3 Tahun Tragedi Kanjuruhan: Keluarga dan Suporter Doa Bersama di Stadion Kanjuruhan

Tiga tahun berlalu, keluarga korban dan suporter menggelar doa bersama di Stadion Kanjuruhan, Malang, mengenang 135 korban Tragedi Kanjuruhan dan menuntut keadilan yang belum usai.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
3 Tahun Tragedi Kanjuruhan: Keluarga dan Suporter Doa Bersama di Stadion Kanjuruhan
Tiga tahun berlalu, keluarga korban dan suporter menggelar doa bersama di Stadion Kanjuruhan, Malang, mengenang 135 korban Tragedi Kanjuruhan dan menuntut keadilan yang belum usai. (Merdeka.com)

Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan bersama masyarakat dan suporter sepak bola kembali berkumpul dalam sebuah acara doa bersama. Kegiatan ini diselenggarakan di kawasan Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Rabu malam, 1 Oktober, untuk memperingati tiga tahun peristiwa pilu tersebut.

Ribuan orang larut dalam lantunan shalawat dan doa, memanjatkan harapan bagi 135 korban meninggal dunia yang jatuh pada 1 Oktober 2022. Acara ini menjadi simbol kuat untuk "merawat ingat dan menolak lupa" terhadap tragedi yang mengguncang dunia sepak bola Indonesia.

Peringatan tahunan ini tidak hanya menjadi ajang spiritual, tetapi juga pengingat akan perjuangan panjang keluarga korban. Mereka terus menuntut keadilan bagi para mendiang, memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.

Doa bersama yang dipusatkan di jalan utama Stadion Kanjuruhan ini dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Suasana haru dan khidmat menyelimuti area tersebut, di mana ribuan pasang mata dan hati bersatu dalam duka dan harapan.

Nuri Hidayat, perwakilan dari keluarga korban Jovan Farellino Yuseifa Pratama Putra, mengungkapkan pentingnya kegiatan ini. "Dengan acara ini bisa merawat ingat dan menolak lupa, kami berharap setiap tahun ada kegiatan seperti ini sehingga tidak dilupakan," ujarnya di area Gate 13 Stadion Kanjuruhan.

Di depan pintu besi berwarna biru Gate 13, yang menjadi saksi bisu tragedi, berjejer buket dan taburan bunga sebagai bentuk penghormatan. Beberapa orang terlihat silih berganti memanjatkan doa di tempat tersebut, sementara bekas poster tuntutan keadilan masih jelas tertempel.

Tradisi doa bersama ini bukan hanya agenda tahunan; keluarga korban juga rutin mengadakan kegiatan serupa di waktu-waktu tertentu. Mereka berupaya menjaga ingatan kolektif masyarakat agar Tragedi Kanjuruhan tidak pernah pudar dari benak publik.

Tiga tahun berlalu sejak Tragedi Kanjuruhan, Nuri Hidayat menegaskan bahwa perjuangan keluarga korban untuk menuntut keadilan masih terus berlanjut. Berbagai upaya telah ditempuh, mulai dari proses banding hingga pengiriman surat permintaan audiensi ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Nuri juga menyoroti proses restitusi yang tidak semua keluarga korban dapat mengajukan pada saat itu. "Saat tim restitusi itu pengajuan kan tidak semua mengajukan karena saat itu masih berduka atau bagaimana, sehingga kemarin 72 keluarga yang dapat, Rp10 juta per korban," jelasnya.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, keluarga korban tetap berpegang teguh pada dua sisi perjuangan, yaitu melalui jalur hukum dan keagamaan. Nuri merasa bersyukur atas dukungan penuh yang mereka terima dari seluruh elemen masyarakat dalam rangkaian doa bersama ini.

"Dengan keimanan kami diperkuat dan berdoa. Hablum minallah kami ikhlas dan Hablum minannas kami masih dongkol," kata Nuri, menggambarkan ketabahan dan sekaligus kekecewaan yang masih dirasakan keluarga korban. Ini menunjukkan bahwa meskipun menerima takdir, tuntutan keadilan duniawi tetap menjadi prioritas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi