Semangat bambu runcing di era digital

Rabu, 16 Agustus 2017 06:04 Reporter : William Tanuwijaya
HUT Tokopedia. ©2016 Merdeka.com/Djoko Poerwanto

Merdeka.com - Oleh William Tanuwijaya

CEO Tokopedia

"William, kamu itu masih muda, dan muda itu cuma sekali. Janganlah bermimpi muluk-muluk, dan carilah hal yang lebih realistis. Role model kamu, founder dari Sillicon Valley, mereka adalah orang-orang yang spesial. Kamu tidak. Jadi jangan sia-siakan masa muda kamu," nasehat salah seorang calon pemodal yang saya terima dalam perjalanan mendirikan Tokopedia.

Dalam mendirikan dan membangun Tokopedia, saya belajar tentang semangat bambu runcing, dalam menemukan keberanian, kegigihan, dan harapan. Dan inilah cerita perjalanan hidupku.

Jatuh cinta pada internet

Saya ini pengusaha karena kepepet. Saya besar dan lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ketika tamat SMA, almarhum ayah dan paman saya ingin saya punya kehidupan lebih baik. Mereka percaya kehidupan lebih baik dimulai dari pendidikan yang lebih baik. Saya diberikan kesempatan untuk kuliah di Jakarta. Tokopedia 2017 Merdeka.com Naik kapal 4 hari 3 malam dari Belawan ke Tanjung Priok, itu pertama kalinya saya keluar dari Sumatera Utara. Senang sekali bisa merantau dan mengenyam pendidikan tinggi di ibukota. Sayangnya, pada tahun ke-2 saya di Jakarta, ayah saya mulai jatuh sakit. Untuk tetap bisa berada di Jakarta, saya pun mencari pekerjaan sampingan. Minim pengalaman, saya beruntung diterima menjadi penjaga warnet 24-jam untuk shift malam di sekitar kampus. Selama 3 tahun ke-depan, saat internet masih mahal, saya bisa menggunakan internet secara gratis, 12 jam per hari, mulai dari jam 9 malam hingga 9 pagi, bahkan dibayar untuk itu. Lewat kesempatan itu saya jatuh cinta kepada internet, sebuah gerbang ke dunia lewat jemari tangan kita, kapanpun dimanapun.

Perjalanan membangun Tokopedia

Lulus kuliah di tahun 2003, saya ingin bekerja di perusahaan internet, namun perusahaan yang saya kagumi seperti Google dan Facebook, belum memiliki kantor cabang di Indonesia. Saya kemudian bekerja di beberapa perusahaan pengembang software. Tahun 2007 adalah tahun di mana saya melihat potensi membangun Tokopedia.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, menyimpan sejuta potensi. Namun, karena infrastruktur yang belum merata, masyarakat yang tinggal di kota kecil dan pedalaman harus pindah ke kota besar untuk mendapatkan kesempatan dan peluang yang lebih besar. Demikian juga akses terhadap produk dan layanan, tidak jarang masyarakat di kota kecil justru harus membayar lebih dibandingkan masyarakat di kota besar. CEO Tokopedia William Tanuwijaya bersama pemenang hackathon internal 2016 Merdeka.com Saya melihat teknologi, lewat internet dapat menjadi solusi terhadap permasalahan tersebut. Terpikirlah ide membangun marketplace yang menghubungkan penjual dan pembeli dari seluruh nusantara, menyelesaikan masalah ketimpangan peluang dan kepercayaan.

Namun saya tidak memiliki modal. Ayah saya saat itu divonis sakit kanker, dan saya juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya karena saya tulang punggung satu-satunya di keluarga saya. Terinspirasi dari anak-anak muda di Sillicon Valley, yang mampu membangun industri baru lewat internet, mencari pemodalan dari pemodal-pemodal ventura, saya pun mencoba melakukan hal yang sama.

Saya datang ke orang kaya satu-satunya yang saya kenal, bos tempat saya bekerja. Menceritakan ide tentang membangun marketplace pertama di Indonesia. Beliau seorang visioner, yang kemudian memperkenalkan saya kepada teman-teman nya, para calon pemodal. Selama dua tahun, saya mencoba menyakinkan para calon pemodal, rata-rata menanyakan kepada saya lima pertanyaan.

Keberanian

Dua pertanyaan awal tentang industri yang tidak punya rekam jejak. "William, bisa tidak kamu sebutkan satu saja orang Indonesia yang menjadi kaya, karena bisnis teknologi?" atau "Indonesia ini negara pasar yang begitu menjanjikan. Yang kamu mau dirikan ini bukan sesuatu yang orisinal. Jika kamu buktikan ke dunia, Indonesia butuh marketplace, raksasa-raksasa global akan berbondong-bondong datang ke Indonesia. Mereka punya teknologi, uang, segalanya. Bagaimana mungkin kamu bisa melawan mereka?" HUT Tokopedia 2016 Merdeka.com/Djoko Poerwanto Tiga pertanyaan susulan tentang masa lalu pribadi saya. Pertanyaan tentang latar belakang keluarga saya. Dalam kondisi saya sebagai tulang punggung satu-satunya keluarga saya, jika saya gagal, maka tidak akan ada yang bisa menggantikan apapun. Pertanyaan tentang latar belakang pendidikan saya. Walau kuliah Teknik Informatika, saya lebih memandang saya lulusan warnet, karena hidup saya sepanjang kuliah lebih banyak saya habiskan di warnet. Dan pertanyaan tentang latar belakang entrepreneurship saya. Saya tidak punya pengalaman membangun bisnis apapun sebelum nya.

Sampai di satu titik saya mendapatkan nasihat untuk tidak bermimpi muluk-muluk, dan mencari hal yang lebih realistis.

Saat itulah justru saya menemukan tujuan hidup saya. Alasan saya membangun Tokopedia adalah untuk memecahkan masalah kepercayaan. Namun saat saya ingin mendirikan perusahaan, saya menyadari memulai bisnis, adalah tentang membangun kepercayaan. Sayangnya kepercayaan sering diukur dari rekam jejak masa lalu. Di titik inilah saya menemukan semangat bambu runcing pertama saya, tentang Keberanian.

Saya menemukan keberanian untuk percaya masa lalu adalah hal yang sudah tidak bisa kita ubah, tapi masa depan ada di tangan kita sendiri. Keberanian untuk percaya kepada diri saya sendiri ketika belum mendapatkan kepercayaan dari orang lain.

Kegigihan

Namun keberanian saja tentu tidak akan membawa saya kemana-mana. Butuh waktu dua tahun, hingga akhirnya di tahun 2009, Tokopedia bisa dimulai. Hal pertama yang kami lakukan saat itu adalah kembali ke Universitas untuk melakukan perekrutan. Membangun perusahaan internet, sumber daya paling utama adalah pada talenta manusianya. Dua hari berdiri di Job Expo, tidak satupun lamaran yang kami terima, padahal di seberang kami, kami menyaksikan antrean panjang memadati booth salah satu Bank ternama Indonesia sepanjang harinya. Saat itulah kami menyadari perjalanan membangun perusahaan internet di Indonesia memang akan sulit dijalani. Tidak adanya kisah sukses tentang perusahaan internet Indonesia, membuat talenta terbaik enggan bergabung. Tanpa talenta dan sumber daya manusia yang tepat, tidak mungkin membangun perusahaan internet kelas dunia. Dilema ayam dan telur yang harus diselesaikan.

Sayapun mulai belajar keluar dari zona nyaman saya. Berbagi tentang visi, misi, dan mimpi yang ingin dibangun dari satu kampus ke kampus lain nya adalah sebuah tantangan yang sangat sulit untuk pribadi saya yang sangat introvert. Lewat kegigihan tersebut, lambat laun Tokopedia berhasil membangun dan mengumpulkan talenta-talenta terbaik dari seluruh Indonesia. Saat ini, sudah ada 1400 putra-putri terbaik Indonesia, termasuk mereka lulusan terbaik perguruan-tinggi ternama dari seluruh dunia bergabung di Tokopedia, membangun aplikasi kelas dunia yang siap bersaing dengan para pemain global.

Tahun 2010, Yahoo mengakuisisi Koprol, sebuah perusahaan rintisan asal Indonesia. mata dunia pun pertama kalinya menyorot Indonesia. Itulah pertama kalinya para pemodal ventura terbang dari berbagai belahan dunia dan menyempatkan waktu bertemu dengan para entrepreneur teknologi lokal. Saya termasuk yang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Sayangnya kemampuan Bahasa inggris saya begitu terbatas, sehingga pertemuan saya berakhir dengan kekecewaan dari para pemodal yang menganggap telah menyia-nyiakan waktu mereka.

Menyadari persaingan global yang terus masuk ke Indonesia sesuai dengan prediksi para calon pemodal awal, eBay, Rakuten saat itu telah memasuki Indonesia, saya pun belajar bertebal muka. Dengan Bahasa Inggris pas-pasan terus mencari pemodal dari luar yang tidak hanya memberikan uang, tetapi juga nilai tambah dalam alih ilmu. Bermodal kegigihan, saya bertemu dengan pemodal asal Jepang dan Korea yang lebih memaklumi Bahasa Inggris pas-pasan saya, kemudian mereka bersedia memberikan pemodalan, dan justru menjadi partner saya dalam belajar Bahasa Inggris. Transaksi di Tokopedia per bulan mencapai triliunan rupiah 2016 Merdeka.com Tahun 2016, saya terpilih untuk mewakili Indonesia sebagai salah seorang Young Global Leaders dari World Economic Forum.

Harapan

Seperti para pejuang kemerdekaan Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan dengan bambu runcing; para pejuang kita bersedia mempertaruhkan nyawa mereka, bukan karena keberanian dan kegigihan semata, namun didorong oleh harapan bahwa perjuangan mereka akan menghantarkan kemerdekaan bagi negeri ini.

Tokopedia merubah hidup saya, seorang dari kota kecil, punya kesempatan membangun multi billion dollar company di era digital. Namun tidak berhenti di sana, lewat Tokopedia saya juga menyaksikan lebih dari dua juta masyarakat Indonesia telah memulai, mengembangkan bisnis, mengubah nasib dan masyarakat sekitar mereka dengan membuka lapangan pekerjaan baru.

Saya diberikan kesempatan untuk menyaksikan perjalanan mereka secara dekat. Tidak semuanya berhasil, dan ketika saya bertemu dengan mereka-mereka yang berhasil, saya menyadari ada sebuah benang merah, yaitu mereka memiliki semangat bambu runcing. Mereka tidak hanya berani untuk memulai, namun juga punya kegigihan untuk bangkit ketika gagal, dan semua di antara mereka memiliki harapan, entah itu harapan agar orang tua mereka punya tempat tinggal lebih layak, atau harapan agar anak mereka memiliki pendidikan yang lebih tinggi.

Dengan semangat bambu runcing, harapan saya, misi Tokopedia dalam pemerataan ekonomi secara digital akan dapat terwujud. Lebih lanjut dari itu, saya berharap semoga generasi penerus bangsa ini dapat bermimpi setinggi-tingginya tanpa diperhadapkan kepada lima pertanyaan retoris yang saya alami saat merajut impian saya. Kantor Tokopedia 2016 Merdeka.com/Djoko Poerwanto Saya selalu ingat, Bapak Pendiri Bangsa kita, Ir. Soekarno pernah menitipkan kepada bangsa ini untuk bermimpi sebesar-besarnya. "Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."

Belum seratus tahun kita merdeka, jangan sampai kita kehilangan kemerdekaan untuk bermi [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Tokopedia
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini