Antusiasme warga mengikuti ritual larung sesaji Gunung Kelud

Minggu, 1 Oktober 2017 06:34 Reporter : Imam Mubarok
Antusiasme warga mengikuti ritual larung sesaji Gunung Kelud Tradisi larung sesaji 2. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Ribuan warga lereng Gunung Kelud, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menggelar ritual larung sesaji untuk mensyukuri berkah dari Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan tanah yang subur, Sabtu (30/9). Masyarakat mengarak berbagai hasil bumi dan tumpeng menuju puncak gunung untuk diperebutkan bersama-sama.

Dalam ritual larung sesaji ini, masyarakat Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, mengarak berbagai hasil bumi. Di antaranya sayur sayuran, buah buahan, tumpeng sesaji serta seorang remaja putri yang ditokohkan sebagai Dewi menuju ke puncak Gunung Kelud.

Setelah diarak sampai di puncak, kurang lebih satu kilometer dari kawah sesepuh desa kemudian memanjatkan doa-doa. Tradisi ini digelar setiap tahun di bulan suro sebagai bentuk rasa syukur terhadap tuhan yang sudah memberian berkah berupa tanah subur di sekitar Gunung Kelud.

Ritual ini mampu menyedot perhatian dari ribuan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Salah satunya Ida Ayu Gede Sesrani dari pulau Bali.

"Ritual larung sesaji di Gunung Kelud adalah budaya yang harus tetap dilestarikan," kata Ida Ayu Sesrani.



Acara tradisional ini erat kaitannya dengan Legenda Lembusuro, tokoh sakti penguasa Gunung Kelud. Dalam legenda dikisahkan Lembusuro gagal mempersunting putri dari kerajaan kediri Dewi Kilisuci yang akhirnya mengeluarkan kutukan akan menghancurkan Kediri dengan letusan Gunung Kelud.

"Ritual ini juga dimaksudkan sebagai tolak bala yang dari kutukan Lembusuro yang diyakini bersemayam di kawah Gunung Kelud," kata Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri, Adi Suwignyo.

Dalam pelaksanaannya, larung sesaji kali ini berbeda dari sebelumnya karena dilaksanakan di tengah jalan sementara tahun-tahun sebelumnya di danau kawah. Pasca Gunung Kelud erupsi 13 Februari 2014 lalu danau kawah Gunung Kelud berada di cekungan yang kondisinya membahayakan untuk dilewati. Hingga akhirnya aneka hasil bumi tumpeng dan sesaji yang sudah didoakan diperebutkan dan dinikmati bersama. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. Tradisi Jawa
  2. Kediri
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini