Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

3 Masjid Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Solo

3 Masjid Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Solo 3 Masjid jadi Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Solo. ©2020 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Merdeka.com - Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan sebutan Kota Solo mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Penyebaran agama Islam tak lepas dari keberadaan keraton peninggalan dinasti Mataram.

Selain Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Dan Mangkunegaran, sebelumnya juga ada Keraton Pajang. Ketiga kerajaan tersebut menjadikan masjid sebagai sarana syiar Islam pada masa itu.

1. Masjid Laweyan

Masjid Laweyan, menjadi masjid pertama yang berdiri di wilayah Surakarta. Masjid yang terletak di Kelurahan Laweyan, berbatasan dengan Desa Banaran Grogol, Kabupaten Sukoharjo ini didirikan tahun 1546, oleh Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang, kerajaan yang kemudian menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam.

Berdasarkan catatan sejarah, sebelum dibangun Masjid Laweyan, lokasi tersebut terdapat pura Hindu yang dibangun oleh Ki Beluk. Ia pun sempat tinggal dan menjalin persahabatan dengan Ki Ageng Henis, orang kepercayaan Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya.

3 masjid jadi saksi sejarah penyebaran islam di solo

Pada masa itu, Ki Ageng Henis juga dikenal sebagai saudagar batik dan tokoh yang mengenalkan serta mengajarkan teknik-teknik pembuatan batik kepada warga Laweyan. Dalam beberapa kesempatan, keduanya sering bertemu untuk berdiskusi seputar ajaran Islam. Seiring berjalannya waktu, Ki Beluk tertarik untuk lebih mendalami dan pada akhirnya memeluk Islam. Ia pun akhirnya menyerahkan pura tersebut untuk difungsikan sebagai sebuah masjid.

Meski masih difungsikan, namun saat pandemi Covid-19, masjid tersebut tertutup dari aktivitas warga sekitar. Tak satupun jemaah yang tampak di dalam maupun luar bangunan masjid.

2. Masjid Al Wustho

Masjid Al Wustho pada masa Raja Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunagara I (1725-1795) dan kemudian direnovasi pada masa Mangkunegara VII (1916-1944). Hingga saat ini masjid yang terletak di sebelah barat istana Jalan Kartini tersebut nampak masih kokoh.

Pada saat pembangunannya, masjid yang menjadi "masjid negara" pada saat itu, melibatkan arsitektur Belanda bernama Herman Thomas Karsten. Pada masa Istana Mangkunegaran, masjid ini difungsikan sebagai Lambang Panotogomo (urusan agama).

3 masjid jadi saksi sejarah penyebaran islam di solo

Masjid yang digunakan untuk syiar Islam saat itu terdiri dari beberapa bagian. Diantaranya, serambi yang di bagian depan masjid, maligin yang digunakan untuk melaksanakan khitanan bagi putra kerabat Mangkunegaran, ruang salat utama dan pawasteren yang merupakan bangunan tambahan untuk shalat kaum perempuan.

Masjid bercat putih ini juga memiliki menara yang digunakan untuk mengumandangkan adzan. Menara ini dibangun pada masa raja Mangkunegara VII.

3. Masjid Agung Surakarta

Masjid yang identik dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini dibangun pada masa Paku Buwono III, mulai 1763 dan selesai pada 1768. Hingga saat ini masjid ini masih konsisten menggelar ritual-ritual keraton sebagai sarana syiar Agama Islam.

Sejumlah kegiatan keraton yang terkait dengan perayaan keagamaan digelar secara rutin di Masjid Agung. Diantaranya, Sekaten yang digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Malem Selikuran untuk memperingati 10 hari terakhir Ramadhan. Kemudian kirab pusaka 1 Sura untuk memperingati Tahun Baru Islam serta sejumlah Grebeg lainnya.

"Ramadhan ini sebenarnya kalau tidak ada Corona, ada acara 'Malem Selikuran'. Dan ada pembagian zakat fitrah dari raja dan keluarga," ujar Sekretaris Pengurus Masjid Agung Surakarta Abdul Basith kepada merdeka.com, Rabu (30/4).

3 masjid jadi saksi sejarah penyebaran islam di solo

Menurut Basith, sebagai salah satu masjid tertua, Masjid Agung Surakarta memiliki peranan penting dalam penyebaran dan syiar Islam di Solo dan sekitarnya. Apalagi setiap ritual budaya atau tradisi yang digelar di keraton masih dibanjiri warga, bahkan menjadi agenda wisata Kota Solo.

"Sampai saat ini kami masih konsisten. Tradisi-tradisi keraton masih kita uri-uri (lestarikan)," jelas dia.

Namun sayangnya, semenjak Kota Solo berstatus KLB (kejadian luar biasa) Corona, sejumlah kegiatan tak bisa dilakukan. Dari mulai salat Jumat, salat berjamaah, salat Terawih dan kajian lainnya. Ia berharap kondisi Kota Solo saat ini segera membaik, sehingga syiar Islam di Masjid Agung Surakarta bisa kembali dilakukan.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP