Banjir merendam sejumlah wilayah di Jakarta setelah curah hujan yang sangat lebat hingga ekstrem. Penyebab utamanya adalah kapasitas drainase yang belum mampu mengimbangi debit air hujan.
"Banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Jakarta terjadi akibat drainase yang tidak mampu menampung debit air akibat curah hujan yang sangat lebat hingga ekstrem. Hujan sangat lebat hingga ekstrem itu terjadi baik di Jakarta maupun di wilayah sekitarnya seperti Depok dan Bogor, Jawa Barat," kata Sekretaris Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Hendri saat dihubungi Liputan6.com, Senin (7/7).
Dia mengatakan, intensitas hujan ekstrem berada di kisaran 150 mm per hari, sedangkan kategori sangat lebat antara 100 hingga 150 mm per hari dan lebat berada di angka 100-150 mm/hari dan 50-100 mm/hari.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Semanan, Jakarta Barat, mencatat intensitas hujan tertinggi yakni 144 milimeter per hari. Di luar Jakarta, curah hujan serupa terjadi di Angke Hulu, Kota Tangerang, dan Pompa Poncol dengan intensitas masing-masing 135 milimeter per hari.
Pun demikian dengan Pasar Minggu 128 milimeter per hari, Halim Perdanakusuma 123
milimeter per hari, serta di sejumlah titik di wilayah hulu seperti Cimanggis dan Depok.
"Berdasarkan data curah hujan BMKG per Senin (7/7/2025), curah hujan sangat lebat yang tertinggi terjadi di kawasan Semanan, Jakarta Barat, dengan intensitas 144 mm/hari," ucap dia.
"Hujan dengan intensitas sangat lebat juga terjadi di beberapa wilayah di sekitarnya, seperti Angke Hulu (Kota Tangerang) 135 mm/hari, Pompa Poncol 135 mm/hari, Pasar Minggu 128 mm/hari, Halim Perdanakusuma 123 mm/hari, Pompa Arcadia (Kali Mampang) 122 mm/hari, Cimanggis 121 mm/hari, Bukit Duri 1 116 mm/hari, IPAL Kampung Rambutan 112 mm/hari, Cawang Wika 99 mm/hari, Lebak Bulus 98 mm/hari, TMII 94 mm/hari, Kembangan Utara 94 mm/hari, Sunter Hulu 83 mm/hari, Pakubuwono 82 mm/hari, Pompa Perdatam 81 mm/hari, Manggarai 70 mm/hari, Depok 1 63 mm/hari," papar dia.
Fenomena cuaca ekstrem di wilayah hulu menyebabkan debit sungai-sungai yang melintasi Jakarta mengalami peningkatan. Kondisi ini diperparah dengan permukaan air laut yang cukup tinggi di pesisir utara Jakarta.
"Banjir kali ini disebabkan beragam faktor, mulai dari curah hujan yang tinggi baik di wilayah Jakarta maupun di daerah hulu sungai. Pada saat bersamaan, kondisi permukaan air laut di pesisir Jakarta juga cukup tinggi, sehingga upaya pengendalian banjir perlu dilakukan secara terukur dan penuh hati-hati," ucap dia.
Tidak cuma itu, Hendri menerangkan, kapasitas drainase yang ada saat ini baru mampu menampung sekitar 1.414 meter kubik air per detik, sementara kebutuhan saat hujan ekstrem bisa mencapai 2.357 meter kubik per detik.
"Berdasarkan data, kapasitas drainase eksisting mampu menampung 1.414 meter kubik (m3) per detik. Sementara itu desain kapasitas drainase berada di angka 2.357 m3 per detik, sehingga debit air yang belum tertampung ialah 942 m3," ujar dia
Untuk menutupi kekurangan kapasitas kapasitas drainase, Dinas SDA terus melakukan upaya peningkatan infrastruktur pengendalian banjir. Langkah-langkah itu meliputi pengerukan situ, embung, waduk, dan kali, serta pembangunan polder baru di kawasan-kawasan rawan.
"Untuk itu, masih diperlukan peningkatan kapasitas drainase yang di antaranya dengan melakukan pengerukan waduk/situ/embung dan sungai/kali serta pembangunan polder," ucap dia.
Namun, upaya peningkatan kapasitas ini masih belum merata di seluruh wilayah. Beberapa kawasan sungai besar di Jakarta masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.
"Wilayah-wilayah yang perlu dilakukan normalisasi di antaranya Kali Ciliwung segmen Pengadegan, Cawang, Kali Pesanggrahan Segmen Jalan H. Marzuki, serta Kali Krukut Segmen Jalan NIS," ucap dia.
Sementara itu, untuk mempercepat surutnya genangan, Dinas SDA mengerahkan Satgas Pasukan Biru serta pompa mobile. Selain itu pompa stasioner yang tersebar di beberapa lokasi di Jakarta juga beroperasi.
Pompa mobile ini berfungsi untuk mempercepat penanganan genangan yang terjadi di jalan besar, pemukiman maupun area yang tidak terdapat pompa stasioner.
"Dengan adanya pompa mobile ini diharapkan agar genangan yang terjadi di suatu lokasi bisa cepat tertangani," ucap dia.
Selain itu, Dinas SDA juga bekerja sama dengan BPBD DKI Jakarta serta perangkat daerah guna mempercepat penanganan genangan. Namun demikian, kendala masih dihadapi di lapangan.
"Kendala di lapangan umumnya berupa tali-tali air yang tersumbat sampah sehingga menghambat aliran air ke saluran drainase. Selain itu ada 5 pompa yang terbakar akibat beroperasi terus-menerus. Namun insiden tersebut tidak mengurangi upaya pengendalian banjir," tandas dia.