Pilar Ekonomi Indonesia di Tengah Ancaman Resesi

UMKM di masa pandemi ini tidak bisa berkutik. Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan, dampak Covid-19 ke Indonesia sangat memukul sektor UMKM

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Pilar Ekonomi Indonesia di Tengah Ancaman Resesi
Aktivitas di pinggiran Kanal Banjir Barat. ©2020 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Indonesia pernah mengalami dua kali masa krisis. Tahun 1998 dan 2008. Dua momen ini menjadi pelajaran penting menghadapi resesi ekonomi akibat pandemi corona.

Krisis 1998, hampir semua komponen ekonomi makro melenceng. Bahkan, nilai tukar Rupiah menyentuh level Rp16.000 per USD dan inflasi mencapai 78,2 persen serta kemiskinan mencapai 24,2 persen.

Peringkat surat utang Indonesia pada 1998 sama sekali tidak memiliki harga di mata asing. Bahkan, saat krisis Indonesia harus menghadapi utang ganti rugi yang cukup besar karena beberapa kontrak untuk IPP (Independent Power Producer) dibatalkan.

Saat krisis 1998, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi pahlawan penyelamat. UMKM mampu menopang sendi-sendi perekonomian bangsa di masa sulit dan krisis.

Sedangkan usaha besar satu per satu pailit karena bahan baku impor meningkat secara drastis, biaya cicilan utang meningkat sebagai akibat dari nilai tukar Rupiah terhadap USD menurun dan berfluktuasi. Nasib mereka berbeda jauh dengan UMKM. Sebagian besar pengusaha kecil tetap bertahan, bahkan cenderung bertambah.

Dalam kondisi normal, UMKM menyumbang 60 persen produk domestik bruto (PDB) secara nasional dan pertumbuhan ekonomi yang ditopang dari konsumsi rumah tangga dominan digerakkan sektor ini. Termasuk sumbangsihnya terhadap penyerapan tenaga kerja yang mencapai 96 persen dari 133 juta angkatan kerja secara nasional serta menyumbang 14 persen dari total ekspor.

Namun demikian, UMKM di masa pandemi ini tidak bisa berkutik. Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan, dampak Covid-19 ke Indonesia sangat memukul sektor UMKM. Padahal sektor ini, pada saat terjadi krisis 1997-1998 lalu, menjadi yang terkuat bahkan tidak terdampak.

"Sekarang UMKM terpukul paling depan karena ketiadaan kegiatan di luar rumah oleh semua masyarakat," kata Sri Mulyani.

Bagaimana Indonesia berjuang dari ancaman resesi akibat pandemi. Berikut paparan merdeka.com:

UMKM Bisa Jadi Penyelamat Ekonomi saat Resesi?

Survei LIPI: 47,13 persen UMKM yang mampu bertahan hingga Agustus 2020

Data BPS: 59,8 persen Usaha Mikro Kecil (UMK) dan 49,4 persen Usaha Menengah Besar (UMB) masih tetap beroperasi normal di tengah pandemi.

BPS juga mencatat 84 persen UMK dan 82 persen UMB cenderung mengalami penurunan pendapatan sejak pandemi terjadi. Kemudian 10,1 persen memutuskan berhenti beroperasi, sekitar 5,4 persen menerapkan work from home dan 0,5 persen lainnya melebihi kapasitas.

Berdasarkan laporan Analisis Hasil Survei Dampak Covid-19 Terhadap Pelaku Usaha, 3 sektor usaha yang paling mengalami penurunan pendapatan menurut lapangan usaha adalah akomodasi dan makanan minuman sebesar 92,47 persen. Kemudian jasa lainnya 90,90 persen, lalu transportasi dan pergudangan sebesar 90,34 persen.

Survei Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI): 36,7 persen responden tidak ada penjualan. Sebanyak 26 persen responden mengakui terdapat penurunan lebih dari 60 persen. Hanya 3,6 persen yang mengalami kenaikan penjualan.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita: 1,3 juta industri kecil dan menengah (IKM) terpangkasnya omzet hingga 90 persen.

Infografis Kekuatan Indonesia Hadapi Resesi Akibat Pandemi Corona ©2020 Merdeka.com

Indikator Pertumbuhan Ekonomi

Selain UMKM, kondisi sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi juga cukup menyedihkan di tengah pandemi atau tepatnya di kuartal II-2020. Indikator penyumbang pertumbuhan ekonomi tak bisa bangkit meski pemerintah sudah memberikan berbagai macam stimulus. Indikator tersebut, yaitu daya beli masyarakat, investasi serta ekspor impor.

Daya beli masyarakat atau konsumsi menurun karena cadangan keuangan sudah terkuras selama pandemi berlangsung. Selain itu pemberhentian hubungan kerja (PHK) juga berperan mengakibatkan perputaran uang terhambat. Transaksi mobilitas orang juga terhambat karena adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Penurunan daya beli juga tercermin dari tingkat inflasi. Di mana inflasi sudah mulai terasa terus turun sejak awal pandemi melanda indonesia. Pada bulan Mei 2020, inflasi terjaga di angka 0,07 persen dan 0,8 persen di bulan Juni 2020. Puncaknya, Indonesia mengalami deflasi 0,05 persen di Agustus 2020.

Kepala Kajian Iklim Usaha, LPEM UI Salemba, Revindo mengatakan, rendahnya inflasi bisa diartikan dalam dua makna. Pemerintah bisa mengendalikan harga bahan pokok atau daya beli masyarakat yang sangat rendah akibat kegiatan ekonomi sejak bulan April terus melambat.

"Pemerintah bisa mengendalikan harga bahan pokok tapi daya beli juga sangat rendah," kata Revindo.

1. Konsumsi

Konsumsi rumah tangga Kuartal II-2020: -5,51 persen

Konsumsi rumah tangga merupakan kompenen terbesar pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 sebesar 2,97 persen. Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 2,84 persen sementara konsumsi pemerintah tumbuh 3,74 persen di periode tersebut.

"Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 ini yang pertama tetap konsumsi rumah tangga sumbang 1,56 persen," ucap Kepala BPS, Suhariyanto.

Pertumbuhan negatif paling dalam terlihat pada restoran dan hotel. Penjualan eceran juga mengalami kontraksi pada seluruh kelompok penjualan antara lain makanan, minuman dan tembakau. Dua komponen rumah tangga yang masih tumbuh tetapi melambat adalah perumahan dan perlengkapan rumah tangga. Hal tersebut terlihat dari konsumsi listrik yang meningkat dibanding biasanya.

"Volume penjualan listrik PLN ke rumah tangga itu masih tumbuh 11,99 persen," ucap Kepala BPS Suhariyanto.

2. Penjualan ritel

Indeks Penjualan Riil (IPR) hasil Survei Penjualan Eceran Juli 2020: minus 12,3 persen (yoy).

Indeks Penjualan Riil (IPR) hasil Survei Penjualan Eceran Juni 2020: minus 17,1 persen (yoy).

Pertumbuhan IPR Agustus 2020 diperkirakan sebesar minus 10,1 persen (yoy).

Penjualan pada kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau mengalami kontraksi paling rendah, dengan pertumbuhan sebesar minus 1,9 persen (yoy).

3. Investasi

Realisasi investasi kuartal II-2020: Rp191,9 triliun, turun 4,3 persen secara tahunan. Jika dibandingkan dengan kuartal I-2020 yang mencapai Rp210,7 triliun, maka mengalami penurunan 8,9 persen.

"Kita tahu sendiri kondisi Covid ini sangat berat, periode triwulan II ini periode yang sangat berat," kata Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia.

4. Ekspor Impor

Nilai ekspor Indonesia Januari–Juli 2020: USD 90,12 miliar atau turun 6,21 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Nilai impor Indonesia dari Januari-Juli 2020: USD 81,37 miliar atau turun 17,17 persen dibandingkan Januari-Juli 2019 yang sebesar USD 98,23 miliar.

Di Agustus, ekspor tercatat USD 13,07 miliar, turun 8,36 persen secara year-on-year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai USD 14,26 miliar. Sementara itu, secara bulanan, realisasi ekspor pada Agustus 2020 menunjukkan tren penurunan, yakni 4,62 persen dari posisi Juli 2020 sebesar USD 13,70 miliar.

Sedangkan impor Indonesia turun 24,19 persen menjadi USD 10,74 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year). Jika dibandingkan dengan Juli tahun ini (month to month), nilai impor Agustus 2020 tercatat naik 2,65 persen dari USD 10,46 miliar.

Rekomendasi