Tak terasa puluhan langkah sudah dilewati Dwi Novrianto, petugas Petugas Penilik Jalan (PPJ) PT KAI. Di tengah gelap malam, sorot lampu senternya menumbuk pada pemandangan ganjil, tiga bantalan rel kereta api hancur. Dia lantas memberi tanda silang pada bantalan itu untuk diperbaiki. "Kita beri tanda silang, buat nanti dilakukan perbaikan tim satuan kerja yang bertugas selanjutnya," ujar Dwi Novrianto kepada merdeka.com di lokasi, pekan lalu di Jakarta. Dia menegaskan pekerjaan seperti itu butuh ketelitian.Dwi juga ikut melaporkan kerusakan-kerusakan setiap bagian jalan kereta api. Memang terlihat ringan, namun kerusakan kecil sekalipun dapat berakibat fatal bagi perjalanan kereta api sendiri. Lelaki berambut pendek itu mempunyai pedoman tugas untuk masing-masing kondisi jalur kereta api tersebut. "Kita juga menjalani pendidikan dan latihan bertahun-tahun," ujarnya.Mulai badan rel kereta, bantalan rel, batu balast dipelototi agar aman. Batu balast sendiri berfungsi untuk mengunci jalannya roda kereta api. Jika kondisi batu sudah berwarna putih dengan bentuk sudah oval, artinya batu dalam kategori kurang laik. "Kondisi batu harus berwarna abu-abu kehitaman, dengan bentuk kategori baik lancip atau per segi," kata Dwi. Di wilayah teritorial kerjanya, terdapat satu rangkaian rel wesel, dua bangunan hikmat berupa dua fly over, dua gorong-gorong, serta satu jalur lengkung kereta api. "Semuanya rawan menjadi rintangan jalan (rinja), apalagi di sepanjang wilayah saya tumbuh pohon randu dan beringin rawan tumbang," katanya.Kondisi pemukiman warga di sekitar rel kereta api ikut menyumbang kerusakan dan gangguan jalannya kereta api selama ini. Paling sering kelompok remaja tanggung di Jakarta melakukan tawuran antar kelompok di sekitar rel kereta dengan menggunakan batu balast. Atau kebanyakan sekadar iseng dengan melempar batu saat kereta melintas."Apalagi, masuk bulan puasa begini, mereka kayak punya jadwal tawuran sendiri pas waktu mau sahur. Saya pernah menangkap bocah belum lama ini lagi tawuran di rel kereta," ujarnya meninggi. Sanksinya tak begitu tegas, sang bocah hanya diberi hukuman fisik saat kejadian berlangsung."Saya suruh push up doang, habis itu diberi tahu bahaya dan kasih nasihat jangan diulangi lagi," ujarnya.Dalam pengalamannya bekerja sebagai PPJ, Dwi pernah menemukan adanya pencurian besi rel di beberapa meter wilayah kerjanya. Biasanya para pencuri mengincar rel besi berdiri setinggi setengah meter penyangga badan rel berisi penuh batu balast. Besi rel itu terdapat di sepanjang pinggiran jalan kereta api. "Kejadiannya tahun 2009, rel besinya dicuri, padahal berbahaya, jalannya bisa longsor, keretanya bisa anjlok," kata Dwi.Di kilometer 16, pada wilayah 2-3, sebuah papan informasi lengkung ikut berdiri di pinggir jalan rel kereta api. Dalam catatannya lengkap berisi mengenai setiap hitungan dengan istilah mulai dari besaran busur, radius, sudut, titik, anak panah, sampai lebar sepur."Jaraknya 300 meteran dari rel lengkung. Tidak boleh sampai berubah satu inchi pun, harus sesuai dengan hitungannya," kata Dwi tegas. Menurut dia lengkungan rel kereta api terdapat dua kategori, lengkungan penuh dan peralihan. Keduanya harus diperhatikan dengan teliti kondisinya setiap pemeriksaan. "Selain jalur lengkung, setiap sambungan harus diperhatikan, seperti rongga ruang muainya perlu dicek," kata pria yang mulai bekerja di PT Kereta Api Indonesia (KAI) sejak 1999 silam itu.Setiap kondisi pemeriksaan jalan rel kereta api juga mempunyai grafik perbaikan dengan waktu tak menentu. Semuanya terpampang hampir di seluruh stasiun Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta. Semuanya mempunyai jadwal masing-masing wilayah teritorial PPJ. Dalam grafik, semua wilayah sudah diberikan tandanya masing-masing."Kita mempunyai perkembangan laporan, dan melalui tanda hijau dalam kondisi jalurnya," kata Kepala Resort (KR) Petugas Penilik Jalan (PPJ) Kereta Api Indonesia, Joko Sutrisno.Dalam dunia kerjanya, para PPJ kereta api sangat mengandalkan kualitas sepatu dalam bertugas sehari-hari. Sudah puluhan pasang sepatu rusak dalam menjalankan tugasnya. Biasanya jenis sepatu bot menjadi incaran petugas seperti Dwi. "Sudah enggak hafal berapa kali ganti sepatu, keluhan kita cuma sepatu aja, pemberian kantor saja suka tak awet, cepat jebol juga," ujar Dwi sembari tertawa.