Bagi banyak anak muda di Indonesia, menjadi petugas Polri bukan hanya profesi, tapi cita-cita besar yang dirawat sejak dini untuk menjadi perwira Polri. Namun, untuk bisa menembus seleksi ketat Akademi Kepolisian (Akpol), mereka harus menempuh jalan panjang—penuh ujian, tekanan, dan kerja keras yang tak kenal waktu.
Di balik proses itu, muncul komunitas-komunitas pembinaan yang hadir bukan untuk memberi jaminan, tapi menyediakan ruang latihan, disiplin, dan pendampingan. Salah satunya adalah Tactical in Police, lembaga pelatihan yang berdiri sejak 2017 di Depok, Jawa Barat. Lembaga ini telah menjadi tempat belajar bagi ribuan peserta yang ingin bergabung dengan institusi seperti TNI, Polri, dan sekolah kedinasan lainnya.
Pada seleksi Akpol 2024, 31 dari 42 peserta bimbingan mereka berhasil mencapai tahap akhir. Tapi bagi tim pengajar di Tactical, angka bukan segalanya.
“Kelulusan adalah hasil. Yang lebih penting adalah proses dan bagaimana peserta belajar menghadapi tekanan dengan cara yang sehat dan terstruktur,” ujar Yatin Nurul Mustofa, bagian dari tim manajemen.
Advertisement
Apa yang membuat tempat ini berbeda? Salah satu jawabannya adalah metode latihan yang meniru kondisi asli seleksi. Mulai dari tes jasmani (lari, pull-up, renang), hingga psikotes dan akademik, seluruh latihan didesain semirip mungkin dengan realitas ujian. Dengan cara ini, para siswa terbiasa menghadapi tekanan sejak awal.
Bagi Steven Ngaba Waromy, Taruna Akpol asal Papua Barat yang sebelumnya dua kali gagal seleksi, pendekatan ini membuat segalanya terasa lebih terkendali.
“Rasanya seperti sudah tahu apa yang akan dihadapi. Jadi lebih siap secara mental,” ujarnya.
Di luar aspek teknis, ritme hidup para siswa pun diatur secara disiplin. Bagi peserta yang tinggal di asrama, jadwal harian yang mencakup bangun pagi, olahraga, belajar, dan evaluasi menjadi rutinitas yang membentuk karakter. Hal kecil seperti waktu makan dan istirahat juga mendapat perhatian, karena semua bagian dari persiapan menyeluruh.
Advertisement
Di tengah latihan yang ketat, muncul pula kebersamaan yang menguatkan. Suasana kompetitif justru menciptakan solidaritas di antara peserta.
“Kami saling dorong, bukan saling jatuhkan. Itu yang membuat prosesnya terasa lebih ringan,” kata Ahmad Fadel Indra, Taruna Akmil 2023.
Tidak sedikit yang datang dari luar daerah, bahkan dari ujung Indonesia, untuk tinggal dan belajar di Tactical in Police. Mereka bukan hanya datang dengan semangat, tapi juga membawa cerita perjuangan yang beragam. Di sinilah, menurut banyak alumni, mereka menemukan tempat yang bukan sekadar tempat belajar—tapi juga rumah perjuangan.
Advertisement
Tactical in Police tidak menawarkan jalan instan. Sejak awal, para siswa diajak memahami bahwa seleksi bukan soal keberuntungan, tapi soal kesiapan. Ni Made Ardia Puspa Andini, yang lolos menjadi Taruni Akpol 2024 setelah dua kali mencoba, menyebut pengalaman di Tactical membantunya memperkuat mental dan strategi belajar.
“Saya tahu apa yang harus saya benahi, dan Tactical memberi ruang itu,” katanya singkat.
Meski dikenal sebagai tempat persiapan Akpol, lembaga ini juga membuka program untuk TNI dan sekolah kedinasan lainnya. Dari kelas reguler hingga program intensif, Tactical menyesuaikan pembinaan dengan kebutuhan masing-masing peserta. Beberapa alumni bahkan berhasil lolos ke lembaga seperti STSN dan STIN.
Namun bagi tim pengajar dan pembina, tujuan akhir bukan hanya memastikan kelulusan. Lebih dari itu, mereka ingin menumbuhkan karakter peserta agar siap menghadapi dunia seleksi yang keras, sekaligus tetap memiliki kendali atas diri sendiri.
Karena menjadi perwira—sebagaimana yang diyakini di Tactical in Police—bukan hanya soal berhasil masuk institusi. Tapi tentang menjadi pribadi yang tahan uji, punya komitmen, dan siap mengabdi dengan integritas.