Arkeolog Senior Mundur dari Tim Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Bongkar 5 Kejanggalan

Kejanggalan pertama terlihat ketika penulisan sejarah ulang itu ditargetkan rampung pada Juni 2025.

Alma Fikhasari
Oleh Alma Fikhasari - Reporter
Arkeolog Senior Mundur dari Tim Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Bongkar 5 Kejanggalan
Arkeolog Senior Mundur dari Tim Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Bongkar 5 Kejanggalan (Merdeka.com)

Arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Profesor Harry Truman Simanjuntak keluar dari tim penulisan ulang Sejarah Nasional Indonesia yang dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan.

Truman mengungkapkan ada lima kejanggalan dalam penulisan ulang sejarah yang bakal dituangkan dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI).

Awalnya dia mengaku semangat turut ambil bagian dalam penulisan ulang sejarah. Sebab, bidang keprasejarahan ini membutuhkan pembaruan data yang bakal berimplikasi munculnya pandangan-pandangan baru.

"Tapi diskusi dan diskusi berlanjut-berlanjut begitu saya melihat banyak kejanggalan. Setidaknya saya mencatat ada lima kejanggalan," kata Truman dalam diskusi daring, Rabu (18/6).

Kejanggalan pertama terlihat ketika penulisan sejarah ulang itu ditargetkan rampung pada Juni 2025, sedangkan rapat persiapan baru dimulai di sekitar akhir November. Rapat konsepsi penyusunan buku sejarah itu pun baru terjadi pada Januari awal tahun ini.

Dia yang sudah berpengalaman menerbitkan buku bahkan membutuhkan waktu 5 tahun.

"Sepuluh tahun paling tidak prosesnya hingga menghasilkan sebuah buku. Saya waktu itu menyatakan, kok bisa secepat itu saya bilang, apakah mungkin? Tapi yang lain meyakinkan betul, oke karena ini bukan data baru, bukan mulai dari nol dan sebagainya. Oke, saya ikuti itu," ungkapnya.

Kejanggalan kedua ada pada konsepsi penulisan buku. Konsepsi ini disusun oleh editor umum arahan penguasa.

Dia khawatir, konsepsi yang tidak dibuat langsung oleh para sejarawan ini membuat sejarah disesuaikan ulang sesuai keinginan penguasa, bukan murni atas fakta.

"Janganlah menyusun konsepsi itu di bawah arahan penguasa. Ketika kita mau menyusun sebuah buku, apalagi ini buku kebangsaan, apalagi ini buku berseri, mestinya didahului oleh semacam seminar-seminar," ucap Truman.

"Kita undang semua ahli terkait dengan itu untuk apa? Untuk memperoleh masukan-masukan yang berharga untuk memantapkan konsepsi itu," sambung dia.

Namun, tidak ada seminar dalam tim. Yang ada hanya rapat sekitar 2-3 kali dan merekrut beberapa pakar.

Kejanggalan lainnya adalah penyodoran outline jilid prasejarah. Padahal seharusnya, outline itu disusun oleh sejarawan.

"Jadi tiba-tiba ketika mau membahas outline 10 jilid itu, ya kita sudah disodorkan outline itu. Itu sebuah keanehan. Mestinya yang menyusun outline itu orang-orang yang ahli di bidang itu. Bukan ahli lain. Itu sebabnya ketika kita membaca outline buku yang sekarang sedang dikerjakan para penulisnya, ini sebuah kemunduran," ungkap Truman.

Kemudian, ada kekeliruan-kekeliruan dalam substansi maupun struktur atau alur pikir pemaparan, termasuk menyangkut kontennya. Begitu pun ada pemaksaan mengubah terminologi 'prasejarah' menjadi 'sejarah awal'.

Padahal, istilah itu sudah digunakan lebih dari 200 tahun yang lalu secara internasional hingga kini. Oleh karena itu, istilah prasejarah semestinya tidak perlu lagi diperdebatkan.

Di Indonesia sendiri, penerbitan buku sejarah nasional selalu menggunakan kata "prasejarah" untuk jilid I. Salah satunya pada tahun 1984 ketika diterbitkan buku sejarah nasional Indonesia.

Kemudian ketika dia dimintai bantuan untuk ikut mengeditor buku sejarah pada tahun 2012, tim juga menggunakan istilah zaman prasejarah atau periode prasejarah.

"Sekarang di 2025, mereka menggantikan menjadi sejarah awal Nusantara. Pertanyaan besarnya, apa yang terjadi sebetulnya dalam proses penyusunan ini hingga merubah terminologi itu, itu pertanyaan besarnya. Waktu itu tidak ada jawaban yang jelas," imbuh Truman.

Rekomendasi