Kisah serangan kedua yang dilakukan oleh Belanda di Perang Aceh
Merdeka.com - Kalau kamu mendengar tentang Aceh, pasti kamu langsung teringat dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di sana. Salah satu peristiwa yang pernah terjadi di Aceh adalah Perang Aceh. Perebutan Masjid Raya Baiturrahman yang terjadi di serangan pertama Belanda berhasil digagalkan oleh pihak Aceh.
Di tanggal 9 Desember 1873, Belanda melakukan serangannya yang kedua. Karena Kohler yang dulu menjadi kapten di serangan pertama sudah terbunuh, di serangan kedua ini J van Swietenlah yang memimpin. Pertempuran sengit ini terjadi di istana dan masih di Masjid Raya Baiturrahman. Para pejuang Aceh masih harus mempertahankan masjid dari serangan brutal yang dilakukan oleh Belanda.
Di situasi itu, masjid terus menerus dilempari peluru dan di tanggal 6 Januari 1874, Belanda membakar masjid raya itu. Ulama dan para pejuang memutuskan untuk meninggalkan masjid. Setelah itu, tentara Belanda mengarahkan target ke Istana.
Di tanggal 15 Januari 1874, Belanda sudah bisa menduduki Istana karena Sultan Mahmud Syah II dan para pejuang lainnya memutuskan untuk meninggalkan dan menuju ke Leueung Bata. Namun, di tanggal 28 Jnauari 1874 sang sultan meninggal karena wabah kolera. Dengan jatuhnya Masjid Raya Baiturrahman dan Istana, Belanda berani untuk menyatakan bahwa wilayah Aceh Besar sudah menjadi milik Belanda.
Para ulebalang, ulama dan rakyat nggak mempermasalahkan pernyataan Belanda karena mereka sudah mengangkat Muhammad Daud Syah sebagai sultan Aceh. Namun karena terlalu kecil, maka diangkatlah Tuanku Hasyim Banta Muda untuk menjadi sultan sampai tahun 1884. Tentunya perjuangan rakyat dan prajurit Aceh ini belum selesai begitu saja. Perjuangan mereka hanya akan berakhir dengan syahid atau menang, sesuai dengan pedoman Al-Qur’an. (mdk/iwe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya