Anak muda era sekarang diminta aktif berpartisipasi dalam politik
Merdeka.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kerap mengusung konsep sebagai partai anak muda. Tetapi gagasan mengusung politik anak muda bukan tanpa tantangan.Terutama menyadarkan agar mereka ikut berpartisipasi langsung.
Ketua Umum DPP PSI Grace Natalie berkaca pada fenomena Brexit di Inggris dan kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat. Itu menunjukkan tingginya aktivitas anak-anak muda di media sosial, tetapi tidak mau datang memilih ke tempat pemilihan.
"Generasi milenial sangat energetik, kreatif, dan fasih dengan teknologi. Tetapi bagaimana mendorong agar partisipasi politiknya juga tinggi," ungkap dalam keterangannya, Rabu (23/11).
Soladarity Lecturer dicanangkan setiap Rabu ini merupakan perdana. Dalam kesempatan ini, hadir sebagai pembicara Direktur Saiful Mujani Research and Consulting, Djayadi Hanan; Direktur Eksekutif CSIS, Philip J. Vermonte; dan mantan jurnalis Kompas, Andy Budiman sebagai moderator.
Djajadi Hanan mengakui jumlah pemilih sangat besar, bahkan mayoritas. Karena pemilih usia muda, khususnya 38 tahun ke bawah, mencapai 55 persen. Namun, dia mengingatkan, sebagai partai baru, PSI harus menggunakan pendekatan lebih personal dan segmentasi untuk menggarapnya.
"Jadilah tokoh di tempat masing-masing, beda dengan partai-partai besar yang punya tokoh nasional," usul Djajadi.
Menurut dia, itu perlu dilakukan lantaran anak muda kurang suka dengan isu-isu politik. Mereka lebih suka yang sifatnya nonpolitis. "Mereka gandrung dengan aktivisme sosial, tetapi tidak diwujudkan dalam organisasi yang birokratik, lebih suka yang kurang formal dan cross-cutting," ucapnya.
Tantangan lain, lanjut Djajadi, volatilitas anak muda dalam perilaku memilih tinggi, mudah pindah ke lain hati. "Positifnya, ini peluang bagi partai baru, sepanjang bisa memberi jawaban atas persoalan anak muda," ujarnya.
Sementara itu, Philips J Vermonte menyarankan demografi pemilih usia muda harus dipetakan di tingkat dapil. Penting pula dicari irisan antara usia dengan kelas ekonomi.
"Semua partai akan mencari pemilih anak muda, tetapi pasti beda antara anak muda PSI yang melek socmed dengan anak muda PDIP yang menarasikan wong cilik," kata Philips.
PSI harus melakukan kampanye yang berbasis data, tidak bisa menjaring semua pemilih, harus sesuai segmentasi. "Tidak jadi soal pola kampanye yang retrospektif (mengumbar prestasi) ataukah prospektif (menawarkan janji-janji asalkan kredibel)," tandasnya.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya