Tanding Catur Babak Kedua, Indonesia Berhasil Cetak 2 Kemenangan dan 2 Remis

Selasa, 9 April 2019 22:12 Reporter : Endang Saputra
Tanding Catur Babak Kedua, Indonesia Berhasil Cetak 2 Kemenangan dan 2 Remis Pecatur Indonesia. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Pertandingan memasuki babak kedua di Asian Chess Champioship Fide Zone 3.3 Asia Timur di Hotel Premium Palace, Ulaanbaatar, Mongolia pada Senin (8/4) kemarin. Pertarungan itu ditandai dengan tumbangnya andalan tuan rumah GM Tsegmed Batchuluun (2547). Pecatur unggulan kedua ini dipecundangi oleh pecatur muda Filipina IM Paulo Bersamina (2444) di kategori Open.

"Dari 6 pecatur Indonesia yang tampil, kali ini hanya dua yang berhasil mencetak kemenangan, yaitu WGM Medina Warda Aulia (2362) atas WGM Le Thanh Tu (2220, Vietnam) yang sehari sebelum nya mengalahkan Irene," ujar Kristianus Liem.

"IM Irene Kharisma Sukandar (2384) bangkit dengan menaklukkan WFM Shania Mae Mendoza (2156, Filipina)".

Selain kedua pecatur wanita itu, dua pecatur Indonesia ditahan remis. Keduanya adalah WIM Chelsie Monica Sihite (2227) yang melawan WGM Hoang Thi Bao Tram (2298, Vietnam) dan GM Susanto Megaranto (2523) melawan IM Nguyen Van Huy (2436, Vietnam). Sedangkan di dua papan lainnya pecatur Indonesia terpaksa menelan kekalahan yaitu IM Novendra Priasmoro (2479) kalah dari IM Damsuren Batsuren (2444, Mongolia) dan Surya Wahyudi (2197) dipukul kalah oleh Uursaikh Agibileg (2403, Mongolia).

"Medina membalaskan sakit hati Irene. WGM le Thanh Tu yang pernah menjuarai turnamen sejenis pada tahun 2007, dihantam dengan bijak oleh Medina," Jelas Kris.

"Lawan memainkan pertahanan Alekhine yang kurang populer. Artinya Le sudah mempersiapkan sesuatu kejutan,"tambah Kris.

Kris mengkisahkan pertarungan srikandi Indonesia tersebut lebih kepada adu pemahaman catur dan bukan adu teori. Medina menjawab pertahanan Alekhine dengan langkah konvensional 6.h3. Sebagai pengendali buah putih Medina melepaskan peluang menguasi inisiatif permainan. Pada langkah 16 Tu punya kesempatan mengambil alih inisiatif jika berani mengorbankan kualitas di petak e3. Tapi Tu tidak seberani itu. Medina mulai berupaya mengendalikan serangan dengan mengorbankan satu bidak di petak a6.

"Tu menerima nya. Antisipasi yang keliru. Medina mulai unggul terutama setelah berhasil merebut kembali bidak yang dikorbankannya di a6 pada langkah 32,” Kisah Kris.

"Bayang-bayang kemenangan mulai tampak ketika Medina unggul satu bidak pada langkah 44! Medina merebut satu bidak lagi di b6 empat langkah kemudian. Tu menyerah langkah ke-52," Imbuhnya.

Senada dengan Media, Irene yang bermain dengan buah putih memilih pembukaan London system yang cenderung tidak ada pertarungan teori pembukaan dan lebih banyak mengandalkan pada adu pemahaman permainan catur.

"Dalam hal ini pengalaman dan pemahaman mengenai posisi, kerangka bidak dan kerja sama buah lebih penting dan menentukan, Pada langkah ke-16 Mendoza membuat kesalahan posisional dengan menaruh Menterinya di petak d7 sehingga Irene bisa unggul satu bidak tanpa lawan mendapatkan kompensasi serangan. Keunggulan satu bidak itu yang dipakai Irene untuk menekan perlahan-lahan hingga menang pada langkah ke-55," tambahnya.

Hasil babak kedua yang cukup keras membuat tim Indonesia tidak boleh terburu berbangga diri. Pertarungan yang semakin keras nampaknya akan muncul pada babak-babak selanjutnya. Tumbangnya unggulan tuan rumah menjadi bukti utamanya.

"Pertandingan catur tidak mudah diprediksi. Elo Rating dan posisi unggulan tidak selalu bisa menjadi pijakan,” Ujar R. Artsanti Alif, Head of Social Investment JAPFA dan juga Chief de Mission Tim Catur Indonesia kali ini.

"Perjuangan tim Indonesia masih panjang dan pertarungan nampaknya semakin keras. Meski demikian peluang masih terbuka lebar dan pemahaman posisi bidaklah yang nantinya akan menentukan," tutupnya. [end]

Topik berita Terkait:
  1. Catur
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini