BIN imbau masyarakat jaga privasi di media sosial
Merdeka.com - Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia tak terlalu terbuka dalam menggunakan media sosial seperti Facebook. Proteksi ini untuk menghindari adanya pencurian data pribadi pengguna media sosial.
"Jangan terlalu open (terbuka) di dunia maya. Kita harus bisa cerdas untuk berselancar di dunia maya," ujar Wawan saat diskusi 'Maling data Facebook' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4).
"Apalagi data-data yang di medsos itu kan susah sekali untuk ditutup, makanya apapun data yang kita upload di sana ya harus kita minimalisir yang kemungkinan penyalahgunaan pihak ketiga, kita tidak boleh terlalu terbuka, pertama itu," tambahnya.
Menurut Wawan, penggunaan media sosial seperti Facebook mempunyai dampak positif dan negatif bagi penggunanya. "Karena ini dapat menjadi pedang bermata dua yang di mana di satu sisi bisa menguntungkan dan juga merugikan (pengguna media sosial)," ucapnya.
Dia juga menyarankan pengguna Facebook jangan terlalu merespons komentar orang yang tak dikenal. Serta masyarakat harus cerdas dan tak perlu mengungkapkan persoalan pribadi sehingga psikologi mudah dibaca dan datanya dicuri untuk kepentingan tertentu.
"Makanya saya sampaikan tadi jangan menguplod hal-hal yang terlalu banyak mengungkap masalah- masalah personal, karena itu sangat berbahaya untuk di pelajari oleh orang-orang tertentu yang punya kepentingan tadi, maka diminimal saja ya," tutur Wawan.
"Oleh karenanya kita tidak terlalu open menjawab kepada orang orang yang tidak dikenal, dan dia pasti dia benar kan. Makanya cek ricek itu perlu dilakukan," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Teknologi Facebook Mike Schroepfer menjelaskan skitar 87 juta data pengguna Facebook bocor ke lembaga riset di Inggris yakni Cambridge Analityca. Diketahui, dari jumlah tersebut, terdapat data pribadi pengguna Facebook asal Indonesia yang bocor sekitar 1,3 juta data.
Indonesia sendiri menjadi peringkat ketiga terkait dengan kebocoran data pengguna Facebook setelah Amerika Serikat dengan jumlah sebesar 70,6 juta data pengguna dan juga Filiphina dengan jumlah 1,1 juta pengguna Facebook.
Diketahui, informasi data pribadi darinpara pengguna media sosial Facebook ini digunakan sebagai senjata untuk keperluan politik, dengan cara membentuk opini tertentu melaluo jejaring sosial.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya