Analisa SBY: Mungkinkah Perang Dunia Ketiga Terjadi?

Selasa, 7 Januari 2020 16:54 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Analisa SBY: Mungkinkah Perang Dunia Ketiga Terjadi? Pidato SBY Refleksi Akhir Tahun. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS) kian panas. Hal ini terjadi usai serangan udara militer AS di Baghdad yang menewaskan jenderal top Iran, Qasem Soleimani. Iran bersumpah akan membalas serangan itu.

Kondisi panas ini membuat Presiden ke enam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut berkomentar. SBY menulis kondisi timur tengah yang kembali membara.

SBY mengatakan, bagi yang berharap tahun 2020 ini dunia kita menjadi lebih aman dan damai, harus bersiap untuk kecewa. Bahkan frustrasi. Tidak ada tanda-tanda untuk itu. Yang terjadi, di awal tahun baru ini kawasan Timur Tengah kembali membara.

"Tahun 2019 yang baru kita tinggalkan ditandai dengan maraknya gerakan protes sosial. Kemarahan dan perlawanan rakyat terjadi di lebih dari 30 negara. Mereka melawan pemimpin dan pemerintahannya karena merasa tidak mendapatkan keadilan, ekonominya sulit dan ruang kebebasan untuk berekspresi dibatasi," tulis SBY dalam akun Facebooknya, dikutip merdeka.com, Selasa (7/1).

SBY menganalisa, gerakan protes itu muncul dipicu dari beragam persoalan. Mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan, harga-harga naik sementara daya beli rakyat turun, hingga pemerintahnya dinilai korup sementara beban utang negara meningkat tajam.

Berikut tulisan lengkap SBY terkait Geopolitik Timur Tengah:

Bagi yang berharap tahun 2020 ini dunia kita menjadi lebih aman dan damai, harus bersiap untuk kecewa. Bahkan frustrasi. Tidak ada tanda-tanda untuk itu. Yang terjadi, di awal tahun baru ini kawasan Timur Tengah kembali membara.

Tahun 2019 yang baru kita tinggalkan ditandai dengan maraknya gerakan protes sosial. Kemarahan dan perlawanan rakyat terjadi di lebih dari 30 negara. Mereka melawan pemimpin dan pemerintahannya karena merasa tidak mendapatkan keadilan, ekonominya sulit dan ruang kebebasan untuk berekspresi dibatasi.

Ragamnya berbeda-beda. Mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan, harga-harga naik sementara daya beli rakyat turun, hingga pemerintahnya dinilai korup sementara beban utang negara meningkat tajam. Juga karena pemimpinnya dianggap ingin terus berkuasa dengan cara mengubah konstitusi dan undang-undang. Juga pemilihan umum yang baru saja dilaksanakan dianggap curang, sehingga rakyat tidak terima dan turun ke jalan.

Yang lain, rakyat merasa ruang kebebasan untuk berekspresi ditutup disertai tindakan-tindakan yang represif dari pihak penguasa. Ada juga, terutama di negara-negara maju, rakyat marah karena pemerintahnya dianggap lalai dan tak serius dalam melawan perubahan iklim dan krisis lingkungan.

Sementara gejolak sosial global di tahun 2019 itu belum sepenuhnya usai, kini dunia menghadapi ancaman yang lebih serius. Geopolitik di kawasan Timur Tengah (Raya) kembali mendidih, yang sangat bisa merobek keamanan internasional yang sudah rapuh. Mengapa banyak pihak sungguh cemas dengan perkembangan terbaru di kawasan ini, karena banyaknya negara yang melibatkan diri dengan kepentingan yang berbeda-beda.

Baca Selanjutnya: Belum non-state actors yang selama...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini