Langit mulai beranjak gelap. Saat itu menjelang maghrib ketika kami tiba di sebuah rumah berkelir biru. Letaknya di Jalan Raya Bandung-Cirebon, Sumedang, Jawa Barat. Dari luar, rumah itu nampak biasa saja. Mobil saya tumpangi diparkir di seberangnya."Ayo kita nyeberang," kata Leli.Saya lantas menyeberang dan masuk ke rumah melalui pintu garasi. Dari luar suara anjing menyalak sudah terdengar. "Ah ini pasti rumahnya," gumam saya dalam hati.Pak Leli berjalan lebih dulu di depan saya. Berjalan di lorong garasi, gonggongan semakin keras terdengar. Saya langsung disambut pemilik rumah, Asep Emo. "Silakan, silakan," kata Aa Emo, begitu dia disapa.Saya takjub karena di belakang rumah itu berjejer ratusan anjing berbagai jenis. Di kejauhan nampak seekor anjing Pitbull dan Rottweiler langsung berdiri di dalam kandang besi khusus ketika saya datang. Yang lainnya langsung bersahut-sahutan menggonggong. Di dalam hati terasa agak ngeri juga. Karena saya bukan penggemar hewan itu, sejenak terlintas dalam pikiran, bagaimana dia bisa mengurus anjing sebanyak ini. Apalagi yang jenisnya dianggap galak.Emo adalah seorang penggemar anjing pemburu. Dia kini didapuk menjadi Ketua Himpunan Penggemar Anjing Pemburu (Hiparu) Jawa Barat. Sedangkan Pak Leli adalah Ketua Hiparu Cabang Sumedang. Keduanya ternyata masih ada ikatan saudara.Kedatangan saya di Sumedang ingin melihat lebih dekat tentang tradisi adu bagong. Yakni pertandingan antara anjing pemburu dan babi hutan. Malah dibuatkan kejuaraannya. Namun, Emo enggan menggunakan kata-kata adu bagong (babi hutan). Dia lebih suka menyebutnya kontes ketangkasan anjing pemburu.Emo hobi dengan anjing sudah tahunan. Mulanya dia gemar adu cepat di lintasan tanah dalam ajang grasstrack dan motocross. Setelah gantung helm dan memilih berbisnis, hobi itu diturunkan kepada kedua anaknya, Asep Kurnia dan Willy Ahadasi. Namun, mereka kini memilih berkompetisi di atas aspal. Meski begitu, anak-anaknya juga tertarik dengan anjing pemburu. Malah salah satunya juga menekuni olahraga berkuda. Sebagai penggemar hewan, Emo meluaskan hobinya. Dia mengoleksi bermacam burung."Nanti ikut saja, di Darmaraja juga ada adu bagong," kata Emo. Saya mengiyakan ajakannya.Emo mengakui hobinya tidak murah. Sebab, anjing-anjing itu mesti ditebus dengan harga jutaan. Apalagi jika reputasinya sudah kesohor bila kerap menang di ajang pertarungan atau perburuan. Pakan mesti disediakan juga tidak murah. Dia sampai membuat gudang khusus buat menyimpannya. Anjing-anjingnya biasa diberi campuran nasi serta pakan khusus, dan daging ayam. Dia pantang memberikan daging babi hutan tewas diburu atau diadu. "(Babi hutan) Enggak bagus buat anjing. Panas," ucap Emo.Padahal, dia bukan cuma pengoleksi, tetapi juga membiakkan anjing. Ada tiga macam anjing di rumahnya. Yakni anjing ras, kampung, dan silangan. Untuk yang terakhir Emo mengistilahkannya dengan selayangan. Anjing-anjingnya juga dilatih khusus buat melawan babi hutan. Mereka diperintahkan menggigit kuping atau kaki babi hutan supaya gerakannya terkunci. Dengan begitu gerakan babi hutan terbatas dan taringnya tidak bisa menyambar tubuh anjing. Namun, dia juga pernah apes. Dua anjingnya tumbang sekaligus di arena ketika berkelahi dengan babi hutan."Kadang kalau ngeliat ada (anjing) yang bagus, ya masih dibeli," kata Emo.Buat Emo, melihat anjingnya berlaga di arena melawan babi hutan punya sensasi tersendiri. Sebagai pemilik akan bangga kalau peliharaannya menyabet juara. "Saya menjaga tradisi orang Sunda,", ucap Emo.
Sempat salah sasaranSebenarnya, buat Emo, kegiatan lebih menantang adalah berburu babi hutan. Sebab hal itu menguras tenaga anjing dan pemiliknya. Mereka mesti masuk hutan dan kadang mendaki gunung buat mencari buruan. Soal waktu tak bisa ditentukan. Menurut orang kepercayaan Emo, Iwan Karto, mereka biasanya berangkat berburu mulai pukul 02.00 WIB hingga selesai.
"Awalnya buat membantu petani. Kan babi hutan suka ngerusak tanaman," kata Emo.
Berburu babi hutan tak bisa sembarangan. Para pemburu harus menentukan lokasi terlebih dulu. Kemudian penduduk setempat diminta memasukkan hewan peliharaan seperti sapi, kerbau, ayam, atau kambing supaya tidak menjadi sasaran anjing pemburu. Sebab menurut Leli, anjing dia bawa pernah menerkam ternak petani."Sebenarnya salah dia karena sapinya dilepas. Padahal sudah dikasih tahu mau ada berburu. Tapi mau bagaimana lagi. Akhirnya saya ganti sama sapi baru," kata Leli.Pengalaman Iwan lain lagi. Saat dia menemani Emo berburu babi hutan, sang anjing malah berkelahi dengan macan. Beruntung anjing itu selamat. Jika masuk hutan, maka dia juga mesti waspada dengan kijang. Jika bertemu dengan kijang, dia memilih menyudahi perburuan."Soalnya bau kijang bisa menutup bau babi. Anjing jadi enggak bisa mencium babi," kata Iwan.Bukan cuma adu bagong yang dilombakan. Perburuan juga dibuatkan kompetisinya. Yakni buru sasaran. Berburu sasaran adalah sang anjing dijejerkan dan adu cepat mendapatkan sasaran sudah ditempatkan di lokasi tertentu. Namun bagi Iwan yang cinta mati perburuan sejati, hal itu kurang menantang."Itu berburu manja," ujar Iwan.