Merajut asa perempuan yang terluka

"Di kamar saya cuma bermonolog ria," katanya.

Pramirvan Datu Aprillatu
Merajut asa perempuan yang terluka
Merajut asa perempuan yang terluka

Hidupnya seperti hancur. Semua asa sirna setelah kejadian memilukan itu menimpanya. Seorang teman lelakinya tega melakukan rudapaksa di lingkungan kampusnya. Ar, demikian inisial namanya. Dia harus berjuang keras melawan kegetiran hidup setelah keperawanannya direnggut. Perkosaan itu terjadi setahun silam. Setelah peristiwa itu, dia tak pernah bisa memberitahu siapapun. Ketakutan melanda pribadinya. Apalagi, ketika semua terkuak, tudingan-tudingan miring dan memojokkan dia terima. Benar saja, tudingan; 'suka sama suka', dan bukan perkosaan masuk ke telinganya. Padahal Ar adalah korban. Namun demikian, dukungan moral datang dari teman karib dan keluarga. Mereka terus merangkul Ar bersama-sama, dan memotivasinya agar bangkit dari pengalaman yang menjerihkan itu."Beruntung saya punya teman dan keluarga yang terus mendukung, mereka seperti kotak P3K buat saya," kata wanita kelahiran 1993 itu kepada merdeka.com di Jakarta pekan lalu. Banyak dukungan moral membuat secercah harapannya kembali timbul. "Kamu tidak bersalah," ujarnya mengingat.Tak pernah mudah menghadapi peristiwa itu. Segala sisi dalam pribadinya mulai dirangkai satu per satu kembali. Hari demi hari dilewati sendiri. Seperti orang hilang akal, dia kerap berbicara kepada dirinya sendiri. "Di kamar saya cuma bermonolog ria," katanya.Sampai detik ini, Ar masih terus bergulat menata hidup. Salah satu terapi yang dia pakai dengan membaca buku. Buku-buku motivator dan novel epik menjadi cambuk penyemangat hidup. Refleksi hidupnya kembali terbit setelah menelan habis buku novel berjudul 'perempuan di titik nol'. Buku dengan kritik sosial keras dan pedas."Dari situ awalnya, saya jadi relawan memberanikan diri bergabung di yayasan yang berkonsentrasi untuk perempuan dan anak," ujarnya meninggi. Menurut dia tokoh Firdaus dalam buku itu membuatnya tak sendiri menghadapi semuanya.Dia mengamini kalau peristiwa menimpanya masih dipandang sebelah mata oleh aparat maupun civitas akademi di tempatnya. Sebagai perempuan aktif di kalangan kampus, dia merasakan ketidakadilan itu. "Sampai sekarang saya tak jadi melapor," katanya.Dia terus menatap ke depan walau peristiwanya terus menghantui sampai kapan pun. Sedari mantap memilih menjadi seorang pengajar, sampai sekarang dia masih menggenggam cita-citanya itu. "Saya ingin sekali kuliah di jurusan pendidikan luar biasa, setelah kejadian, Afrika Selatan jadi tujuan saya," ujarnya. Ar mengetahui kalau kekerasan seksual tertinggi ada di benua hitam tersebut. "Saya dibuat mengerti. Saya sudah tahu, apa yang saya bisa saya lakukan di Afrika Selatan dan kenapa saya merasa senang mengenal anak dengan disabilitas. Bukankah saya sedang begitu dekat dengan mimpi-mimpi saya?"Curhatan Ar itu seperti membuka lembaran peristiwa kelam masa lalunya. Melawan diri sendiri, kata dia, adalah hal tersulit. Terbata-bata dia bercerita, pada akhirnya kisah itu deras mengalir pasti. Sampai sekarang dia sedang memulihkan kepercayaan diri."Tidak mudah, tapi aku lalui prosesnya, setahun lewat sudah dan masih harus berjuang," ujarnya mantap. Ar sekarang menjadi konselor bagi komunitas perempuan dan remaja di wilayah Sumatera. Baginya mimpi menjadi seorang pendidik mulai terbuka lebar. Ar kini berjuang menutup trauma merakit mimpi dalam kisah hidupnya.

Rekomendasi