20 Tahun berlalu, cita-cita reformasi belum terwujud
Merdeka.com - Setelah 20 tahun berlalu, cita-cita reformasi yang diidamkan belum banyak terwujud. Bahkan, saat ini banyak yang tercecer dalam sejarah reformasi.
Menurut mantan penasehat Adnan Buyung Nasution yang saat itu menjabat sebagai Ketua YLBHI, Rocky Gerung, tujuan reformasi yang utama adalah mengembalikan akal sehat.
"Ini karena saat orde baru, yang boleh ada hanya akal militeristik," jelasnya dalam diskusi Refleksi 20 Tahun Reformasi; Indonesia Darurat Korupsi, di Star Hotel Semarang, Selasa (29/5).
Rocky menegaskan, saat orde baru yang selalu didengungkan adalah kata revolusi. Namun karena terkesan ke-kiri-an, akhirnya muncul reformasi.
"Tapi ini lebih lembek ya, setelah reformasi ada yang pingin restorasi," ucapnya.
Perubahan ini diakuinya memengaruhi kuantitas pergerakan, tapi bukan secara kualitas. Dia menilai rakyat Indonesia harus gelisah karena telah kehilangan konsep kenegaraan.
"Ini karena problem literasi. Negara itu punya kewajiban mencerdaskan kehidupan warganya. Tapi bagaimana mau cerdas kalau kasih kritik dimusuhi," ungkapnya.
Rasa permusuhan tersebut, dikarenakan penguasa hanya mengejar elektabilitas dan meminggirkan intelektualitas. "Sekarang semua hanya mengejar elektabilitas. Generasi muda jangan sampai menghilangkan budaya debat yang bermutu," paparnya.
Sementara, calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said mengungkapkan salah satu keuntungan reformasi adalah adanya pilkada langsung. Tapi di sisi lain, hal tersebut menjadikan korupsi merajalela.
"Hampir semua pimpinan lembaga tinggi negara ditangkap KPK. Mulai dari DPD, MK, DPR. Ratusan kepala daerah juga ditangkap. Ini sudah termasuk keadaan darurat korupsi," kata Sudirman.
Selain jumlah orang yang ditangkap, jumlah nilai yang dikorupsi juga fantastis. "Sekarang rekornya adalah e-KTP yang dihitung sampai Rp 2,5 triliun. Karenanya, jika ada ungkap kasus dengan jumlah di bawah itu, dianggap biasa. OTT KPK cuma Rp 5 miliar, Rp 100 miliar, biasa. Padahal tindakan korupsi itu sendiri sudah termasuk tsunami moral," tegasnya.
Sudirman juga menyoroti campur tangan pemerintah dalam pemberantasan korupsi. "Bagaimana bisa, ada statemen harap penyelesaian kasus yang melibatkan calon kepala daerah dihentikan hingga pemilihan selesai. Anehnya lagi, mahasiswa diam, masyarakat diam. Mungkin sikap permisif ini yang menjadikan korupsi subur," paparnya.
Sudirman berharap agar orang-orang baik terjun langsung ke dunia politik. "Masuk ke politik praktis itu tidak ada salahnya. Tujuannya untuk mengembalikan nalar dan kewarasan moral," tegasnya. Dia juga berharap agar Pemilu Legislatif 2019 diisi caleg-caleg anak muda yang berintegritas tinggi.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya