Aktivis Lingkungan Soroti Gaya Hidup Thrifting, Ajak Anak Muda Apresiasi Produk Lokal

Fenomena thrifting harus dilihat secara kritis agar lahir perspektif dan solusi yang relevan bagi keberlanjutan

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Aktivis Lingkungan Soroti Gaya Hidup Thrifting, Ajak Anak Muda Apresiasi Produk Lokal
Pembeli barang Thrifting (@ 2023 merdeka.com)

YOGYAKARTA- Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui forum Diskusi Komunikasi Mahasiswa (Diskoma) kembali menggelar Diskusi Publik Edisi ke-26 bertajuk “Di Balik Euforia Thrifting: Gaya Hidup, Krisis Lingkungan, hingga Ilusi Keberlanjutan.” Acara tersebut diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung di kanal YouTube Departemen Ilmu Komunikasi UGM pada Kamis (27/11/2025).

Kegiatan menghadirkan dua pembicara, yaitu Pujia Nuryamin Akbar, Brand Ambassador Sahabat Lingkungan, serta Farhana Nariswari, Puteri Indonesia 2023. Diskusi dipandu oleh Abdul Rohim, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UGM. Kedua pembicara mengulas tren thrifting dari perspektif lingkungan, budaya konsumsi, rantai pasok global, serta tantangannya bagi produk dan industri lokal.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada Dr. Rahayu, dalam sambutannya menyoroti pentingnya membaca fenomena thrifting secara lebih komprehensif, terutama dalam kacamata ilmu komunikasi.

“Industri fashion bergerak sangat cepat dan menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Kita perlu melihat fenomena thrifting bukan hanya sebagai tren, tetapi sebagai persoalan lingkungan yang harus dikritisi agar lahir perspektif dan solusi yang relevan bagi keberlanjutan”, ujarnya dikutip Merdeka.com dari rilis Diskoma Fisipol UGM pada Sabtu (29/11).

Materi pertama disampaikan oleh Pujia Nuryamin Akbar. Ia menjelaskan bahwa istilah thrift sejak abad ke-14 berkaitan dengan nilai kehematan dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab. Menurut Pujia, perkembangan thrifting saat ini tidak dapat dilepaskan dari budaya overconsumption yang dipicu tren digital.

“Bayangkan lemari pakaian kita dapat menjadi sumber mikroplastik karena mayoritas pakaian berbahan polyester. Partikel ini tidak hanya berakhir di TPA, tetapi juga terbawa hingga ekosistem laut”, ungkap Pujia.

Lebih lanjut, Pujia juga menegaskan bahwa thrifting kerap disalahartikan sebagai solusi lingkungan. Menurutnya, thrifting adalah pilihan terakhir, bukan solusi permanen. Keberlanjutan ditentukan bukan oleh apa yang kita beli, melainkan oleh seberapa sedikit yang kita beli. Menutup pemaparannya, Pujia menyampaikan harapan agar generasi muda mampu membangun kebiasaan konsumsi yang lebih kritis dan bertanggung jawab.

Sementara itu, Farhana Nariswari menguraikan dampak fast fashion dan ketimpangan distribusi limbah tekstil dunia. Ia menyampaikan data bahwa sebagian besar pakaian donasi dari negara maju justru berakhir di negara berkembang.

“Hanya sekitar 10 persen pakaian donasi yang benar-benar dipakai kembali. Sisanya 90 persen menjadi limbah yang dibebankan kepada negara-negara berkembang”, ucap pemenang Puteri Indonesia 2023 tersebut.

Farhana turut menekankan pentingnya apresiasi terhadap produk lokal. Ia memperkenalkan konsep produk buatan tangan berkualitas tinggi (artigianale) dan mengaitkannya dengan kekayaan tekstil Indonesia seperti tenun dan batik.

“Saya menggunakan kain dari berbagai daerah dalam sesi pemotretan dan berbagai kegiatan selama rangkaian acara Puteri Indonesia sebagai bentuk dukungan kepada para perajin lokal”, sambung Farhana.

Ia kemudian menutup paparannya dengan ajakan mengonsumsi produk lokal buatan tangan masyarakat Indonesia. Menurutnya produk buatan tangan adalah karya yang bernilai tinggi. Jika ingin melakukan thrifting, maka perlu melakukannya terhadap produk lokal, bukan produk impor yang memperbesar beban lingkungan.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai greenwashing, kebijakan impor pakaian bekas ilegal, potensi ekonomi sirkular, serta strategi penguatan produk lokal. Antusiasme peserta mencerminkan meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap isu keberlanjutan dan industri kreatif nasional.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama para pembicara dan peserta. Melalui acara ini, Diskoma berharap dapat memperkuat kesadaran kritis mahasiswa terhadap isu keberlanjutan sekaligus mendorong perilaku konsumsi yang lebih bijaksana.

Rekomendasi