Fokus pada HST diharapkan dapat memutus mata rantai peredaran narkoba secara signifikan.
Faktor geografis dan aksesibilitas antar daerah juga turut mempercepat penyebaran narkoba di wilayah pedalaman seperti HST. Pola distribusi yang semakin sulit dipantau menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum. Oleh karena itu, pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.
Advertisement
Advertisement
Tingginya kerawanan narkoba di HST semakin diperparah dengan keterlibatan oknum aparat penegak hukum dalam beberapa kasus. BNNP Kalsel sebelumnya menangani kasus oknum Bhabinkamtibmas Polsek Limpasu, Polres HST, berinisial MI. Oknum tersebut kedapatan memiliki 0,5 kilogram sabu dan bahkan terluka saat penyergapan pada Selasa (29/4).
Selain itu, enam anggota Polres HST juga dinyatakan positif narkoba dari hasil tes urine pada Selasa (17/6). Mereka adalah Aipda EA, Aipda HS, Briptu IO, Bripda ZA, Bripka KM, serta Bripda MR. Para oknum ini dijatuhi sanksi penundaan pendidikan selama setahun, penempatan pada tempat khusus (Patsus), serta demosi 14 hari. Kasus-kasus ini menunjukkan betapa seriusnya penetrasi narkoba hingga ke lingkungan aparat.
Polres HST sendiri juga rutin mengungkap tangkapan skala kecil yang melibatkan pengguna dan pengedar narkoba di wilayahnya. Penindakan ini, meskipun penting, menunjukkan bahwa peredaran narkoba masih masif. Tantangan penindakan menjadi semakin kompleks ketika melibatkan oknum yang seharusnya memberantas kejahatan ini.
Advertisement
Advertisement
Sebagai langkah pencegahan, BNNP Kalsel telah melaksanakan operasi pemulihan kampung narkoba di beberapa titik rawan. Salah satu lokasi yang menjadi fokus adalah kawasan Kelayan Luar, Banjarmasin Selatan. Wilayah ini dinilai sebagai area transit peredaran sabu yang strategis. Upaya ini bertujuan untuk memutus jalur distribusi dan mengurangi tingkat kerawanan di daerah tersebut.
Brigjen Pol. Wisnu Andayana menegaskan bahwa pemberantasan narkoba tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab BNN, Polri, dan TNI semata. Masalah ini memerlukan kerja sama dari semua pihak, termasuk masyarakat luas. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam memerangi peredaran narkoba yang semakin meresahkan.
“Masalah narkoba ini tanggung jawab kita bersama, karena korban penyalahgunaan narkoba bisa membunuh satu generasi,” ujar Wisnu. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi peran aktif masyarakat dalam melaporkan, mencegah, dan mendukung upaya pemberantasan narkoba. Edukasi dan kesadaran kolektif adalah benteng terkuat melawan ancaman ini.
Advertisement
Sumber: AntaraNews