Banjir yang melanda Kabupaten Jember, Jawa Timur, kini telah meluas hingga mencakup 23 desa yang tersebar di 10 kecamatan. Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis (12/2) sore hingga Jumat (13/2) dini hari, menyebabkan debit air sungai meningkat drastis dan meluap ke permukiman warga. Data terbaru dari Pusat Pengendali dan Operasional (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mengonfirmasi perluasan dampak bencana ini.
Kepala BPBD Jember, Edi Budi Susilo, menyatakan bahwa awalnya delapan kecamatan yang terdampak, kini bertambah menjadi 10 kecamatan berdasarkan hasil asesmen Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jember. Meskipun demikian, Edi menambahkan bahwa kondisi banjir di sebagian besar wilayah sudah surut pada hari Sabtu (14/2). Warga yang sempat mengungsi kini telah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa-sisa banjir.
Bencana banjir ini telah menimbulkan dampak serius bagi masyarakat Jember, termasuk satu korban jiwa. Sebanyak 7.445 kepala keluarga (KK) dilaporkan terdampak, dengan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Rambipuji. Selain itu, sejumlah infrastruktur penting juga mengalami kerusakan akibat terjangan arus banjir.
Advertisement
Advertisement
Perluasan wilayah terdampak banjir di Jember menunjukkan skala bencana yang cukup signifikan. Dari delapan kecamatan yang semula teridentifikasi, kini bertambah menjadi 10 kecamatan yang meliputi Panti, Sukorambi, Rambipuji, Kalisat, Kaliwates, Bangsalsari, Ajung, Balung, Wuluhan, dan Puger. Seluruh wilayah ini merasakan dampak langsung dari luapan air yang tinggi.
Hujan deras yang terus-menerus selama dua hari berturut-turut menjadi pemicu utama terjadinya banjir ini. Kondisi geografis Jember dengan banyak sungai yang melintasi permukiman membuat daerah ini rentan terhadap luapan air saat intensitas hujan tinggi. Debit air yang melampaui kapasitas sungai akhirnya tidak dapat tertampung dan membanjiri rumah-rumah warga.
Meskipun dampak banjir meluas, BPBD Jember melaporkan bahwa sebagian besar wilayah yang terendam kini sudah surut. Hal ini memungkinkan warga untuk kembali ke kediaman mereka dan memulai proses pembersihan. Upaya pemulihan pascabanjir menjadi fokus utama bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Advertisement
Advertisement
Banjir di Jember telah menyebabkan ribuan warga terdampak, dengan total 7.445 kepala keluarga (KK) harus menghadapi situasi sulit ini. Kecamatan Rambipuji menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbanyak, mencapai 3.774 KK. Data ini menunjukkan betapa luasnya jangkauan bencana dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
Selain itu, kelompok rentan juga menjadi perhatian serius dalam penanganan bencana ini. Tercatat ada 74 balita, 82 lansia, dan 4 penyandang disabilitas yang terdampak banjir. Sebanyak 557 jiwa sempat mengungsi ke lokasi yang lebih aman, meskipun kini sebagian besar telah kembali ke rumah masing-masing.
Tragisnya, bencana ini juga menelan satu korban jiwa atas nama Siti Nurfadila (55). Korban meninggal dunia karena tersengat listrik saat membersihkan rumahnya di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, pada Kamis (12/2) malam. Insiden ini menjadi pengingat akan bahaya yang mengintai saat terjadi banjir.
Advertisement
Kerusakan infrastruktur juga tidak terhindarkan akibat terjangan banjir. Beberapa fasilitas umum dan properti pribadi mengalami kerusakan, meliputi:
- 11 rumah rusak ringan
- 3 jembatan ambruk
- 1 pondok pesantren terendam
- 1 masjid ambruk
- 1 balai desa terendam
- 1 sekolah taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) terendam
- 1 Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) terendam
- 12 speedboat terbawa arus banjir
Advertisement
BPBD Jember bersama sejumlah perangkat daerah terkait telah bergerak cepat dalam melakukan penanganan banjir. Bantuan logistik telah disalurkan kepada warga yang terdampak di 10 kecamatan tersebut. Upaya kolaboratif ini bertujuan untuk meringankan beban masyarakat dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi selama masa pemulihan.
Meskipun banjir sudah surut, Kepala BPBD Jember, Edi Budi Susilo, mengimbau seluruh warga Jember untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis peringatan bahwa cuaca ekstrem masih akan berlanjut hingga 20 Februari 2026.
Peringatan dini dari BMKG ini menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi kemungkinan hujan deras susulan yang dapat memicu banjir kembali. Edukasi dan mitigasi bencana menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem di masa mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews