BKKBN Aceh Fokus Pemulihan Trauma Anak Pascabencana Banjir Bandang

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh memfokuskan program pemulihan trauma bagi kelompok rentan, terutama anak-anak, pascabencana banjir bandang di Aceh untuk membantu mereka kembali normal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BKKBN Aceh Fokus Pemulihan Trauma Anak Pascabencana Banjir Bandang
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh memfokuskan program pemulihan trauma bagi kelompok rentan, terutama anak-anak, pascabencana banjir bandang di Aceh untuk membantu mereka kembali normal. (AntaraNews)

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh kini memusatkan perhatian pada program pemulihan trauma bagi kelompok rentan di wilayah terdampak bencana. Upaya ini difokuskan terutama untuk anak-anak yang menjadi korban banjir bandang di berbagai kabupaten/kota di Aceh.

Kepala BKKBN Provinsi Aceh, Safrina Salim, menegaskan bahwa program pemulihan trauma ini sangat penting guna mengembalikan kondisi mental kelompok rentan ke keadaan normal setelah mengalami musibah. Program ini telah dimulai sejak awal penanganan bencana, seiring dengan penyaluran bantuan kemanusiaan.

Banjir bandang yang melanda Aceh pada akhir November 2025 telah menimbulkan dampak signifikan, menyebabkan trauma psikis pada banyak anak-anak. Oleh karena itu, BKKBN Aceh mengambil peran aktif dalam membantu pemulihan mental mereka melalui berbagai kegiatan yang melibatkan relawan.

BKKBN Provinsi Aceh secara khusus menargetkan pemulihan trauma pada kelompok rentan, terutama anak-anak, di area yang terkena dampak banjir bandang. Safrina Salim menyatakan bahwa meskipun program ini masih terbatas, BKKBN berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam proses pemulihan.

Program pemulihan trauma ini telah berjalan sejak fase awal penanganan bencana, ketika tim BKKBN Aceh mendistribusikan bantuan kemanusiaan di berbagai titik pengungsian. Ini menunjukkan komitmen BKKBN dalam merespons cepat kebutuhan korban bencana.

Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan Forum Generasi Berencana (GenRe) Aceh sebagai mitra utama. Anggota GenRe berperan aktif mengajak anak-anak di lokasi pengungsian untuk belajar dan bermain, menciptakan suasana yang lebih ceria dan mendukung proses pemulihan psikis mereka.

Banjir yang melanda Provinsi Aceh pada akhir November 2025 telah mengakibatkan kerugian besar, mempengaruhi 18 dari 23 kabupaten/kota di provinsi tersebut. Wilayah yang paling parah terdampak bencana di antaranya adalah Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Aceh Utara.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu, 20 Desember, menunjukkan bahwa jumlah pengungsi bencana di Provinsi Aceh mencapai 483.691 jiwa. Titik pengungsian tersebar di 12 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, menunjukkan skala besar dari dampak bencana ini.

Safrina Salim menekankan bahwa pemulihan trauma sangat krusial agar kelompok rentan, khususnya anak-anak, dapat kembali menjalani kehidupan normal setelah bencana. Banjir bandang tersebut secara alami dapat menyebabkan trauma psikis yang mendalam pada anak-anak.

Selain program belajar dan bermain, BKKBN Aceh juga tengah menjajaki pembentukan sekolah tenda yang bersifat nonformal di titik-titik pengungsian. Inisiatif ini bertujuan untuk menyediakan kegiatan bagi anak-anak agar mereka tetap ceria dan bahagia di tengah kondisi sulit.

BKKBN juga mengajak para psikolog untuk bergabung sebagai relawan dalam program pemulihan trauma bagi kelompok rentan ini. Keterlibatan profesional diharapkan dapat memberikan penanganan yang lebih komprehensif dan efektif.

Safrina Salim menyatakan harapannya bahwa program pemulihan trauma ini dapat membantu memperkuat mental anak-anak korban bencana. Dengan dukungan yang tepat, diharapkan mereka mampu bangkit dan menghadapi masa depan dengan lebih baik.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi