Anak-anak Pengungsian di Nduga Trauma Interaksi dengan Aparat

Kamis, 18 Juli 2019 18:05 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Anak-anak Pengungsian di Nduga Trauma Interaksi dengan Aparat Anak pengungsi Nduga di Kota Wamena. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Tim Solidaritas untuk Papua, Hipolitus Wangge mengatakan, banyak anak-anak pengungsi trauma saat melihat aparat. Anak-anak tersebut merupakan warga pengungsi pasca peristiwa penembakan di Nduga, Papua pada akhir tahun lalu.

Hipolitus bercerita, saat itu anak-anak pengungsi sedang belajar di sekolah darurat pengungsian yang dibangun relawan. Ketika aparat melihat kondisi, anak-anak takut dan kabur.

"Ketika aparat datang dan melihat kondisi, anak anak ini lari dan kabur, salah satunya ketakutan yang sangat mendalam ketika melihat aparat memakai pakaian resmi," katanya saat diskusi situasi Nduga, Papua di kantor LBH, Jakarta Pusat, Kamis (18/7).

Menurutnya, perlu ada proses penyembuhan trauma dari bantuan negara. Pihaknya pun saat ini belum memiliki relawan profesional guna menyembuhkan trauma mendalam. Relawan yang ada saat ini juga bantuan dari warga Nduga yang mengungsi dan menetap di Wamena.

"Jadi karena mereka tidak memiliki pengalaman sehingga menimbulkan kesulitan, salah satunya penanganan trauma," ujar Hipolitus.

"Memunculkan rasa takut ketika berhadapan dengan aparat TNI dan Polri dalam satu momen ketika gelombang pengungsian di bulan Januari (2019) ada beberapa pihak aparat sempat datang ke lokasi pengungsian," tambahnya.

Oleh karena itu, Tim Solidaritas untuk Papua merekomendasikan supaya negara menarik aparat di wilayah Nduga.

"Sejauh ini dalam satu rekomendasi laporan kami adalah mengevaluasi keberadaan sekian ratus aparat yang berada di Nduga," tutup Hipolitus. [fik]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini