Tri fokus kembangkan aplikasi mobile dan layanan data

Tri mencatat kenaikan pangsa pasar di bisnis seluler Indonesia menjadi 14,4% dari 11%.

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
Tri fokus kembangkan aplikasi mobile dan layanan data
Dolly Susanto. ©2016 merdeka.com/Fauzan Jamaludin

Bisnis telepon seluler Indonesia masih didominasi oleh tiga operator besar, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Indosat Tbk, dan PT XL Axiata Tbk. Ketiga operator yang disebut Big Three ini menguasai pangsa pasar hingga 80%. Sisanya diperebutkan dua operator lain, PT Hutchison 3 Indonesia dan PT Smartfren Telecom Tbk. Di tengah dominasi Big Three itu, operator 3 (baca: Tri) berhasil menyundul XL Axiata. Berdasarkan ranking yang dibuat GSMA Intelligence per kuartal III 2015, Tri mencatat kenaikan pangsa pasar di bisnis seluler Indonesia menjadi 14,4% dari 11%. Ini mengalahkan XL yang hanya mencatat pangsa pasar 14%, turun dari periode sama tahun lalu yang mencatat 20,6%. Jauh dari sorotan, rupanya operator yang dimiliki oleh CK Hutchison Holdings dan pengusaha Erick Thohir ini mencatat kinerja signifikan sepanjang tahun lalu. Untuk mengetahui lebih banyak pencapaian Tri di tahun lalu dan rencananya tahun ini, Fauzan Jamaludin dan M Syakur Usman dari KapanLagi Network (KLN) mewawancarai Dolly Susanto, Chief Sales & Marketing Officer (CSMO) PT Hutchison 3 Indonesia di kantornya yang resik, baru-baru ini. Berikut petikannya:

Bagaimana sebenarnya kinerja operator Tri di tahun lalu?Kinerja kami bagus. Indikatornya berasal dari jumlah pelanggan naik, revenue juga naik, jadi secara finansial kami mengalami pertumbuhan. Namun kami belum bisa disclosed soal angkanya. Karena menunggu dari group dulu, baru kami bisa ngomong. Biar group melakukan audit dulu, setelah itu anak-anak usahanya boleh ngomong. Per kuartal III 2015, kami sudah memperluas cakupan jaringan secara nasional, yang diperkuat hampir 39.000 unit based transceiver stations (BTS). Sinyal Tri telah melayani 86% penduduk Indonesia dan dinikmati oleh 55,4 juta pelanggannya. Penetrasi pengguna smartphone di jaringan Tri sudah mencapai hampir 80%. Jadi, kami akan terus melanjutkan komitmen untuk pertumbuhan dan pemberdayaan Indonesia dengan menghadirkan akses internet andal bagi lebih banyak masyarakat Indonesia. (Berdasarkan ranking yang dibuat WGSM Intelligence per kuartal III 2015, Tri mencatat kenaikan pangsa pasar di bisnis seluler Indonesia menjadi 14,4% dari 11%).Bagaimana dengan tahun ini dan apa fokus Tri?Pasar seluler Indonesia bakal terus tumbuh secara mobile data. Karena dari 250 juta penduduk Indonesia yang memakai telepon seluler, yang memakai data itu baru 102 juta penduduk. Cara yang paling cepat menggunakan mobil data, ya melalui media sosial seperti Facebook dan lain-lain. Kalau kami melihat saat ini, rasanya semua orang sudah menggunakan Facebook. Bahkan sampai ke daerah rural, masyarakat di sana juga sudah menggunakan Facebook. Pasar Indonesia itu akan tumbuh di layanan mobile data. Jadi sekarang Tri tetap fokus pada layanan mobile data. Nah, dengan adanya mobile data, maka aplikasi juga dibutuhkan. Berbeda dengan dulu, saat sebelum 2012, saat itu kan ada value added service (VAS) dari operator, tapi sekarang people talk about apps, sebagai pengganti layanan VAS. Jadi tahun ini kami fokus pada aplikasi dan pertumbuhan dari penggunaan layanan data. Jadi fokus kami akan tetap menjadi pionir di mobile data. Jaringan/network kami memang didesain untuk mobile data. Untuk aplikasi, kami akan membangun aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Namun, kami juga tetap terbuka melakukan kerja sama dengan banyak pihak soal aplikasi ini. Saat ini, kami sudah bekerja sama dengan berbagai pihak, sebut saja Boomer. Boomer adalah aplikasi yang dikhususkan untuk UKM go online. Kami juga mengembangkan aplikasi sendiri, tapi very coming soon untuk waktu peluncurannya. Tri adalah global company yang berbasis di Inggris. Ada enam negara di Eropa yang mana Tri juga punya layanan. Jadi di sana mungkin sudah banyak launching aplikasi yang mendukung. Pastinya aplikasi tersebut juga akan hadir di Indonesia. Kami sih ikut saja.(Berdasarkan laman perseroan, Tri Indonesia merupakan anggota dari kelompok usaha CK Hutchison Holdings. Grup ini menyediakan layanan telekomunikasi mobile di Indonesia, Vietnam, Sri Lanka, Australia, Austria, Denmark, Hong Kong, Irlandia, Italia, Makau, Swedia, dan Inggris). Apa strategi Tri untuk mendapatkan aplikasi yang menarik, terutama aplikasi lokal ?Kami juga melihat aplikasi lokal dan juga fokus ke aplikasi lokal. Kami mencari partner lokal yang bagus produknya, layaknya semua orang Indonesia tahu, kami kerja samakan. Jadi kami akan lebih senang, jika banyak juga aplikasi lokal yang bekerja sama dengan Tri. Konten dari kami sendiri dan dikembangkan oleh pengembang lokal adalah Bima Tri. Jadi berapa komposisi antara aplikasi lokal dan global yang akan diajak kerja sama? Kami tidak melihat hal itu ya. Sejauh aplikasi itu bagus, itu yang akan kami tawarkan kepada customer. Karena pada dasarnya customer tidak melihat dari sisi komposisi itu, tapi melihat sejauh mana aplikasi itu bagus atau menarik. Dan pastinya itu akan disesuaikan dengan profiling customer Tri. Meski perusahaan global, kami tetap akan mendukung konten lokal. Maksudnya, jika memang konten lokal lebih bagus, kenapa tidak kami ajak kerja sama? Jadi, banyak sekali kalau bicara konten lokal yang akan diajak kerja sama. Salah satunya, Alan. Alan adalah seorang penyanyi, tapi belum terkenal. Jadi dia menyanyi buat kami dan dijadikan sebagai ring back tone (RBT). Hal-hal seperti itu sudah dilakukan. Apapun yang bisa kami lakukan untuk Indonesia, pasti kami akan lakukan. Jadi, kalau misalnya, Anda punya kenalan yang memiliki aplikasi Indonesia dan bagus, kabari kami.Tiga operator besar sudah komersialisasi layanan 4G-LTE, kapan Tri?Secara network kami sedang membangun jaringan 4G-LTE, hampir 100 persen selesai. Lalu kami akan mencoba melakukan beberapa tes, setelah itu baru commercial launching. Intinya secara network, kami sudah siap lah. Rencananya di kuartal I atau II tahun ini, kami komersialisasi layanan 4G-LTE di Indonesia. (Berdasarkan informasi yang dihimpun, di tahap awal Tri segera meluncurkan layanan 4G di 5 kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Denpasar, Pontianak, Makassar, dan Batam. Sedangkan tiga operator besar seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata sudah mengomersialkan layanan 4G sejak akhir 2015)

Tri terkesan telat lakukan komersialisasi 4G, tidak seagresif operator kompetitor?Kami memang berbeda dengan operator lain. Kami selalu melihat customer lebih dahulu. Meski kami nomor dua terbesar di layanan mobile data setelah Telkomsel, sebenarnya masyarakat Indonesia itu masih banyak menggunakan layanan 3G. Dari sisi konsumen , mereka melihatnya tidak seperti itu, mau itu layanan 3G, 4G, 5G, 6G atau apalah. Bagi mereka yang terpenting adalah ingin memakai mobile internet cepat. Untuk menikmati layanan 4G kan juga harus didukung dengan device yang support dengan layanan tersebut. Kalau tidak pakai, juga kan tidak merasakan layanan 4G. Dan ketika menggunakan 4G, konsumen inginnya nyaman, jaringannya ada di mana-mana. Kami melihat, customer Tri itu pintar, jadi bagi mereka percuma saja kalau ternyata 4G tidak buat nyaman, misalnya. Dari sisi pendapatan, bagaimana gambaran kontribusi layanan data dibandingkan voice dan SMS? Layanan data kami lumayan besar kontribusinya. Sekitar 50-60 persen pendapatan dari data. Ini karena sejak awal Tri sebagai pionir mobile data, sehingga lumayan besar kontribusinya. Pemerintah berencana melelang spektrum di 2.100 MHz, apakah Tri tertarik?Secara sumber daya spektrum, kami memang sedikit, yakni 10 MHz di spektrum 1.800 MHz dan 10 MHz di spektrum 2.100 MHz. Padahal trafik data kami, setiap hari bisa menembus 1.200-1.300 Terabyte. Hal ini menjadikan Tri sebagai operator mobile internet terbesar kedua di Indonesia, setelah Telkomsel. Sementara total jumlah pelanggan seluler kami 55,4 juta pengguna, yang mana 60 persen adalah pelanggan data dan penetrasi smartphone di jaringan Tri 60% di atas rata rata industri. Dengan spektrum 10 MHz di 1.800 MHz dan 10 MHz di 2.100, kami bisa mengelola jaringan dengan efisien. Namun untuk jangka panjang, kami memerlukan spektrum tambahan dan kami layak untuk mendapatkan tambahan spektrum tersebut dari pemerintah.

Rekomendasi