Bertemu Gapoktan di Banyuwangi, Gus Ipul sampaikan konsep majukan pertanian Jatim
Merdeka.com - Pertanian menjadi salah satu sektor dengan tingkat pertumbuhan yang lambat di Jawa Timur. Padahal sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Inilah yang menjadi salah satu konsentrasi pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Puti Guntur Soekarno.
Hal ini disampaikan oleh Gus Ipul kala bertemu dengan para relawan di Banyuwangi. Di antara kelompok relawan ini tergabung juga perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dari seluruh kecamatan. Di hadapan mereka, Gus Ipul menyampaikan gambaran konsep bagaimana ia dan Puti Guntur menggenjot pertumbuhan pertanian di provinsi ini.
"Dunia industri kita tumbuh setidaknya 6 persen tiap tahunnya. Sementara, sektor pertanian hanya maju sekitar 2 persen," katanya di Kafe Cokelat, Doesoen Kakao, Kendeng Lembu, Banyuwangi, Sabtu (14/4). Angka ini terbilang kecil, karena sekitar 33 persen penduduk Jatim bergerak di sektor ini.
Gus Ipul menambahkan setiap musin tani, nilai jual komoditas mereka langsung anjlok akibat banyaknya pasokan di pasar. Dengan begini, nilai tukar petani menjadi rendah dan kesejahteraan mereka jauh panggang dari api.
"Oleh karena itu, bila terpilih, kami akan melakukan perbaikan hulu-hilir atau kita sebut 'agropreuner'," ungkapnya.

Gus Ipul bertemu gapoktan Banyuwangi ©2018 Merdeka.com
Caranya, gapoktan-gapoktan yang ada dikumpulkan menjadi satu. Disiapkan model pertanian yang modern dengan menghadirkan teknologi pertanian yang maju. Sehingga tidak lagi mengandalkan subsidi bibit, pupuk dan lain sebagainya. Sementara untuk lahannya dihitung sebagai sewa, tenaganya dihitung tiap harinya.
Bila panen tiba, dijualnya tidak berbentuk gabah. Melainkan sudah diolah dengan teknologi yang diperbantukan itu, dimulai dari tahapan pemanasan, dan hasil akhirnya berbentuk beras premium dalam kemasan. "Bendaharanya dari perbankan dan pemasukan para petani diterima dengan hitungannya jelas," ungkapnya.
"Bila benar terealisasi di atas kertas, peningkatan pendapatan petani hingga 52 persen di atas kertas," tambah dia. Apalagi tidak setiap petani memiliki lahan tani. Menurut dia, idealnya kepemilikan lahan tiap orangnya, rata-rata 0,5 hektar. Namun realitanya, hanya 0,2-0,3 hektar saja.
Mendengar pemaparan cagub nomor dua ini, relawan dari kelompok Gapoktan ini sangat mendukung. Mawaedi, ketua Gapoktan Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, melihat konsep ini dinilai sangat cocok dengan permasalahan yang mereka hadapi.
"Ada dua problem yang dihadapi para petani di sini. Pertama panjangnya mata rantai dari petani hingga pembeli, dan anggapan petani yang tidak bankable," jelas dia.
Selama ini, petani banyak mengeluhkam rendahnya imbal hasil yang dinikmati mereka. Harga jual dari mereka nyatanya jauh lebih rendah dibandingkan harga komoditas di pasaran. Ini ditengarai akibat panjangnya mata rantai distribusi.
"Bayangkan saja harga cabai dari kami sekitar Rp 27 ribu sekilonya, di pasar bisa mencapai Rp 60 ribu," tambahnya.
Selain itu, dengan format melibatkan perbankan sebagai bendahara dalam sistem hulu-hilir ini bisa mengikis anggapan petani yang tidak bankable. "Malah kami sebelumnya, sebelumnya infin mengusulkan ke Gus Ipul untuk dibangun bank tani di sini," pungkas dia. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya