Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki Masih Tinggi, Badan Geologi Tetapkan Status Awas Level IV
Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur masih tinggi dan berstatus Level IV (Awas) per 1 Desember 2025, mengindikasikan potensi erupsi.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih berada pada tingkat yang sangat tinggi. Status gunung api ini resmi ditetapkan pada Level IV atau Awas, berdasarkan analisis komprehensif dari data visual, kegempaan, dan deformasi terbaru. Penetapan status ini dilakukan menyusul pemantauan intensif hingga 1 Desember 2025, yang menunjukkan indikator peningkatan.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa data instrumental dan pengamatan langsung menunjukkan indikasi kuat adanya pergerakan magma yang signifikan. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat sekitar serta pihak berwenang di wilayah tersebut. Laporan khusus mengenai perkembangan aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki Level IV (Awas) ini dirilis pada 2 Desember 2025, menekankan urgensi situasi.
Meskipun erupsi besar belum terjadi sejak terakhir kali tercatat pada 18 Oktober 2025 pukul 00.44 WITA, potensi letusan tetap ada dan terus dipantau secara ketat. Informasi ini bertujuan untuk memastikan keselamatan warga dan meminimalkan risiko bencana yang mungkin timbul. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti arahan resmi serta tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Indikasi Visual dan Kegempaan yang Meningkat
Pemantauan visual terhadap Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan kondisi yang bervariasi, dari terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan intensitas sedang. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal, mencapai ketinggian sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca di sekitar gunung cerah hingga hujan, dengan angin lemah bertiup ke arah utara, timur laut, barat daya, barat, dan barat laut, serta suhu udara berkisar 21-33 derajat Celcius.
Data kegempaan yang terekam dari tanggal 30 November 2025 hingga 1 Desember 2025 pukul 12.00 WITA menunjukkan aktivitas seismik yang cukup tinggi. Tercatat sebanyak 33 kali gempa tremor non-harmonik, enam kali gempa low frequency, dan sembilan kali gempa vulkanik dalam. Selain itu, terdeteksi satu kali gempa tektonik lokal dan tujuh kali gempa tektonik jauh, mengindikasikan pergerakan di bawah permukaan.
Aktivitas kegempaan yang masih terekam, khususnya gempa vulkanik dalam, gempa low frequency, dan gempa tremor non-harmonik dalam jumlah relatif tinggi, menjadi perhatian utama. Lana Saria menjelaskan bahwa hal ini mengindikasikan suplai magma masih terus berlangsung ke permukaan. Pergerakan magma ke permukaan ini juga diindikasikan oleh terekamnya gempa low frequency, yang merupakan sinyal penting bagi para ahli geologi.
Analisis Deformasi dan Potensi Erupsi
Pengukuran deformasi menggunakan Tiltmeter menunjukkan adanya akumulasi tekanan pada sumbu X (tangensial), yang merupakan indikator potensi pergerakan massa batuan atau magma. Sementara itu, data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) masih menunjukkan fluktuasi pada komponen vertikal selama satu minggu terakhir. Fluktuasi ini semakin memperkuat dugaan adanya aktivitas di bawah permukaan.
Berdasarkan analisis menyeluruh dari data visual dan instrumental tersebut, Badan Geologi menegaskan bahwa potensi terjadinya erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki masih sangat ada. Oleh karena itu, penetapan status Level IV (Awas) adalah langkah preventif untuk menjaga keselamatan masyarakat. Erupsi terakhir gunung ini terjadi pada 18 Oktober 2025, dan kondisi saat ini memerlukan pengawasan ketat.
Imbauan Kewaspadaan dan Mitigasi Bencana
Badan Geologi meminta masyarakat dan wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius 6 km dari pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menjauhi radius 7 km sektoral pada arah barat laut-timur laut. Kewaspadaan ini penting untuk menghindari risiko langsung dari letusan atau material vulkanik yang mungkin terlontar.
Masyarakat di sekitar wilayah rawan bencana juga diminta untuk mewaspadai potensi banjir lahar apabila terjadi hujan lebat. Terutama pada daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki, seperti di Nawakote, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen. Potensi bahaya ini memerlukan kesiapsiagaan tinggi dari warga setempat.
Bagi warga yang terdampak hujan abu, dianjurkan untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut guna melindungi saluran pernapasan dari partikel-partikel abu vulkanik. Abu vulkanik erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki juga dapat mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan, khususnya apabila sebarannya mengarah ke area bandara dan jalur perlintasan pesawat, sehingga perlu diantisipasi oleh pihak terkait.
Sumber: AntaraNews