Merapi sang penyelamat Yogya

Gempa yang sering terjadi saat Merapi 'batuk' membuat para pemilik modal takut mendirikan gedung di Kaliurang Sleman.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Merapi sang penyelamat Yogya
Gunung Merapi. ©2014 merdeka.com/yulistyo pratomo

Erupsi Gunung Merapi memang menakutkan bagi warga yang tinggal di lereng-lerengnya. Namun siapa sangka justru dengan keberadaan Gunung Merapi, Yogyakarta masih bisa 'selamat'.Aktivis kota Yogya, Dodo Putra Bangsa menyebut seringnya Gunung Merapi 'batuk' membuat banyak investor balik kanan saat akan membangun hotel atau mal di wilayah Sleman. Gempa yang sering terjadi saat Merapi 'batuk' membuat para pemilik modal takut mendirikan gedung-gedung di Kabupaten yang terkenal dengan salak pondohnya itu."Gampangannya, Merapi itu penyelamat Yogyakarta karena kalau tidak ada Merapi mungkin wilayah atas, Kaliurang Sleman itu sudah jadi hotel semua kaya puncak di Bogor," ujar Dodo dalam perbincangan dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.Kaliurang di Sleman memang lokasi yang strategis untuk dijadikan lokasi wisata hingga komersial seperti pusat perbelanjaan. Lokasinya yang tak terlalu jauh dari Kota Yogya dan bandara membuatnya mudah dijangkau. Hawa sejuk pegunungan juga menjadi nilai jual tersendiri bagi para pelaku bisnis yang ingin menancapkan kuku di Yogyakarta.Namun semua nilai sempurna itu seolah mentah ketika mengetahui bahwa wilayah Sleman ternyata rawan gempa akibat Gunung Merapi.Yogyakarta memang termasuk wilayah yang rawan gempa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pernah menyatakan bila wilayah DIY termasuk yang rawan bencana terutama gempa. "Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan daerah yang rawan bencana di antaranya gempa. Gempa ada yang terpusat di laut dan di darat, tetapi keduanya memiliki ancaman bahaya yang sama, karena di bawahnya terdapat pertemuan antar lempeng aktif Indo-Australi dan Eurasia, jadi bisa dikatakan kalau daerah Selatan Jawa terutama Yogyakarta menjadi wilayah yang rawan gempa," kata Kepala Seksi Observasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Bambang Subagyo, tahun lalu.Namun meski Gunung Merapi dan gempa masih mengancam, pembangunan gedung-gedung tinggi untuk hotel di wilayah Kota Yogyakarta masih marak. Para pengembang seolah tidak tapi peduli dengan aspek keselamatan dan lingkungan.Salah satu yang paling terasa dengan banyaknya pembangunan gedung-gedung untuk hotel dan mal adalah sulitnya air. Sumur-sumur warga di Kota Yogyakarta saat ini sudah kering bila musim kemarau tiba. Padahal sebelumnya hal tersebut tidak pernah terjadi.Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Yogyakarta, saat ini air tanah dalam turun antara 20 hingga 30 Cm. Hal ini sebagai dampak masifnya pembangunan hotel dan mal yang selalu menggunakan air tanah dalam."Ini sebagai dampak mewabahnya banyak bangunan berskala besar. Akibatnya air tanah dalam menjadi turun. Dan yang paling kena imbasnya tentu warga masyarakat sekitar," ujar Direktur Eksekutif Walhi Yogya, Halik Sandera.Menurut Halik gedung-gedung tinggi dan besar membutuhkan pondasi yang dan basement di dalam tanah. Hal ini bisa memutus aliran air tanah dangkal (seperti sumur) yang selama ini digunakan oleh warga Yogya.Belum lagi soal limbah. Bangunan skala besar tentu limbah juga besar. Di sisi lain, hasil pemantauan Walhi ternyata banyak bangunan skala besar di Yogya yang Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ternyata dibuang ke sungai. "Tentu ini bertolak belakang dengan program pemkot Yogyakarta yang selalu menggembar-gemborkan lestarikan sungai. Di sisi lain dunia usaha diberi izin membuang limbah ke sungai meskipun di bawah baku mutu tapi kalau semakin hari semakin banyak bakal menumpuk juga," sesalnya.

Rekomendasi