USBN berbasis kertas, sekolah di Mojokerto keluhkan biaya yang mahal

USBN berbasis kertas, sekolah di Mojokerto keluhkan biaya yang mahal. Menurutnya, sistem ujian berbasis kertas ini tingkat kebocorannya sangat tinggi dibandingkan sistem komputer. Sebab, soal ujian didistribusikan ke sekolah dalam bentuk file. Proses cetak dan penggandaan, diserahkan ke sekolah masing-masing.

Budi Widayat
Oleh Budi Widayat - Reporter
USBN berbasis kertas, sekolah di Mojokerto keluhkan biaya yang mahal
pelaksanaan USBN di Mojokerto. ©2017 Merdeka.com/budi

Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menerapkan sistem Ujian Sekolah Berbasis Kertas (USBK) dikeluhkan sekolah di Mojokerto. Sistem ujian ini dinilai tingkat kebocoranya lebih tinggi dan biayanya lebih mahal. Bahkan di SMA Negeri 1 Sooko, Jatim, yang sebelumnya menggunakan ujian sistem komputer, tahun ini menggunakan sistem kertas.Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Negeri 1 Sooko, Kabupaten Mojokerto mengatakan, ini kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, semua sekolah diwajibkan melaksanakan ujian sekolah berbasis kertas. Meskipun sebelumnya sudah menggunakan sistem komputer."Ya kita melaksanakan sesuai instruksi Cabang Dinas Pendidikan Pemprov Jatim," kata Budi.Menurutnya, sistem ujian berbasis kertas ini tingkat kebocorannya sangat tinggi dibandingkan sistem komputer. Sebab, soal ujian didistribusikan ke sekolah dalam bentuk file. Proses cetak dan penggandaan, diserahkan ke sekolah masing-masing."Soal dalam bentuk file, diterima hari Selasa (14/3) kemarin, kemudian dicetak dan digandakan sekolah tanpa pengawalan aparat keamanan. Ujiannya dilaksanakan hari ini," jelas dia.Selain tingkat kebocoran lebih tinggi, biaya untuk cetak dan penggandaan lebih mahal. Sedangkan jika menggunakan ujian berbasis komputer, relatif tidak butuh biaya."Penggandaan soal untuk 6 mata pelajaran dengan jumlah siswa sebanyak 441 siswa, butuh biaya sampai Rp 8 juta. Tahun lalu menggunakan sistem komputer, tidak mengeluarkan biaya sama sekali," tambahnya.Sementara Endang Binarti, Kepala SMA Satu Sooko, Mojokerto, mengaku sudah meminta ke Dinas Pendidikan Profinsi Jawa Timur, supaya tetap diperbolehkan melaksanakan ujian sekolah dengan sistem komputer. Tapi dilarang karena ini sudah menjadi kebijakan dan diterapkan di semua sekolah di Jawa Timur."Kita sudah pernah meminta ke Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, tapi kita tetap diminta melaksanakan ujian sekolah sesuai kebijakan Pemprov Jatim," katanya.Masih kata Endang, di SMA 1 Sooko, ujian berbasis komputer sudah dilaksanakan sejak 4 tahun lalu. Bahkan tahun kemarin Ujian Nasional sudah menggunakan siatem komputer."Kita sudah menerapkan ujian berbasis komputer sejak 4 tahun lalu untuk ujian ulangan sekolah. Untuk Ujian Nasional tahun kemarin, juga berbasis komputer," tambahnya.Endang menambahkan, di SMA 1 Sooko laboratorium komputer ada 4 ruangan. Dan jumlah komputer yang ada, cukup untuk pelaksanaan ujian sekolah. Sedangkan jumlah siswa yang melaksanakan ujian sekolah tahun ini sebanyak 441 siswa."Fasilitas yang ada cukup untuk pelaksanaan ujian sekolah yang tahun ini jumlahnya 441 siswa. Kita berharap Pemerintah Provinsi Jatim menerapkan ujian berbasis komputer untuk sekolah yang sudah siap fasilitas pendukungnya," pungkasnya.Seperti diketahui, Ujian Sekolah berbasis kertas yang diterapkan Provinsi Jawa Timur tahun 2017 ini, dilaksanakan selama 4 hari mulai Senin sampai hari Kamis (23/3). Ada 6 mata pelajaran yang diujikan bagi siswa SMA.

Rekomendasi