Bertaruh Nyawa Demi Listrik Masuk Desa

Minggu, 20 Oktober 2019 19:02 Reporter : Abdullah Sani
Bertaruh Nyawa Demi Listrik Masuk Desa Petugas PLN bertaruh nyawa di Indragiri Hilir. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Dua buaya liar bertarung berebut seonggok bangkai babi di tengah kanal. Di permukaan air berwarna hitam, satwa berkulit tebal itu saling mempertahankan mangsa. Cukup lama mereka bergelut, sekitar 15 menit.

Tiba-tiba, seekor predator yang sama namun berukuran lebih besar datang menyelinap dari arah lain. Buaya itu langsung menyingkirkan dua pesaingnya. Dalam sekejap, bangkai babi dicengkram dengan mulut besarnya. Menyungsep masuk ke dasar sungai. Dua buaya lainnya menyusul.

Pemandangan itu membuat denyut jantung pekerja Perusahaan Listrik Negara Wilayah Riau Kepulauan Riau (WRKR) berdetak kencang. Perahu bermesin atau biasa disebut pompong yang mereka gunakan terpaksa dihentikan.

"Kalau saja buaya itu menyerang pompong kami, mungkin kami berlima sudah mati," kata Koordinator PLTD, Sub ULP Rayon Pelangiran, Ahmad Nur, Sabtu (19/10).

Setelah tiga buaya hilang dari pandangan, mesin pompong kembali dihidupkan. Perjalanan menuju Desa Wonosari dilanjutkan. Dia bersama 5 rekannya, dibantu warga pengemudi pompong, membawa material listrik untuk menerangi desa-desa di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Perjuangan yang begitu berat menembus medan untuk menuju desa tujuan. Di sini, kondisi jalur darat memang tidak bisa diandalkan. Satu-satunya jalan adalah melewati aliran kanal yang membelah perkebunan.

Sebagian pekerja duduk di atas tiang besi yang mengapung di permukaan kanal. Tak jarang mereka masuk ke air, membersihkan tumbuhan eceng gondok di rawa yang kadang tersangkut pompong.

Kanal itu merupakan galian eks PT GHS (Guntung Hasrat Makmur), perusahaan yang bergerak di bidang kelapa hibrida. Sebelum jadi kanal, awalnya berbentuk rawa yang digali.

Posisi kanal tepatnya di pertengahan, menghubungkan 11 desa di Kecamatan Pelangiran. Pompong menyusuri kanal dengan kedalaman hampir dua meter, dan lebar mencapai 3 meter. Airnya hitam dengan arus pelan. Hanya pompong berukuran kecil bisa melintas.

Di kanan kiri bibir kanal ditumbuhi semak belukar liar. Tak sedikit pula tanaman pohon kelapa. Salah satu mata pencarian masyarakat setempat. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat di sana melewati jalan setapak, beberapa meter dari pinggir kanal.

Namun petugas PLN tidak mungkin melakukannya. Mereka terkendala jalan yang sempit, tidak bisa dilewati gerobak. Apalagi kendaraan bermotor untuk membawa tiang-tiang listrik yang terbuat dari besi. Mustahil rasanya. Tanah gambut tak bisa menahan benda berat yang melintas di atasnya.

©2019 Merdeka.com

Jalan setapak itu pun kadang terputus tanah gambut. Jangankan kendaraan, kaki saja bisa terjerembab hingga sampai paha. Jenis tanah gambut di sana cukup dalam, bisa mencapai 5 meter.

Selain akses jalan yang sulit, kondisi desa juga gelap gulita jika matahari mulai terbenam. Selama ini, desa-desa itu hanya mengandalkan lampu teplok. Bagi warga yang berkecukupan secara ekonomi, mesin genset dibeli untuk kebutuhan listrik di rumah. Masa-masa kelam itu mereka jalani sejak kampung itu mulai dihuni tahun 1993.

Bilal, sapaan akrab Ahmad Nur, memulai cerita. Bersama rekan-rekannya, mereka berjuang untuk warga desa. Sebagai petugas PLN sekaligus warga setempat, Bilal ingin mewujudkan mimpi masyarakat.

Selama ini, besar harapan warga agar desa terang di malam hari. Bilal dan rekan kerjanya berjuang mati-matian. Hanya dengan kapal pompong, mereka membawa material listrik berupa tiang, kabel, trafo dan lainnya.

Tidak ketinggalan bahan makanan seperti beras, sarden, sayuran kue dan mi instan sebagai modal perjalanan. Karena mereka butuh waktu 12 jam membawa material itu menuju Desa Wonosari. Kompor gas tak luput dibawa untuk memasak. Plus air galon sebagai persediaan minum.

Perjalanan menuju penjuru desa dengan pompong itu tidak semudah yang dipikirkan. Semangat mereka mengalahkan rintangan maut yang dihadapi. Semua itu dilalui untuk menyukseskan program listrik masuk desa. Program yang digagas PLN demi Riau terang benderang, mengakhiri masa gelap.

1 dari 2 halaman

Perjalanan Berat Menuju Desa Wonosari

Pekerjaan dimulai awal Juni 2017. Saat itu, General Manager PLN WRKR, M Irwansyah Putera baru menjabat 3 bulan. Bilal dan rekan-rekannya mendapat tugas menjalankan misi PLN, program listrik masuk desa.

Mereka menyelesaikan tugas di bulan Februari 2018. Tak hanya di Wonosari, beberapa desa lainnya di Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir berhasil diterangi dari gelapnya malam.

"Menuntaskan tugas mulia itu nyawa taruhannya," ujar Bilal dengan nada lirih.

Bilal menceritakan awal perjuangannya membawa listrik masuk desa. Selain buaya, tak jarang mereka mendengar auman Harimau Sumatera dari hutan. Ketika itu, Bonita salah satu nama harimau sumatera masih berkeliaran, dan memakan korban.

Sesekali bertatap muka dengan ular kobra. Dari 11 desa yang menjadi target, Desa Wonosari yang paling ekstrem untuk ditempuh. Ya, saat ke sanalah mereka bertemu tiga buaya. Saban tahun, buaya selalu makan korban di daerah itu.

Desa Wonosari, salah satu desa di Kecamatan Pelangiran. Dulunya hanya sebuah permukiman karyawan PT GHS. Namun sejak dihuni di tahun 1993, jumlahnya bertambah secara bertahap hingga tahun 1995. Akhirnya, permukiman itu berdiri menjadi sebuah desa yang disepakati dengan nama Wonosari tahun 2000.

Desa itu belum pernah teraliri listrik PLN. Namun pemerintah setempat membangun PLD (Pengusahaan Listrik Desa), di tahun 2005. Selesai secara bertahap tahun 2010. Bilal berperan sebagai koordinator pembangunan PLD itu.

"Tapi mesin PLD hanya hidup jam 6 sore sampai jam 12 malam. Lewat dari itu ya pakai lampu teplok atau mesin genset," kata Bilal.

Untuk menuju ke sana, butuh lima estafet membawa material dari tepi sungai Simpang Kateman, Desa Pekan Tua. Jaraknya mencapai 140 kilometer, melewati jalur sungai dan kanal. Namun dari Tembilahan, Ibu Kota Kabupaten Indragiri Hilir, jarak tempuh ke Wonosari mencapai 84 kilometer. Hanya bisa melalui sungai dan kanal.

Sebelum ke Wonosari, material itu ditumpuk di pinggir sungai Desa Pekan Tua, Kecamatan Tempuling, Indragiri Hilir. Bilal dan rekannya menunggu di Pekan Tua, petugas PLN Area Rengat membawa material dari gudang PLN di Rengat Kabupaten Indragiri Hulu. Menuju Desa Pekan Tua, jarak tempuh sekitar 3 jam.

Bilal dan rekannya menerima material itu begitu truk yang mengangkut material tiba pada siang hari, petugas menurunkan material dari truk ke pinggir sungai. Dari situ, material akan dibawa Bilal ke Pelangiran melalui sungai. Hanya bisa menggunakan pompong.

Tapi tunggu dulu, tak serta merta tiang dibawa begitu saja. Pompong tak cukup panjang untuk menampung tiang. Kekuatannya juga tak mampu dengan beban tiang yang terbuat dari besi itu.

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com

Sebelum dibawa, tiang dirakit dengan tali dan drum plastik kosong serta jeriken terlebih dahulu. Tiangnya sudah dibentuk sedemikian rupa agar bisa diikat tali, untuk disatukan dengan tiang lainnya. Menjadi satu rakitan.

Tiang yang kecil berukuran panjang 9 meter dengan berat 342 kilogram dan diameter 200 milimeter. Sedangkan tiang besar berukuran panjang 12 meter, beratnya mencapai 480 kilogram, diameter 210 milimeter. Uniknya, tiang 12 meter lebih mudah mengapung daripada tiang 9 meter. Ruang hampa udara lebih mendominasi di dalam tiang tersebut.

Rakitan disatukan dengan jeriken dan drum sebagai pelampungnya. Kemudian dicemplungkan ke sungai. Jika lebar sungai berukuran kecil, maka rakitan tiang hanya 3. Jika sungai lebar, satu rakitan bisa mencapai 6 tiang.

Semakin kecil ukuran sungai, semakin sedikit jumlah tiang yang dirakit. Merakit tiang itu butuh waktu yang lama, bergotong royong. Saat istirahat tiba, mereka menelpon anak dan istri sekedar melepas rindu.

"Kami merakit dari jam 5 sore, sampai jam 3 dini hari. Sambil menunggu air sungai pasang agar bisa dihanyutkan," ucapnya.

Melangsir tiang dengan merakit di kanal desa itu harus paham betul dengan kondisi alam. Juga harus tahu kapan waktunya pasang surut air sungai. Karena jika terlambat beberapa menit saja, air akan surut.

Dan itu akan membuat pompong yang membawa tiang ikut hanyut terbawa arus sungai. Bukannya tiang yang ditarik oleh pompong, justru sebaliknya tiang akan terbawa derasnya arus sungai. Sehingga pompong akan mundur terbawa arus tersebut.

Air pasang datang sekitar pukul 03.00 WIB. Sebanyak tiga rakitan tiang untuk satu kali estafet mulai diturunkan ke sungai. Tiang besi yang terapung bersama jeriken dan drum diikat ke pompong.

Salah satu dari lima petugas menaiki masing-masing rakitan. Menjaga tiang, manakala terlepas dari ikatan dan jatuh ke kuala sungai. Perjalanan panjang dimulai dari Pekan Tua menuju Desa Wonosari.

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com

Butuh waktu 12 jam pakai pompong sambil menarik rakitan tiang. Menyusuri sungai Indragiri, melewati tepian laut China Selatan. Berbatasan dengan Pantai Solop. Ada kalanya pompong melalui perairan Tanjung Datuk, terkenal dengan ombak kuat mencapai 3 meter yang melegenda.

Semua itu dilewati dengan rasa cemas namun tetap semangat. Hingga pompong kembali memasuki perairan tenang, sungai kuala Mandah. Beberapa jam sampai melewati Sungai Kateman, menuju Wonosari.

Permukaan kanal ternyata tak semuanya bersih, ada beberapa titik ditumbuhi eceng gondok. Petugas yang standby di atas rakitan tiang terjun menendang eceng gondok, agar rakitan bisa lewat.

Beberapa jam setelah melanjutkan perjalanan, nakhoda memperlambat pompong saat tiba di bendungan. Perlahan, rakitan dipepet ke tepian sungai, lalu dibongkar. Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore.

Dengan gesit, mereka membuat bantalan di tepi sungai, sebagai jalan untuk menarik tiang ke daratan. Lalu rakitan dilepas satu persatu. Lima petugas memikul tiang untuk melewati jembatan, jaraknya 200 meter.

Meski sudah sangat hati-hati memikul tiang dengan bobot yang menguras tenaga itu, namun salah satu petugas PLN terluka. Dia adalah Herman Susanto, biasa dipanggil Mas Santo. Warga Desa Wonosari yang dipekerjakan PLN untuk ikut membantu menerangi kampungnya.

Saat menaikkan tiang dari air ke daratan melewati bendungan itu, tiba-tiba tiang bergeser ke bahunya. Ada sisa pengelasan antartiang melukai tangannya. Posisinya terpaksa diganti petugas lain. Dia diminta untuk beristirahat.

Sekarang luka Mas Santo sudah sembuh. Cuma kemarin dijahit sebanyak 14 jahitan, cerita Bilal.

Setelah melewati bendungan, petugas kembali merakit tiang tersebut. Disimpul lagi dengan drum dan jeriken. Digeser ke bibir sungai hingga permukaan air. Untuk dihanyutkan dan melanjutkan perjalanan. Mereka melakukan itu dari jam 5 sore hingga pukul 3 dini hari.

Setelah semua selesai, mesin pompong dihidupkan. Mereka kembali ke posisi masing-masing. Ada yang di dalam pompong, ada juga di atas rakitan tiang. Seorang nakhoda pompong ditemani 2 orang petugas PLN. Sisanya menjaga 3 rakitan.

Sepanjang perjalanan dari bendungan menuju Wonosari, terkadang mereka berhenti. Singgah di desa yang dilalui untuk menambah pasokan logistik.

Setelah 12 jam perjalanan yang penuh tantangan dan sangat melelahkan, akhirnya mereka tiba di gerbang Desa Wonosari. Perjalanan itu ditempuh sebanyak 3 kali estafet. Dengan jalur yang sama, cerita yang tidak jauh berbeda pula. Hingga estafet ketiga selesai.

2 dari 2 halaman

Menuntaskan Tugas

Terpancar aura bahagia di wajah warga menyambut kedatangan petugas PLN. Wajah lelah tak dapat disembunyikan Bilal dan rekannya. Mereka tetap tersenyum sambil menyapa warga.

Warga berbondong-bondong menyaksikan tiang-tiang PLN meluncur ke gerbang desa. Pertanda tak lama lagi kampung mereka akan terang dialiri listrik 24 jam. Tak seperti PLD yang sebelumnya hanya hidup 6 jam.

Sebanyak 18 Kepala Keluarga sudah menunggu mereka. Pompong dan rakitan diparkir ke bibir kanal. Perlahan rakitan dilepas, kabel diturunkan, perbekalan makanan juga dikeluarkan dari pompong. Satu persatu tiang ditumpuk ke gerbang desa.

Perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan roda dua, disewa dari masyarakat. Mengantar kabel sejauh 40 kilometer hingga ke ujung desa. Tiang itu sudah berubah warna menjadi hitam, sebelumnya cokelat tua, saking lamanya di permukaan air selama dalam perjalanan.

Tiang diturunkan setiap langkah menempuh jarak 50 meter. Kadang tiang itu dipikul, tak jarang dinaikkan ke gerobak. Gerobak itu telah dipermak, sengaja dibawa Bilal dari Tembilahan. Digunakan untuk muatan kabel yang beratnya sampai 300 kilogram.

Sepeda motor lebih dominan untuk menarik tiang dan kabel. Kendaraan itu juga dimodifikasi, dipasang penyanggah untuk menarik tiang. Sesekali digunakan untuk mengangkut kabel.

Pekerjaan itu dilakukan mereka secara manual. Proses penegakkan tiang dengan manual dan bobot tiang mencapai 500 kilogram itu harus dipikirkan secara matang.

Perlahan mereka membuat lubang 2 meter, dan dikasih alur memanjang mencapai 4 sampai 5 meter. Itu untuk memudahkan tiang menggelinding dan memposisikannya menggunakan papan tebal di sisi lubang. Lalu tiang dipangku sekitar 45 derajat secara estafet.

"Dalam posisi tersebut, setiap kru PLN harus tahu fungsi dan tugasnya. Karena jika sedikit saja meleset, tiang akan menimpa pekerja," kata Bilal.

Tanah gambut dan bekas galian kanal, banyak ditemukan bekas kayu-kayu tebangan di dasar tanah. Kondisi itu menyulitkan penggalian lobang. Bahkan kadang petugas harus memindahkan lobang 4 hingga 5 kali. Kabel-kabel pun mulai diulur ke masing-masing tiang.

Dari jaringan eksiating ke Wonosari membutuhkan 9 kilometer sirkuit. Dengan rincian, 180 tiang 12/200, 4 batang tiang 12/350 dan 52 batang tiang 9/200. Ditambah 2 buah trafo distribusi 1.50 Kva berlokasi di bendungan kilometer 12,5 dan 1 buah trafo 100 Kva berlokasi di jalan poros Desa Wonosari.

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com

"Kehadiran PLN ke desa kami sangat membantu. Jauh lebih menghemat biaya, pelayanan juga memuaskan," ujar Santo, warga setempat.

Karena sebelumnya, masyarakat lainnya menggantungkan diri pada mesin PLD. Bantuan dari Dinas Pertambangan dan Energi Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir.

Dia mengisahkan, pernah suatu ketika mesin PLD mengalami kerusakan. Masyarakat terpaksa menggunakan mesin genset. Mereka harus merogoh biaya operasional Rp800.000 hingga Rp1.500.000 dalam satu bulan itu.

Biaya operasional mesin PLD memang relatif mahal, warga merasa sangat terbebani. Dari sisi harga, setiap KWH bisa sampai Rp6.000, dan biaya beban Rp60.000. Dengan masuknya PLN, pengeluaran lebih irit, karena biaya setiap KWH hanya Rp1.370. Yang mendapat subsidi dari pemerintah, jadi mereka hanya membayar Rp762, setiap KWH.

Sisa pembayaran listrik desa setelah ada PLN, bisa mereka gunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak. Tak kalah penting untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karena, dulu mereka membayar listrik Rp300.000 setiap bulan, dan hanya dapat dinikmati selama 6 jam.

Kini setelah PLN hadir ke desa Wonosari dan desa-desa lainnya di Pelangiran, mereka hanya membayar Rp60.000 sampai Rp70.000 setiap bulan. Sangat jauh lebih menguntungkan, apalagi masyarakat dapat menikmati listrik selama 14 Jam. Selama 3 bulan, pengerjaan listrik di Pelangiran selesai.

Program Listrik Desa ini diakui paling sulit menembus seluruh desa di Kabupaten Indragiri Hilir. Kondisi geografis daerah yang dijuluki negeri 1.000 parit itu, memaksa petugas bekerja secara manual.

"Kondisi di Inhil memang sangat menantang. Kita memasukan material saja dari Pekanbaru ke desa-desa di sana bisa 90 hari, padahal kalau jalannya lancar dua hari sudah sampai," ujar General Manager PLN WRKR, M Irwansyah Putera.

Dari 12 kabupaten dan kota di Provinsi Riau, daerah Inhil merupakan daerah dengan realisasi rasio listrik desa terendah karena mencapai 83,47 persen. Sedangkan, daerah lainnya rata-rata sudah mencapai 90 persen hingga 100 persen.

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com

Akses transportasi ke Inhil yang terbatas menjadi tantangan untuk mengoptimalkan program listrik desa. Sebab, dari 155 desa dan kelurahan di daerah itu, masih ada 39 desa yang belum dialiri listrik PLN.

Program PLN menjangkau seluruh desa di Inhil dialiri listrik pada Oktober tahun 2019. Jika semua rencana bisa rampung sesuai target, maka rasio desa berlistrik 100 persen di Riau akan menjadi kado terindah. Kado itu ketika peringatan Hari Listrik Nasional, pada 27 Oktober mendatang tiba.

Realisasi rasio listrik desa di Provinsi Riau hingga semester I tahun 2019, sudah mencapai 96,45 persen. Artinya sudah menjangkau sebanyak 1.793 desa. Masih ada 66 desa yang kini belum merasakan program tersebut. Dan sekarang semua sedang dijalankan, nyaris selesai. [cob]

Baca juga:
Pelantikan Presiden 2019, PLN Siapkan 5 Lapisan Pengamanan Pasokan Listrik
Optimalisasi Energi Terbarukan Diharapkan Turunkan Biaya Pokok Penyediaan
PLN Siapkan Tambahan Daya Jaga Listrik Tak Padam Saat Pelantikan Jokowi
PLN Andalkan Energi Baru Terbarukan Kejar 100 Persen Rasio Elektrifikasi Papua 2020
Kembangkan Kendaraan Listrik, Grab dan PLN Kerja Sama

Topik berita Terkait:
  1. PLN
  2. Program Indonesia Terang
  3. Pekanbaru
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini