Fenomena ritel tumbang dan gulung tikar terjadi sepanjang pandemi. Pandemi menekan pendapatan perusahaan. Tak kuat, akhirnya terkapar dan menyerah. Ada sederet penyebabnya. Mulai dari pembatasan aktivitas, masyarakat yang cenderung menahan belanja, hingga berimbas pada omzet yang terjun bebas.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, gulung tikar perusahaan ritel dipicu konsumsi masyarakat yang terus turun. Mobilitas terbatas, ekonomi terhenti.
"Faktornya tingkat konsumsi rumah tangga yang rendah akibat pandemi membuat omzet ritel turun signifikan. Kondisi diperparah dengan pembatasan sosial yang menurunkan mobilitas masyarakat untuk berbelanja," katanya kepada merdeka.com, Jakarta, Kamis (19/8).
Bisnis ritel juga berubah pola selama pandemi. Di mana ritel besar kalah bersaing dengan ritel skala kecil. Ekspansi ritel modern yang menjual barang kebutuhan sehari-hari lebih diminati dibanding pasar swalayan.
"Lokasi ritel modern juga berdekatan dengan tempat tinggal sehingga menghemat biaya parkir, dan biaya transportasi," katanya melanjutkan.
Fenomena perubahan pola transaksi ke e-commerce memang mengancam ritel. Karena barang yang sama, tapi dijual dengan promosi hingga gratis ongkos kirim. Situasi ini membuat pelaku ritel besar mau tidak mau tutup permanen.