12 Detik penentu hidup mati

Ada nilai-nilai di balik adu bagong. Bukan sekedar pertandingan.

Aryo Putranto Saptohutomo
12 Detik penentu hidup mati
Adu Bagong. ©2017 Merdeka.com/aryo

Perjalanan menuju Kecamatan Darmaraja, Sumedang, memakan waktu sekitar satu jam. Jalannya berkelok-kelok turun naik khas wilayah pegunungan. Kemudian, saya memasuki gang yang hanya muat dilalui satu mobil. Di pengujungnya ternyata menyimpan pesona. Yakni danau baru akibat penggenangan Waduk Jatigede. Tempatnya tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan bambu.Jalannya masih berupa tanah merah. Ada sekitar tiga warung berdiri. Orang-orang sudah menyemut. Persis di pinggir danau berdiri sebuah arena dari bambu. Tingginya sekitar lima meter berbentuk persegi. Namun sudut-sudutnya dibuat melengkung. Panjangnya kira-kira 30 meter dan lebar 12 meter. Itulah 'Colosseum' tradisional. Gladiatornya adalah para anjing pemburu diadu dengan babi hutan. Tribun juga dibuat seadanya supaya penonton bisa melihat dari atas arena.Lelaki, perempuan, muda, tua tumpah ruah di sana. Pedagang kaki lima berlomba menawarkan dagangan. Di tepi arena, beberapa pemuda terlihat menikmati menyantap rujak sambil ngobrol. Perhelatan adu bagong memang menjadi berkah lantaran mirip pasar malam. Dia membetot perhatian warga. Meski pertandingan belum dimulai, tetapi para penjual sudah panen rezeki.Asep Emo dan anak buahnya langsung bongkar muat setelah sampai. Mereka menurunkan kandang berisi anjing bakal diadu. Kemudian meletakkan anjingnya di 'paddock' dadakan dari bambu beratap terpal. Dia tak sendiri, ada sekitar enam tim dan puluhan peserta perorangan sudah lebih dulu tiba.Saya sempat mengintip ke dalam arena. Di dalamnya terdapat kubangan dan dua drum berisi air. Serta papan dari anyaman bambu. Seekor babi hutan sudah dilepas. Meski nampak besar, taringnya belum terlihat. Para peserta masih repot mengurus pendaftaran. Suara anjing menyalak bersahutan. Lantaran mereka diajarkan buat berburu, naluri sebagai hewan buas tak bisa ditutupi. Saat dijejerkan di dalam kandang dan berdempetan, terlihat mereka saling menggonggong dan menunjukkan taringnya, seolah ingin segera bertarung dengan sesama anjing.Di tempat menunggu semua berisi lelaki. Seakan menandakan kegiatan ini menunjukkan kejantanan lelaki Sunda. Namun, terselip satu peserta perempuan. Sayangnya dia enggan ditanyai. Dia hanya menjawab soal jenis anjingnya."Ini Pitbull," kata perempuan itu.Permainan adu bagong dibagi menjadi tiga kelas. Yakni perang bintang, eksklusif, dan umum. Perang bintang adalah kasta tertinggi dan dianggap paling seru. Sebab, anjing dan babi diadu hanya satu lawan satu. Di level inilah kemampuan anjing benar-benar diuji. Malah terkadang ada yang tewas saat bertarung dengan babi hutan (bagong).Sedangkan kelas eksklusif menggunakan babi hutan bekas diadu di perang bintang. Hanya saja di kelas ini satu babi hutan dikeroyok tiga anjing. Sementara level umum mempertandingkan babi hutan usai diadu di kelas eksklusif dan diserbu sekitar sepuluh anjing."Arena dibuat agak panjang karena peserta sekarang lebih suka melihat anjingnya sprint, sebelum menangkap babi," kata Ketua Hiparu Sumedang, Pak Leli.Peraturan lain adalah, gigitan anjing ke babi hutan mesti bertahan selama 12 detik. Jika lepas sebelum waktunya, maka dianggap gugur. Inilah yang menjadi titik penting bagi anjing. Kalau gigitannya tepat, dia bisa bertahan dan mengunci gerakan babi hutan.Tiba saat pertandingan. Tiga orang lelaki lebih dulu masuk ke arena. Tugas mereka adalah mengarahkan babi hutan. Setelah diundi, satu persatu peserta memasukkan anjingnya. Anjing itu berlari kemudian menyambar babi hutan."Eaaaa, eaaaa," sorak para penonton.Babi hutan tak tinggal diam. Dia melawan sekuat tenaga. Namun sayang, gigitan anjing itu tepat di bagian telinga dan mengunci. Hanya terdengar suara babi menguik, sebelum akhirnya dipisahkan. Begitu terus hingga sang babi mati dan digantikan dengan sejawatnya. Total tiga babi tewas hari itu.Seolah permainan ini seperti menyiksa binatang. Namun sebenarnya hal itu mulanya bukan hanya hiburan. Mereka mesti melindungi kebun dan tanaman. Karena kalau rusak, mereka bisa kelaparan. Maka terpikir mereka menggunakan anjing buat melawan babi hutan. Namun, ternyata babinya terlampau besar dan kuat. Akhirnya para petani mesti putar otak. Mereka memilih melatih anjing terlebih dulu. Sebagai persiapan, mereka menangkap babi hutan hidup-hidup buat dipelihara, dan kemudian diadu dengan anjing. Sebagai persiapan berburu. Kalau anjing menang, maka mereka tidak takut lagi dengan babi hutan.Dulunya, para petani mengandalkan anjing kampung. Namun seiring waktu, anjing-anjing impor seperti Pitbull, Rottweiler, Terrier, Dogo Argentino, atau German Sheperd turut dibawa berburu dan diadu. Semakin lama anjing bertahan, nilainya naik. Maka dari itu hal ini menjadi ajang para penggemar adu gengsi dan menaikkan harga anjing. Namun, kini penggunaan anjing kampung mulai digalakkan kembali buat melestarikan mereka. Terkadang mereka juga dikawin silang dengan anjing ras."Kalau main anjing itu untung enggak kepalang, rugi enggak kebilang. Semakin bagus kerja si anjing, harganya makin mahal," kata orang kepercayaan Asep Emo, Iwan Karto.Kompetisi ini tersebar di beberapa wilayah di Jawa Barat. Yakni Tasikmalaya, Garut, Majalengka, Banjar, dan Bandung. Di luar negeri hal ini juga dilakukan. Bedanya, mereka kini menyematkan rompi khusus berbahan kevlar buat para anjingnya. Itu demi keamanan supaya sang anjing terhindar dari cedera parah saat bertarung.

Mereka yang berkutat di dunia adu bagong meyakini hal ini adalah bentuk tradisi menghormati leluhur. Ada nilai sosial di dalamnya. Hal itu menggambarkan bagaimana makhluk hidup tidak boleh tunduk terhadap musuh, meski lawan lebih besar dan kuat. Petarung pantang menyerah. Sedangkan babi hutan yang tewas diyakini tidak sekedar dikorbankan. Mereka juga menghormati sang babi yang memberikan perlawanan.

Rekomendasi