Pengaruh BBM Oplosan dan Oktan Rendah pada Kendaraan

BBM oplosan dan oktan rendah berisiko merusak mesin kendaraan dan meningkatkan emisi gas buang.

Nurrohman Sidiq
Oleh Nurrohman Sidiq - Reporter
Pengaruh BBM Oplosan dan Oktan Rendah pada Kendaraan
Pengaruh BBM Oplosan dan Oktan Rendah pada Kendaraan (Merdeka.com)

Pemilihan bahan bakar minyak (BBM) yang tepat sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan sangat krusial untuk mempertahankan kinerja dan daya tahan mesin. Penggunaan BBM dengan oktan yang rendah atau bahkan BBM campuran dapat mengakibatkan kerusakan yang signifikan, mulai dari detonasi (knocking), mesin yang boros, hingga peningkatan emisi gas buang.

Isu mengenai BBM campuran kembali mencuat setelah terungkapnya dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina (Persero). Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan 7 orang sebagai tersangka dalam kasus ini yang mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp 193,7 triliun.

Jadi, apa sebenarnya dampak dari BBM oplosan dan BBM beroktan rendah terhadap kendaraan? Berikut adalah efek yang perlu dipahami agar pemilik kendaraan dapat menghindari risiko besar bagi mesin mereka.

Angka oktan (Research Octane Number/RON) menggambarkan kemampuan bahan bakar untuk menahan tekanan sebelum mengalami pembakaran spontan.

Nilai oktan yang lebih tinggi berarti tekanan yang diperlukan untuk pembakaran juga lebih besar, sehingga dapat mencegah terjadinya detonasi atau knocking.

Mesin yang memiliki rasio kompresi tinggi memerlukan bahan bakar dengan angka oktan tinggi agar proses pembakaran dapat berlangsung dengan optimal.

Hal ini sangat penting untuk mempertahankan kinerja mesin dan menghindari kerusakan akibat pembakaran yang tidak terkontrol.

Memanfaatkan bahan bakar minyak (BBM) yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin dapat menimbulkan berbagai masalah pada kendaraan. Berikut adalah beberapa dampak negatif yang mungkin terjadi:

  1. Kerusakan pada komponen mesin
  2. Kenaikan konsumsi bahan bakar
  3. Peningkatan emisi gas buang

Knocking terjadi ketika bahan bakar terbakar lebih awal dari seharusnya karena nilai oktan yang tidak memenuhi standar mesin. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada komponen mesin seperti piston, silinder, dan kepala silinder.

Jika detonasi ini berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan kerusakan yang mahal untuk diperbaiki dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih BBM dengan nilai oktan yang tepat.

BBM dengan oktan rendah mengakibatkan proses pembakaran yang tidak efisien, yang mengurangi tenaga mesin. Hal ini membuat kendaraan tidak dapat beroperasi dengan maksimal, terutama saat melakukan akselerasi atau dalam perjalanan jarak jauh. Penurunan performa ini akan sangat jelas dirasakan ketika kendaraan menghadapi situasi lalu lintas yang padat atau saat melewati tanjakan. Pengemudi sering kali perlu berusaha lebih keras untuk mencapai kecepatan yang diinginkan.

Akibat berkurangnya tenaga yang dihasilkan, pengendara cenderung menekan pedal gas lebih dalam. Hal ini menyebabkan peningkatan konsumsi BBM, sehingga kendaraan menjadi lebih boros.

Dengan bertambahnya penggunaan bahan bakar, biaya operasional kendaraan juga akan meningkat. Ini tentunya menjadi beban tambahan bagi pemilik kendaraan.

Bahan bakar dengan oktan rendah dapat mengakibatkan terbentuknya kerak karbon di ruang bakar. Endapan ini sulit untuk dihilangkan dan dapat mengurangi umur mesin dalam jangka waktu yang lama. Selain memengaruhi kinerja, kotoran ini juga berpotensi menimbulkan masalah lain, seperti kebocoran dan kerusakan pada bagian-bagian mesin.

Proses pembakaran yang tidak optimal dapat meningkatkan emisi karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC). Ini berkontribusi pada polusi udara serta efek rumah kaca.

Peningkatan emisi gas buang ini dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memilih bahan bakar minyak yang sesuai demi menjaga kualitas udara.

Rekomendasi